Faye 4

1607 Kata
“Ada apa? Mengapa kamu berteriak?” tanya Liora syok. Jantung Faye seketika berdetak lebih cepat, napasnya mendadak tersengal hebat. Di antara ketiga tatapan tajam di hadapannya, Faye lebih takut berhadapan langsung dengan Xander. Ia memang terlihat santai, tetapi Faye hapal dari deru napas pria itu. Pandangan dingin lurus, dengan postur tubuh tegap di sisi dinding. Mengamati gerak-gerik sang kekasih, pun merekam setiap ucapan. Ia menahan amarah, bersiap menyiksa Faye kesekian kalinya. “Ti-tidak. Ini hanya terkilir,” jawabnya gugup, menyembunyikan tangannya di balik lengan hoodie yang panjang. Senyum yang terpaksa itu mudah dibaca oleh Kenneth. Namun, ia memilih diam dan mengamati sampai akhirnya berjalan mendekat. “Serius hanya demam? Wajahmu sangat pucat, Fay. Kamu seperti kekurangan darah. Atau bagaimana kualitas tidurmu belakangan?” tanya Kenneth dengan tatapan mengiba. Ia menyentuh kedua pundak Faye, memastikan gadis itu baik-baik saja. Faye menelan ludah, menahan air mata. Rasanya ingin berlari ke pelukan sahabatnya dan mencurahkan semua resah gelisah. Sayang sekali, semua hanya angan-angan mimpi. Ia disandera, entah sampai kapan terkurung dalam sangkar. Sayapnya tak lagi mampu terbang tinggi, selalu dilukai dan dijahit berulang kali. “Iya, serius,” sahut Faye cepat, terkesan buru-buru. Tatapannya yang kosong sempat melirik ke arah Xander. “Hm, kamu tidak berbohong, ‘kan? Ayolah, jangan takut. Semua luka ini rasanya tidak biasa, Fay. Atau bisa jadi karena terkilir ini kamu jadi demam? Cepat periksa, Fay, bahaya!” pungkas Liora masih tidak percaya. “Apanya yang tidak biasa, Ra? Aku sebagai pacarnya saja bingung mengapa belakangan ini Faye terlalu ceroboh. Entah berapa banyak barang yang rusak karena keteledorannya,” celetuk Xander tiba-tiba. Liora melirik tipis, lalu menghela napas panjang. “Tidak. Ini tidak benar. Kamu ….” Ucapannya terhenti sejenak karena terdengar dering telepon yang cukup keras. Liora buru-buru meraih ponselnya di tas. Ia sempat terdiam menatap Faye setelah tahu siapa yang memanggilnya. “Siapa, Ra?” tanya Faye penasaran. “Pak Aiden,” jawab Liora berbisik. Faye manggut-manggut, membiarkan Liora menjawab panggilan itu dulu. “Halo, Pak?” “Oh, iya, Pak. Sekarang? Saya sedang menjenguk Faye, Pak.” “Baik, saya ke kantor sekarang.” Panggilan itu berakhir. Liora menatap sahabatnya bergantian, lalu mendesah pelan. “Kenapa?” tanya Kenneth penuh selidik. “Pak Aiden menyuruhku membawakan berkas ke kantornya.” “Sekarang?” “Iya. Ada calon investor berkunjung juga. Mungkin sekalian.” “Oh, ya sudah. Tidak apa-apa, Ra. Kamu bisa datang besok lagi. Tugas dari Pak Aiden lebih penting,” ujar Faye menghela napas lega. Setidaknya ia terbebas dari situasi yang memaksanya terus berpura-pura. “Hm, sayang sekali. Baiklah. Kalau begitu kami berdua pamit dulu. Kamu jaga makan dan minum obat. Xander, tolong rawat sahabatku baik-baik, ya. Kalau sampai terjadi sesuatu, jangan harap kamu bisa bernapas keesokan harinya,” ancam Liora dengan nada bercanda. Xander tertawa paksa, melempar senyum munafiknya. “Siap. Stay safe, Guys. Hati-hati di jalan.” Beberapa menit kemudian, Liora dan Kenneth benar-benar pergi. Faye menatap dua punggung itu dari kejauhan. Lambat laun hilang ditelan waktu, bersamaan dengan pintu apart yang terkunci mengikuti perintah tuannya. Seketika suasana berubah. Faye bahkan belum sempat bergerak ketika Xander melayangkan tamparan ke pipi kirinya. Tubuh Faye langsung terhuyung, nyaris terjatuh andai saja ia tak menahan dirinya. “Dasar bodoh!” bentak Xander. “Xan, a-aku ….” Faye memegang pipinya yang memerah dan pedih. Sayang sekali, Xander seolah tidak peduli. “Aktingmu itu buruk sekali! Kamu pikir mereka tidak curiga?!” gertaknya menjambak rambut Faye agar kembali bangkit. Faye meringis menahan sakit. Air matanya bahkan luruh menganaksungai, menambah perih di bekas tamparan itu. “Maaf, aku sudah berusaha, Xan. Ampuni aku …,” mohonnya mencengkeram tangan Xander. “Berusaha? Itu yang kamu bilang usaha? Dengan wajah panik seperti itu? Dengan jawaban yang tidak konsisten? Bodoh!” “A-aku tidak sengaja. Aku takut, Xan!” kilah Faye gemetar hebat. “Takut?” Xander mendekat, tangannya yang semula menjambak beralih mencengkeram dagu gadis itu kasar. “Atau memang kamu sengaja? Hm? Supaya mereka tahu semua kebusukanku?” “Tidak, Xan! Sungguh demi Tuhan, aku tidak pernah berpikiran seperti itu! Maafkan aku, Xan. Aku minta ampun!” Pria berhati iblis itu tidak peduli. Melihat betapa kacaunya penampilan Faye saat ini, sama sekali tidak menggerakkan hati busuknya. Satu dorongan kuat saja membuat tubuh ringkih itu jatuh ke lantai. “Percuma minta maaf kalau tetap membuat masalah! Setiap hari maaf dan maaf saja!” teriak Xander. “Maaf, Xan. Aku janji tidak mengulanginya lagi,” ucap Faye dengan suara parau. Lelehan air mata itu terlalu banyak, membuat matanya bengkak. Sayang sekali, hal itu tidak membuat Xander iba. Ia menarik paksa tangan Faye, lalu berjalan menuju kamar. “Xan, a-apa ini? Apa yang akan kamu lakukan? Aku mohon jangan lagi, Xan! Aku masih sakit!” Faye mencoba menahan, tapi tenaganya tak sebanding. Tanpa balasan, pintu kamar dibuka, lalu gadis itu didorong masuk. “Diam di sini!” teriak Xander. Faye mendobrak pintu dari dalam sana, mencoba melepaskan diri. “Kumohon jangan kurung aku, Xan. Aku benar-benar minta maaf!” Suaranya melemah, diiringi tangis yang tak pernah usai. Xander membisu lagi, hanya terdengar suara kunci yang diputar dari luar. Hancur sudah, lenyaplah harapannya. Ia terduduk di lantai, memeluk lututnya. Air mata terus mengalir, membasahi pipinya yang masih sakit. Pukulan Xander terlalu keras, tidak pantas seorang Faye mendapatkan perlakuan itu. Seharian tanpa makan dan minum, tubuhnya semakin lemah. Perut mulai perih karena gangguan lambung, belum lagi tenggorokannya kering. Bibirnya mengelupas, mengeluarkan darah ketika ia iseng menyentuh kulit kering itu. “Please.” Ia mengiba, meminta bantuan pada saksi bisu di sekitarnya. Bahkan sekadar mengangkat tangan untuk menopang tubuh saja ia tak sanggup. Sampai akhirnya ia teringat sesuatu. Dengan sisa tenaga yang ada, ia merangkak ke samping nakas dekat ranjang. Di sana tergeletak tas belanja berisi roti dan air mineral. “Terima kasih,” gumamnya lirih, entah kepada siapa. Ia makan pelan-pelan, minum dengan hati-hati. Tak masalah di bungkus itu tertera tanggal kadaluarsa telah lewat 3 hari. Setidaknya ia bisa makan, tenggorokannya kembali segar. Meski bibirnya terasa perih karena bekas luka tadi, ia tidak banyak mengeluh. Cukup tangisnya yang meredam sakit malam itu. *** Tak terasa, malam tiba. Ia masih di posisi yang sama, menggenggam kuat bungkus roti dan botol yang telah lama kosong. Di titik ini, Faye berharap ajal segera menjemput. Ia ingin terbebas dari iblis berwujud manusia itu, untuk selama-lamanya. Namun, sayang, pintu kamar akhirnya terbuka. Faye spontan menoleh, tangannya mengepal kuat tanda trauma. Hatinya menebak curiga, apa lagi yang Xander lakukan sekarang? Siksaan apa lagi yang membuatnya hidup di kubangan neraka? “Faye,” lirihnya. Pria itu berdiri di sana, menatap Faye yang lebih pantas disebut anak gelandangan, padahal hidupnya berkecukupan. Dan di luar dugaan, Xander berlari kecil mendekat, memeluknya erat. Gerakan yang terlalu tiba-tiba itu membuat Faye terkesiap. “Aku minta maaf, Sayang, aku minta maaf!” katanya berulang kali. Faye menelan ludah. Tubuhnya terdiam kaku di pelukan itu. Pelukan yang baginya tidak ada kehangatan sama sekali. Justru semakin menusuk belati lebih dalam ke relung hati kecilnya. “Aku khilaf, aku terlalu emosional. Aku sama sekali tidak berniat menyakitimu, Sayang. Mana yang sakit? Biar aku lihat,” ucap Xander. Ia mengelus rambut Faye, merapikannya dengan jemari tangannya. Tak sampai di situ, ia mengusap pipi bekas ditampar tadi. “Bibirmu terluka?” tanya Xander dengan mata memicing. “Iya, karena kering dan akhirnya terkelupas,” jawab Faye lemah. Berharap Xander paham semua ini terjadi akibat perlakuannya. Ah, sama saja. Sadar diri dan menyesal tiada gunanya bila ia terus mengulangi. “Ayo, kamu pasti lapar. Aku sudah bawakan makan dan minum untukmu. Minum yang banyak supaya bibirmu tidak berdarah lagi.” Ia membantu Faye duduk di ranjang, lalu mengambil makanan yang sudah ia bawa. Dengan sabar, Xander menyuapi Faye sedikit demi sedikit, diselingi minum air. Beberapa kali Faye terbatuk, tapi Xander seolah tidak mempermasalahkan hal itu. “Pelan-pelan. Nanti tersedak,” katanya. Faye berhenti mengunyah, mengusap air matanya yang turun begitu saja. “Ada apa, Sayang? Makanannya kurang enak? Mau dipesankan apa?” tanya Xander beruntun. Faye menggeleng, menundukkan kepala. Ia tak berani berbicara meski lidahnya gatal ingin mengungkapkan segala rasa. “Atau ingin minum sesuatu?” Faye menggeleng lagi dan di saat inilah kesabaran Xander kembali diuji. Tanpa kata, ia membanting piring itu ke lantai hingga pecah berhamburan. Faye terkesiap, ia mundur perlahan menjauhi Xander yang kesetanan. “Bodoh. Maumu apa? Aku sudah datang jauh-jauh, membawakan makanan untukmu. Paham bahwa kamu sedang sakit. Usahaku malah disia-siakan begini? Dasar perempuan sial!” bentak Xander membuat mental Faye ciut. Ia merunduk takut, memeluk lututnya erat. Xander kepalang emosi, menarik tangan Faye paksa hingga gadis itu melenguh sakit. “Lepas, Xan!” “Diam, Jalang!” “Kamu yang jalang, pengecut!” Faye akhirnya meledak, napasnya terengah-engah. Ia menatap tajam ke arah Xander yang sedikit terkejut mendengar balasan itu. “Apa kamu tidak lelah bersikap seperti ini? Aku yang menjadi korbannya saja lelah setengah mati! Berbuat salah seenakmu, lalu minta maaf dan membujukku. Setelah itu, kembali lagi menyiksaku. Lepaskan aku, Xan. Aku mau putus!” “Ck, putus? Tidak semudah itu, Sayangku. Karena sekarang kamu berani melawan dan membuat suasana hatiku semakin buruk, sekarang habiskan makananmu di lantai itu!” “Apa? Kamu gila?!” “CEPAT!” Faye menggeram kesal, membayangkan dirinya yang diperlakukan seperti binatang. Ia turun perlahan, meraih sisa-sisa makanan berceceran itu dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya menyingkirkan pecahan beling. Sudah hati-hati pun, tetap saja berdarah, tapi Xander acuh tak acuh. Ia mendorong leher Faye, memaksanya menjilati sisa makanan di lantai. “Aku mendapatkanmu dengan susah payah demi membalas dendam masa lalu kita. Bagaimana rasanya, Sayang? Bagaimana rasanya menjadi korban perundungan? Ke mana sosok Faye yang sok berkuasa dan suka menindas orang lain itu? Hm?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN