Faye6

1613 Kata
Rumor tentang kedatangan anak baru di kelas XII MIPA 1 membuat Xander menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan anak-anak seantero sekolah. Berita-berita buruk tersebar begitu cepat, tidak ada celah bagi siapa pun yang ingin membela. Xander berdiri sendiri, menapaki lantai koridor yang kotor sisa air hujan semalam. Ia tidak berani melirik kanan kiri, hanya fokus menatap sepatunya melangkah pelan menuju kelas. Riuh anak-anak dari jauh sudah terdengar samar. Xander mengeratkan genggamannya pada tali ransel, lalu mempercepat langkahnya menuju meja. Di sampingnya, seorang gadis buru-buru pergi sambil tertawa, seolah jijik berdekatan dengan lelaki itu. “Akhirnya datang juga si cupu itu. Ternyata masih bau juga,” sindir ketua kelas. Xander menghela napas panjang, mencoba tidak mengindahkan. Merasa tidak dipedulikan, ketua kelas itu menarik kerah belakang Xander hingga hampir terjatuh ke belakang. “Cupu ini memang sok keren, ya. Atas dasar apa kamu berani mengabaikanku? Dasar anak yatim!” “Aku tidak yatim! Aku masih punya orang tua! Jaga bicaramu!” gertak Xander bangkit dari kursinya. Seketika seluruh pasang mata tertuju pada mereka. Xander yang tidak pernah melawan, tiba-tiba mengumpulkan keberanian. Setidaknya untuk kali ini saja ia tidak membiarkan orang lain menghinanya lagi. “Ck, tidak yatim? Kalau begitu, ke mana orang tuamu? Aku tidak pernah melihatnya sama sekali. Kamu berangkat dan pulang sekolah saja selalu sendirian. Apa jangan-jangan kamu anak terbuang?” Xander terdiam, memilih tidak menjawab karena percuma saja, orang-orang ini enggan percaya. Matanya yang berkaca-kaca sudah cukup menjelaskan bahwa ia kehabisan kata menghadapi mulut-mulut tajam yang senantiasa menjatuhkan harga dirinya. “Haha, dasar pengecut. Pecundang! Hei, Faye. Bisa-bisanya sekolah ini menerima anak cupu dan mental tempe sepertinya. Aku tidak rela kelas kita dinodai,” decihnya kesal. Faye yang kebetulan baru tiba itu langsung berbelok arah ke meja Xander. “Ada apa? Masih terlalu pagi untuk membuat keributan, santai saja dulu. Jangan terlalu kasar, nanti dia bunuh diri,” jawab Faye setengah terkekeh. “Bagus. Kalau bisa mati lebih cepat, ya tidak masalah. Untuk apa kita mempertahankan anak buangan sepertinya, Fay? Setiap hari ada saja tingkahnya. Selalu membuat orang geli. Pantas saja dia dibuang dari sekolahnya, tidak ada yang mau berteman dengan laki-laki cupu yang sok pintar.” “Haha, sudah-sudah. Kamu seharusnya paham, ‘kan? Siapa yang berhak mengurus hal ini?” ucap Faye mengangkat sebelah alisnya. Xander mundur beberapa langkah, merasa tatapan Faye itu adalah ancaman baginya. “Ah ... iya. Benar juga, Fay. Silakan, Princess Faye, laksanakan tugasmu sesuai kehendakmu.” “Haha!” Faye tertawa puas, lalu melirik ke arah Xander dengan tatapan meremehkan. Lelaki itu menunduk sejenak, mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil menunggu Faye pergi dari sana. Bukan karena takut, tetapi sebaliknya. Ia mencibir Faye dalam hati, menguatkan dirinya sendiri. Akan ada masanya Faye menyesali dan Xander tak sabar menunggu hari itu tiba. Faye duduk di kursinya, lalu berbincang dengan ketiga sahabatnya yang datang lebih awal. Xander menyimak dari kejauhan, ikut duduk dan memasang telinga rapat-rapat, mencerna setiap kalimat yang terucap di bibir gadis manis itu. “Dia memang sangat cantik. Jika tidak sedang kerasukan setan, ia terlihat manis dan menggemaskan,” batin Xander tak sadar menyunggingkan senyum. Melihat Faye yang sesekali tertawa kecil dengan mata berbinarnya, membuat hati Xander berbunga-bunga. Visualnya begitu indah, sampai ia tak sadar berkali-kali menjadi korban kejahatan seorang Faye. Sialnya, pemandangan indah itu tidak bertahan lama. Taylor yang tidak sengaja menoleh ke arah Xander pun langsung berteriak heboh, berdiri di atas kursinya. “Hei, kalian! Lihatlah! Si Tuan Cupu itu menatap Faye sangat dalam! Sepertinya ada yang jatuh cinta padamu, Fay! Haha!” ucap Taylor tak bisa menahan gelak tawa. Seketika seluruh pasang mata tertuju pada Xander yang salah tingkah. Ia segera menyembunyikan wajahnya, merutuki diri sendiri yang tidak bisa mengendalikan situasi. “Wah, wah, wah. Fay, selama ini kamu single dan siapa sangka, kamu disukai anak baru itu?” timpal Gabriel mengejek. Faye menghela napas kesal, lalu bangkit dari kursinya dan menghampiri Xander. Ia menarik rambut laki-laki itu, memaksanya mendongak. Xander yang tidak berdaya hanya meringis seadanya, tidak berani protes lebih jauh. “Maksud kamu apa? Jelaskan! Jangan sampai matamu itu aku colok dengan ujung pensil, Tuan Cupu! Aku memang cantik, tapi dipandang oleh lelaki pengecut sepertimu rasanya harga diriku sedang dicabik-cabik. Lebih pantas memandang gelandangan di luar sana!” gertak Faye dengan mata merah menyala. “Ma-maaf. Aku tidak bermaksud memandangmu. Aku hanya menyimak pembicaraan kalian,” jawab Xander membela diri. “Cih, banyak alasan! Jelas-jelas Taylor mendapatimu sedang menatapku sambil tersenyum nakal. Hei, sadar diri. Modelan sepertimu ini yakin bisa mencuri hatiku? Coba saja kalau bisa. Apa pun usahamu, akan kuludahi saat itu juga!” tantang Faye lalu mengibas rambutnya, berbalik badan menghampiri temannya lagi. Kedua tangan Xander mengepal kuat, hatinya memanas karena ucapan Faye barusan begitu merendahkan egonya. “Good girl. Princess kita memang yang terbaik. Aku yakin dia pasti jera menatapmu seperti itu. Tatapan birahi,” ujar Lyonere. “Aku jijik dan geli. Jangan sampai alergiku kambuh, Lyon.” Faye terkekeh, diikuti tawa menggelegar teman-temannya yang lain. Sementara Xander di ujung sana hanya diam mendengar setiap ejekan yang jatuh kepadanya. Satu kelas kompak mengucilkan, tiada seorang pun yang mau dijadikan teman. Beberapa dari mereka mungkin iba dan ingin merangkul, tetapi takut dijauhi dan dicerca balik oleh gank Faye. Cari aman, mereka memilih abai. Kasihan, tidak sampai hati. Hanya air mata yang menjadi saksi bisu perihnya kalbu. Xander yang berniat fokus belajar demi lolos di universitas idamannya, harus menghadapi tantangan berupa perundungan dari Faye. Ia harus kuat, harus tahan sampai garis akhir. Demi harapan orang tuanya, demi meneruskan usaha keluarganya. Ia rela menimba ilmu yang jalannya terjal dan berbatu. *** “Anak-anak, seperti biasa hari ini Ibu akan menghadiri rapat ujian kalian. Jadi supaya tidak ada jam kosong, maka Ibu minta kerjakan tugas halaman 45 sampai 50, ya. Kumpulkan minggu depan. Untuk tugas di rumah secara berkelompok. Silakan pilih kelompoknya dulu sembari Ibu menulis apa saja tugas kalian,” ucap guru kesenian itu di jam pelajaran terakhir. Faye dan ketiga temannya bersorak bahagia. Satu kelompok maksimal 4 orang dan mereka sudah sangat cukup. Namun, karena anak-anak di kelas itu berjumlah ganjil, hanya Xander yang tidak kebagian tim. Ia celingukan, mencari kelompok mana yang sekiranya mau menerima. “Bu, saya tidak mendapat kelompok. Apakah saya bisa mengerjakannya sendiri saja?” Xander tiba-tiba berdiri, mengangkat tangan. Sang guru berhenti menulis di papan dan berbalik badan. “Oh, ya? Kamu anak baru itu, ya? Bisa ikut salah satu tim saja, Nak. Tidak apa-apa satu kelompok isinya lima orang,” jawab sang guru lembut. Xander melirik lagi, seluruh pasang mata menatapnya dengan pandangan sinis. Seolah tidak ingin menerima kehadiran anak malang itu apa pun yang terjadi. “Keysha, Nadia. Masukkan Xander ke kelompok kalian,” suruh guru itu. Keysha menggeleng cepat, begitu juga dengan Nadia yang langsung membuang muka. “Astaga, anak-anak ini. Apa yang membuat kalian membenci Xander? Dia baik dan pintar, pasti bisa membantu kalian.” “Saya tidak mau, Bu. Yang lain saja. Kami sudah pas,” ucap Keysha. “Oh, kalau begitu kelompok Faye, bagaimana?” tunjuk guru itu. Seketika Faye yang awalnya bersandar santai di kursi pun langsung mengubah posisi duduknya. “Saya? Saya menerima Xander? Oh, tidak bisa, Bu. Kami juga sudah pas berempat. Kan dia mau kerjakan sendiri, ya biarkan saja. Dia terkenal pintar di sekolah lamanya, tugas seperti ini pasti mudah. Iya, ‘kan?” cibir Faye. “Ini tugas kelompok, Faye. Bukan individu. Kasihan kalau dikerjakan sendiri.” “Kalau begitu sama Ibu saja. Kan hanya Ibu yang kasihan. Kami semua di sini tidak peduli, Bu!” balas Faye lalu tertawa kencang, membuat emosi sang guru mulai tersulut. “Faye! Jaga bicaramu!” tegurnya, lalu buru-buru merendahkan suara. Ia sadar bahwa Faye bukan anak biasa yang bisa dilawan. “Kok jadi saya yang jaga bicara, Bu? Apa yang saya katakan juga benar. Terserah dia mau kerjakan sendiri. Mau tidak mau, ‘kan?” Akhirnya Xander pasrah, guru pun sama. Ia akan mengerjakan tugas ini seorang diri, tanpa bantuan siapa-siapa. Di saat anak lain mengerjakan di rumah temannya atau di kafe, Xander memilih balkon kamarnya sebagai tempat ternyaman saat ini. Ia berniat melukis kenangan di masa kecil, dipadukan gambaran dirinya di masa sekarang. Tumbuh besar dan bahagia, tapi sayangnya tidak sesuai harapan. Seminggu kemudian, tugas itu dikumpulkan. Guru kesenian telah menilai masing-masing karya berdasarkan kreativitas dan teknik mewarnai. Kelompok Faye memilih desain abstrak sebagai kebanggaan mereka, sedangkan yang lain menekankan desain realistis. “Waktu satu minggu itu sepertinya cukup lama, tapi mengapa hanya satu karya yang paling bagus di sini? Tidak layak dipajang!” ucapnya geram. Suasana berubah tegang, begitu juga dengan Faye. “Siapa, Bu?” tanya Faye penasaran. Guru itu mengambil kertas hasil pengerjaan Xander dan ditunjukkan di depan anak-anak. “Hanya karya ini yang paling bagus. Nilai nyaris sempurna dan kalian? Rata-rata seperti buatan anak SD. Sketsa asal, pewarnaan asal jadi. Kerja kelompok kalah dengan karya individu? Tidak habis pikir saya,” kata sang guru. Xander yang mendengar itu sejak tadi menahan senyumnya. Ia berhasil membuat Faye dan kelompok lain kalah telak. “Dih, jelek begitu dibilang bagus. Aku rasa mata Bu Rasya mulai rabun.” “Tidak mungkin. Pasti ada yang salah. Pasti kamu curang, ‘kan?!” tuduh Faye menunjuk wajah Xander. “Ti-tidak! Aku tidak curang!” “Hei, Cupu! Mana mungkin anak cupu sepertimu menggambar karya sebagus ini? Pasti kamu cetak, ‘kan? Atau kamu minta tolong pelukis profesional? Dasar curang, munafik!” gertak Faye membuat sekelas bersorak ikut menyemangatinya. “Tidak. Demi Tuhan saya kerjakan sendiri, Bu! Saya punya rekaman videonya sepanjang melukis,” kata Xander membela dirinya. Kesal mendengar Xander yang terus berbicara, Faye melempar kotak pensilnya ke arah lelaki itu, tepat di bagian kepala hingga darah mengucur deras. “Mati kamu anak setan!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN