Susah payah Faye menelan cairan itu, menahan rasa mual dan jijik demi menyenangkan suasana hati Xander. Sementara pria di sebelahnya mendesah puas, menampar pipi Faye cukup kuat hingga gadis itu melenguh kesakitan.
“Telan! Jangan ada sisa!” gertak Xander. Faye yang ketakutan tak punya pilihan lain. Ia menjilati sisa-sisa cairan tadi di sekitar kejantanan Xander. Bersih, mengkilap, tanpa jejak.
“Good girl. Ini adalah hukuman untukmu setiap kali berbuat salah atau membuatku cemburu. Jadi, jangan lakukan lagi kalau masih sayang nyawa sendiri!” ujar Xander lalu bangkit, memakai pakaiannya kembali. Faye menggeram, meminta dilepaskan. Namun, Xander seolah tuli, ia hanya memikirkan dirinya sendiri.
“Kamu harus tidur dengan borgol itu sampai esok. Besok pagi aku datang dan membebaskanmu,” katanya santai, seolah tanpa beban. Faye berteriak, mengumpati Xander lagi. Sayangnya pria itu tidak terpengaruh kata-kata kasar sang kekasih.
Ah, intinya suasana hati pria itu perlahan membaik. Mungkin masalah tadi bisa ia lupakan, tapi tidak dengan Faye yang menjadi korban.
Tidak ada harapan begitu Xander melangkah ke pintu dan meninggalkan Faye seorang diri di sana. Pergelangan tangannya lecet dan memerah. Kakinya juga mulai terasa pegal karena sejak tadi terbuka lebar. Udara dingin yang menyapa area sensitifnya membuat Faye menggigil. Betapa teganya Xander pergi begitu saja, membiarkan Faye melawan rasa takut dan dingin itu seorang diri.
“b******n, laki-laki b******n! Ingat, Xander. Kamu punya adik perempuan! Jangan sampai karma dariku menurun ke adikmu itu!” batinnya mengutuk. Lelah sudah dirinya memberontak, berharap borgol itu rusak dan terbuka. Sayangnya semakin ia bergerak, semakin sakit juga luka yang diderita.
Gadis itu menelan ludah, menelan kepahitan yang tak pernah disangka-sangka. Waktu yang ditunggu-tunggu terlalu lama terasa. Akhirnya hanya bisa menangis, sesenggukan menunggu bantuan yang mustahil datang. Tiada pertolongan kecuali manusia biadab itu sendiri.
Detik demi detik berlalu, penampilan Faye benar-benar memperihatinkan. Rambut acak-acakan, make-up sisa semalam yang berantakan, juga pakaian bertebaran di bawah ranjang. Saking banyaknya air mata hasil jerit tangis itu, maskara yang ia pakai luntur membentuk anak sungai kecil di pipinya. Faye menggeram, mengepal tangan. Ingin rasanya membalas dendam, tapi bukankah kejadian ini adalah karma untuknya juga?
“Good morning, Honey. Bagaimana tidurmu semalam, Sayang?”
Suara itu familiar di telinganya. Faye menoleh cepat, matanya yang memerah dan berair terlihat jelas dari kejauhan. Xander menutup pintu, berjalan mendekati Faye yang terbaring lemah di ranjang. Secara perlahan, ia membuka borgol itu, lalu menyelimuti sang kekasih dengan kain di sebelahnya.
Faye duduk meringkuk, menunduk enggan menatap Xander. Monster di depannya ini tak layak diberi maaf berkali-kali. Namun, entah teknik manipulasi apa yang membuat hati Faye selalu luluh lantah. Setahun berpacaran, berkali-kali pula menerima sakit dan trauma.
“Sayang, tanganmu? Tanganmu terluka separah ini?” tanya Xander menatap iba. Matanya yang berkaca-kaca membuat emosi Faye sedikit menurun.
Ia tidak menjawab. Tanpa dijelaskan pun, Xander sudah tahu apa penyebabnya.
“Maaf, Sayang. Maaf. Seharusnya aku tidak melakukan penyiksaan ini. Tunggu, biar aku obati. Kamu diam saja dan pakai bajumu.” Xander bangkit, buru-buru mencari kotak P3K di laci nakas sebelah kasur. Kotak putih itu ia bawa ke ranjang, lalu mencari obat lecet dan pegal-pegal.
“Awww,” keluh Faye ketika salep itu menyentuh area lukanya. Xander meniup-niup, hangat terasa di sana.
“Maaf, aku lebih pelan lagi, ya. Tahan sedikit,” ucap Xander. Faye terus meringis menahan perih, tapi tidak ada yang bisa menyembunyikan pedih di hatinya karena Xander.
“Nah, sudah. Semoga cepat sembuh. Maaf, ya. Mungkin aku terlalu kasar padamu,” ujar Xander mengelus pipi Faye.
“Kamu memang kasar, Xan. Tidak usah mengelak begitu. Setiap kali marah, kamu pasti menyiksaku. Tega pula kamu meninggalkanku di sini dalam keadaan telanjang dan terborgol,” kata Faye lalu menghela napas.
“Tidak, aku tidak kasar. Ini semua kesalahanmu. Aku marah pasti ada alasannya dan kamu membuatku marah saat itu. Jadi, apa salahnya aku bereaksi?” balas Xander tak mau disudutkan. Selalu terjadi seperti ini dan Faye paham polanya.
“Ck, biarlah. Aku sudah terbiasa. Setidaknya kamu berpikir, Xan. Kesalahan apa pun, apakah pantas membalasnya sekejam ini? Aku kekasihmu, bukan musuh!” tegas Faye. Bukannya diam dan merenungi kesalahan, pria itu malah bangkit sambil tertawa kencang.
“Dasar bodoh. Ketika sedang marah, di mata seorang pria, tidak ada bedanya. Mau kekasih, istri, anak sekalipun. Jadi, berhentilah merasa paling spesial di hidup orang lain, Faye.”
Sakit, sungguh sakit. Bagai diiris sembilu, diremuk-remuk hingga hancur tak bersisa. Faye memilih diam setelah itu, tak siap mendengar kalimat defensif Xander yang tak ada habisnya. Usai memakai baju dan membersihkan ranjang, Faye turun ke dapur untuk mengambil air. Xander mengikuti dari belakang. Pria itu lebih tampak seperti mata-mata daripada pacar.
“Mau makan apa? Biar aku pesankan. Jangan sampai tidak sarapan sebelum ke kantor,” tanya Xander duduk santai di sofa depan televisi. Faye enggan membalas beberapa detik karena tetiba saja perutnya terasa mual.
Ia berlari cepat menuju wastafel dan memuntahkan isi perutnya. Faye lemas, tersungkur di dinding sambil berteriak memanggil Xander. Sigap, pria itu datang menghampiri, lengkap dengan ekspresi cemasnya.
“Sayang?! Ada apa? Kamu sakit? Ayo ke rumah sakit sekarang!”
Faye menggeleng, menunjuk botol minum di meja makan. Paham, Xander segera mengambilkan botol itu untuknya.
“Kamu sakit? Apa yang tidak enak?” tanya Xander sekali lagi. Faye menggeleng cepat, tapi matanya mulai terasa berat. Perutnya kini kosong, tenaganya benar-benar hilang. Xander menyentuh kening Faye dan merasa kehangatan di sana.
“Sayang, kamu demam. Ayo ikut aku.”
“Tidak usah ke rumah sakit. Aku baik-baik saja, Xan. Bantu papah saja ke kamar.”
“Oke.”
Ia memilih tetap berada di sini, enggan memberi tahu seluruh dunia tentang sakitnya. Takut jika orang lain tahu, amarah Xander semakin menjadi-jadi. Lagipula hanya demam biasa. Izin libur selama 2 hari pun sudah cukup baginya.
“Istirahat. Aku keluar cari makanan dan obat untukmu. Kalau ada apa-apa telepon saja. Okay?”
“Iya, Xan. Terima kasih.”
“Good girl. Aku pergi dulu.”
Sepeninggal Xander dari pandangannya, seketika tangis Faye luruh lagi. Untuk apa mulutnya ringan mengucap terima kasih, padahal karena ialah penderitaan ini tercipta. Namun, Faye telanjur dijebak. Ia tidak punya pilihan lain selain melanjutkan sisa hidupnya di bawah kendali Xander.
Ia baik, terlihat sangat mencintai Faye. Namun, terkadang di sisi lain, sifatnya berubah begitu jahat dan manipulatif. Belum lagi obsesi dan keharusan memiliki seorang diri. Tiada yang boleh mengusik seorang Faye. Lalat yang tidak sengaja hinggap di pundak Faye saja langsung dihabisi saat itu juga.
Beberapa menit kemudian, Xander datang membawa dua plastik di tangannya. Satu makanan, satunya lagi obat-obatan. Xander membuka bungkus makanan itu dan menyuapi Faye pelan-pelan. Sangat hati-hati, penuh perhatian. Di saat seperti inilah Faye merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.
“Minum obatnya.” Xander menyerahkan segelas air dan 2 butir obat. Faye minum patuh, lalu menyandarkan dirinya di kepala ranjang. Dengan telaten Xander menyelimuti Faye lagi, memastikan gadis itu tidak kedinginan.
Berbeda jauh dengan semalam, di mana dinginnya malam menusuk tulang.
“Aku sudah izin ke atasanmu. Kamu boleh libur 3 hari,” kata Xander. Seketika Faye menoleh, menatapnya penuh tanda tanya. Semudah itu?
“Kok bisa? Biasanya susah sekali minta izin ke beliau.”
“Haha, bisa. Lihat dulu aku siapa. Berani membantah, habis nyawa mereka di tanganku. Jadi, santai saja. Kamu bisa istirahat di sini.”
Ya, sebagai salah satu investor dan pemilik perusahaan ternama, sosok Xander memang tak asing di telinga para pengusaha. Hadirnya yang disegani, juga menjadi momok menakutkan. Selain tampan, ia juga terkenal cuek pada wanita lain selain Faye, menjadi nilai plus tersendiri.
Andaikata mereka tahu bahwa Xander dulunya mantan cassanova.
***
Sore hari apartemen Faye disinari cahaya jingga kemerahan dari luar. Ia berdiri di balkon, menikmati secangkir teh hijau hangat buatan Xander barusan. Pria itu izin keluar beberapa menit saja, tapi sampai sekarang belum kembali juga. Faye tidak mencari, ia menikmati kesendirian ini tanpa kehadiran Xander.
Hingga suara langkah kaki bersahutan membuat kepalanya menoleh cepat ke belakang. Xander sudah pulang, tapi tidak sendirian. Ada Liora dan Kenneth mengekor di kiri kanannya.
Seketika mata Faye membelalak. Ia belum sempat menutupi bekas luka ini. Secepat kilat menutupi pergelangan tangannya dengan lengan hoodie yang panjang. Berharap kedua sahabatnya tidak mempermasalahkan.
“Fayeee!” teriak Kenneth.
“Fay, aku dapat kabar dari bos kalau kamu sakit. Lalu aku tanya ke Xander dan ternyata itu benar. Makanya sepulang dari kantor, kami datang ke sini. Bagaimana keadaanmu? Sakit apa? Sudah ke dokter?” tanya Liora beruntun. Tatapan Faye tertuju kepada Xander sejenak, lalu tersenyum paksa.
“Ah, biasa saja. Hanya demam karena kelelahan dan masuk angin. Sepulang dari resto itu ‘kan aku pulangnya memang larut malam,” jawab Faye berbohong. Liora mendelik, seperti memindai seluruh tubuh Faye dengan kemampuan menelitinya.
“Hm, terus ini apa?” tanya Liora menyentuh goresan di pipi Faye.
“Oh ... ini. Tadi pagi aku lihat ada kucing bertengkar di luar apart. Aku panik dan langsung memisahkan mereka. Eh, tidak sengaja cakarnya melukai pipiku,” jelas Faye gugup. Liora semakin memicingkan mata, menaruh curiga.
“Oh, ya? Kalau tidak salah ingat, bekas luka ini sudah ada di malam kita makan di resto. Setelah kamu kembali dari toilet. Aku lupa menanyakan itu.”
Faye menelan ludah, kemampuan berbohongnya memang sangat buruk. Xander mendesah kesal, mengutuk Faye yang sangat payah memainkan perannya.
“Faye memang punya bekas luka di pipinya. Selama ini ditutupi make-up. Sekarang karena cakaran kucing itu, lukanya terbuka lagi. Tidak masalah, lama-lama juga sembuh. Aku punya banyak salep pemudar bekas luka,” kata Xander tiba-tiba.
“Ah, iyaaa. Baguslah kalau begitu. Lain kali hati-hati, Fay.” Liora yang terbiasa menggenggam pergelangan tangan Faye pun seketika ikut terkejut begitu Faye berteriak kesakitan.
“Awww.”
“Eh, ada apa, Fay?”
“Cih, dasar wanita pembawa sial! Tunggu balasanku setelah mereka pulang!”