Faye 5

1600 Kata
“Oh, jadi ini si anak baru itu? Aku kira tampan dan kaya raya, ternyata jelek dan bau anak kampung. Katakan, kamu dari desa mana? Mengapa bisa masuk ke sekolah terpandang ini?” Belum ada lima menit duduk di kursinya, seorang remaja laki-laki itu langsung mendapat kalimat perundungan dari teman sekelas. Xander kecil yang tidak tahu apa-apa itu hanya menatap kosong, penuh iba. Sementara gadis-gadis di depannya terlihat sok berkuasa dengan nada-nada tingginya. Tangan Xander mengepal kuat, membentuk pertahanan diri atas ancaman di depan mata yang mungkin saja terjadi tanpa aba-aba. Faye dan ketiga sahabatnya itu berdiri sambil berkacak pinggang, mencondongkan tubuhnya di hadapan Xander. Mereka mengintimidasi, tidak suka ada yang mencari perhatian di kelas ini. “Kalian mau apa? Aku anak pindahan program pertukaran pelajar,” jawab Xander gugup. Faye memicing, tawa sinisnya itu memecah ruang kelas yang sebelumnya hening. “Ck, jadi kamu adalah murid yang dianggap pintar, begitu? Haha, kita lihat saja nanti. Siapa yang akan jadi juara umum di angkatan tahun ini. Kita buat kesepakatan saja, Tuan Cupu. Jika kamu yang menjadi juara umum, maka kamu bebas melakukan apa saja untukku. Sebaliknya, jika salah satu di antara kami berempat yang menduduki posisi itu, maka kamu yang harus mengikuti semua kemauan kami. Setuju?” jelas Faye diikuti sorak sorai dari ketiga temannya. Xander menelan ludah, tangannya mulai gemetar menahan takut. Ia tidak menyangka akan dihadapkan situasi mencekam ini. Dari cara bicara dan penampilan, Xander paham mereka berempat bukan murid biasa. “Untuk apa aku menyepakati hal itu? Aku di sini ingin belajar dan bersaing secara sehat. Kalian saja yang berjanji, aku tidak mau,” tolak Xander mentah-mentah, membuat emosi Faye yang tadinya stabil, mendadak naik ke ubun-ubun. “Wow, berani sekali Tuan Cupu ini menolak kemauan princess kita,” cibir Lyonere. Ia mendekat, lalu mencengkeram pipi Xander hingga lelaki itu meringis sakit. “Hei, kamu tahu siapa dia? Faye Estelle, anak dari pemilik saham dan donatur terkaya di sekolah ini. Kamu sebagai rakyat jelata tidak pantas menolak keinginan Faye. Kecuali kamu mau menjadi b***k kami selamanya, itu beda cerita,” sambung gadis itu angkuh. “Sudah, lepaskan, Lyon. Kamu jangan terlalu kejam. Dia bahkan belum genap sehari di kelas ini. Jangan membuatnya trauma dan memilih bunuh diri di jembatan,” cibir Faye lalu tertawa kencang. Lyonere melepas cengkeraman, lalu membuang pandang. Ia merasa jijik dan geli melihat penampilan seorang Xander. Kerah dikancing penuh sampai leher, kacamata hitam besar dengan frame tebal, ditambah rambut disisir rapi belah tengah tanpa poni. Ya, sekilas memang wajar untuk seukuran anak sekolah. Namun, bagi Faye yang terbiasa memandang laki-laki tampan di kelasnya, ia merasa Xander adalah standar yang paling rendah. “Kami tunggu jawabanmu atas kesepakatan barusan, Tuan Cupu. Jika tidak, kami mungkin bisa melakukan sesuatu sampai kamu mau,” ucap Gabriel. Faye mengusap hidungnya, menatap elang ke arah Xander yang terlihat ketakutan. “Ya, padahal sederhana. Selagi patuh pada kami, semua kebutuhanmu akan tercukupi di sini. Kamu ingin meminta revisi nilai pun bisa kami kabulkan,” balas Faye. Xander menunduk, matanya mulai mencari-cari siapa yang bisa dimintai bantuan. Sayangnya, keempat gadis penguasa sekolah itu tidak mempunyai lawan setara. Mereka selalu menindas dengan memanfaatkan status keluarganya yang kaya raya dan terpandang. “Fay, sepertinya dia benar-benar cupu dan pengecut,” tegur Gabriel menahan tawa. Matanya menunjuk sesuatu di bawah kursi Xander dan seketika tawa mereka pecah. “What? Ketakutan macam apa sampai dia buang air kecil? Ewh, jorok sekali!” balas Faye menutup hidung, lalu pergi menjauh. Ketiga sahabatnya menyusul, meninggalkan Xander seorang diri di kursinya dengan celana basah karena air kencingnya sendiri. Separah itu trauma psikologis yang ia alami, padahal baru hari pertama masuk sekolah. Sementara pelakunya asik tertawa dan menikmati kejahilan mereka. *** “Woy, Cupu! Mana jawabanmu? Setuju atau tidak? Jangan sampai kami melakukan sedikit kekerasan, ya. Tinggal jawab ‘iya’ saja apa susahnya?” gertak Taylor menggebrak meja Xander sesaat setelah guru keluar kelas. Xander yang belum sepenuhnya terlepas dari sisa-sisa pembelajaran barusan langsung memberi tatapan tajam. Ia bahkan belum sempat minum, tapi gank pengacau itu segera mendatanginya. “Jawaban atas apa?” tanya Xander berpura-pura lupa. “Wow, sekarang dia amnesia. Jangan jadi laki-laki bodoh dan sok polos, ya! Langsung jawab atau kami sebar foto-foto kamu yang kencing di celana ke grup angkatan!” ancam Gabriel menunjukkan deretan foto di layar ponselnya. Seketika tubuh Xander menegang, ingin meraih benda itu dari Gabriel. “Eitsss, tidak boleh, Cupu. Tinggal satu tap saja dan semua foto ini terkirim. Jadi, bagaimana? Masih mau terima tantangan atau tidak?” Xander mulai frustrasi. Di kelas ini rahasia memalukan dirinya sudah diketahui sebagian besar siswa. Jika sampai tersebar ke satu sekolah, ia mungkin takut melangkah masuk ke kelas karena jadi bulan-bulanan mereka. Namun, menerima tantangan itu, seakan membuka gerbang neraka untuk dirinya sendiri. Siapa yang menjamin perlakuan Faye akan baik-baik saja setelah ia menyetujui? “Baik, aku setuju, tapi dengan syarat hapus semua foto itu,” ucap Xander akhirnya. Gabriel tertawa puas, lalu menghapus foto-foto tadi. Ia meyakinkan Xander dan lelaki itu menghela napas lega. “Bagus. Minimal kalau jelek dan cupu, kamu harus patuh pada kami. Selamat berjuang dan belajar. Semoga kamu menjadi juara umum di angkatan tahun ini,” ucap Faye sengaja menyenggol botol air Xander hingga tumpah membasahi bukunya. Xander terdiam beberapa saat, menatap punggung Faye dan teman-temannya yang menjauh lambat laun. Ia sakit hati dan mulai tumbuh rasa dendam, tapi untuk sekarang tak bisa berbuat banyak. Diam dan mengamati adalah senjata andalannya. Hingga suatu hari di jam Fisika, guru masuk sesuai jadwal dan mulai mengajar. Namun, kehadiran Faye, ketiga temannya, dan Xander tidak terlihat sejak tadi. Anak kelas juga sepakat tidak tahu ke mana mereka pergi. Akhirnya karena malas berdebat, sang guru tetap melanjutkan materi. Ia tidak ingin mendapat teguran karena mengadukan perbuatan Faye ke kepala sekolah. “Kamu ulang tahun, ya hari ini?” tanya Faye pada lelaki yang berdiri di depannya. Karena tinggi mereka terbilang cukup ketara, Faye harus mendongak sedikit agar bisa menatap mata Xander. “Tidak,” balas pria itu menggeleng cepat. Kepalanya tertunduk dengan jari-jemarinya yang sibuk sendiri. Ia menerka apa lagi yang akan Faye lakukan kepadanya hari ini. “Bohong. Semalam aku lihat di i********: kamu, ada yang mengucapkan selamat ulang tahun,” tegas Taylor menjambak rambut Xander hingga nyaris terjatuh. Faye buru-buru menarik tangan pria itu lagi agar kembali bangkit. “Ti-tidak. Aku tidak mencantumkan tanggal lahir sebenarnya di akun itu,” balas Xander gemetar. “Ck, kamu pikir kami percaya? Dasar anak yatim gelandangan!” balas Lyonere meludah ke arah Xander. Memang tidak mengenai secara langsung, tapi sudah cukup membuat mental Xander ciut. “Santai saja, Teman. Dia berulang tahun hari ini, jadi bersikaplah baik. Karena hari ini adalah hari bahagiamu, maka izinkan kami merayakannya khusus untukmu, Tuan Cupu. Haha!” “A-apa yang akan kalian lakukan?!” “Diam!” Kedua tangan Xander dikunci oleh Taylor, lalu tubuhnya dipaksa duduk tersungkur di kubangan air hujan di sebelah pagar sekolah. Xander pasrah, ia kalah melawan empat gadis sekaligus. Hanya bisa meringis menutup mata, meminta agar dirinya diberi kekuatan oleh semesta. Faye mengambil sesuatu dari plastik yang ia bawa. Dua bungkus tepung terigu, sepiring telur ayam busuk, dan satu blok margarin. Ia menaburi kepala Xander dengan tepung lebih dulu, lalu memecah telur busuk, dan terakhir diolesi margarin sampai seluruh tubuhnya licin. “Bau busuk, ya.” “Iya, tapi tidak masalah. Ini adalah kue ulang tahun untukmu, Tuan. Bagaimana rasanya?” balas Faye tertawa puas. “Dia diam tandanya suka, Fay. Kamu kurang menambahkan satu bahan lagi. Memangnya kue apa yang tidak memakai tambahan air?” pungkas Taylor. Ia mengambil segayung air selokan yang bau dan menghitam. Faye menerimanya dengan senang hati, lalu melancarkan aksinya lagi. Kini aroma di tubuh Xander bercampur padu, dominan amis busuk yang membuat siapa saja refleks menutup hidung. Pria itu masih duduk di posisi yang sama dengan tangan meremas sisa-sisa tepung yang jatuh di tanah. Tangisnya pecah tanpa suara. Ia bersumpah suatu saat akan membalas perbuatan Faye dan gank-nya. “Haha! Kasihan sekali, Tuan. Bagaimana bisa masuk kelas dengan keadaan seperti ini?” ucap Lyonere mengejek. Faye mundur beberapa langkah, meraih sebotol kecap ikan dan dituang seluruhnya ke tubuh Xander. Lengkap sudah bau busuk di sana, menguar sempurna di indra penciuman mereka. “Ayo pergi. Aku tidak tahan lama-lama di sini. Bisa-bisa aku muntah,” ajak Faye. Ketiga temannya mengikuti, meninggalkan Xander seorang diri. Faye dan temannya tiba di kelas tanpa merasa bersalah. Guru Fisika yang malas menegur pun memilih diam saja dan melanjutkan pelajaran. Keempat gadis nakal itu terkekeh, lanjut membicarakan Xander diam-diam. Tidak ada yang berani menegur karena terakhir kali berurusan dengan mereka, malah menjadi bumerang. Sekitar 45 menit kemudian, Xander baru kembali dari toilet. Seragam putih kotor ia genggam di depan d**a, berjalan malu melewati teman kelas dan gurunya. Seketika semua orang menutup hidung, menggeser posisi duduk mereka ketika Xander tiba. “Maaf, Bu, tadi saya habis jatuh,” ucap Xander. Meski sudah mandi, keramas, dan mengganti pakaian olahraga, bau amis ikan dan telur busuk itu masih menempel di tubuhnya. Beberapa siswa bahkan terpaksa berlari keluar karena ingin muntah. “Lebih baik kamu keluar dari sini. Kami risih, kami ingin belajar!” tegur ketua kelas. Xander terdiam, masih berdiri di tengah ruangan menahan rasa malunya. “Aku sudah membersihkan semuanya. Maaf kalau masih tercium, tapi aku juga tidak ingin ketinggalan pelajaran,” balas Xander hampir menangis. “Ah, masa bodoh! Cepat keluar!” “Keluar sana, dasar cupu bau amis!” Xander dilempari remasan kertas, dipaksa meninggalkan kelas itu. Ia akhirnya mengalah meski berat hati. Namun, sebelum ia pergi, Xander sempat menatap ke arah Faye. “Cantik juga, jadi sayang kalau tidak ditiduri.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN