Xander menyentuh kepalanya yang terasa berdenyut dan nyeri hebat. Melihat banyaknya darah di tangannya, ia menatap Faye terkejut, seolah menunjukkan pada gadis itu betapa kuatnya lemparan barusan.
“Dia berdarah!” teriak ketua kelas. Faye bergeming, ikut mundur karena panik, lalu menatap tangannya sendiri.
“Ta-tadi ... aku melakukan apa? Tidak, ini pasti hanya kebetulan.” Ia mencoba meyakinkan diri sendiri, tidak sadar apa yang baru saja ia lakukan pada Xander. Kotak pensil yang baru saja ia lemparkan terbuat dari besi itu ujungnya cukup runcing.
Di sisi lain, Bu Rasya spontan menoleh ke arah Xander. Darah terus menerus mengalir di kepala lelaki itu dan langsung menghubungi petugas UKS.
“Halo. Ada kepala siswa yang bocor, cepat ke sini!” kata Bu Rasya kemudian mematikan telepon. Begitu guru tersebut menghampiri Xander, siswa malang itu perlahan menutup mata dan kehilangan kesadarannya. Xander pun ambruk ke lantai, disaksikan banyak pasang mata yang bingung harus melakukan apa.
“XANDER!” teriak sang guru langsung mendekati tubuh siswanya.
“Kalian mengapa diam saja? Cepat gotong Xander ke UKS!” teriaknya dengan mata berkaca-kaca. Namun, bukanya membantu, semua siswa kompak mundur. Mereka diam seperti batu, seolah Xander yang tidak sadarkan diri dengan darah terus mengalir dan Bu Rasya yang panik adalah sebuah drama yang layak dinikmati.
“Hei, mengapa tidak ada yang maju? Cepat bantu Ibu bawa Xander ke UKS! Nyawanya dalam bahaya, ini pendarahan hebat di kepala!” teriak Bu Rasya lagi, tetapi semua siswa sepakat menggeleng.
“Maaf, Bu. Kita bukannya tidak ingin menolong, tapi jijik kalau harus dekat-dekat dengan dia,” ujar seorang siswi.
“Benar, Bu. Dia bau dan cupu. Kami tidak ingin terkena masalah,” timpal yang lain.
“Hati-hati, Guys, nanti kena virus berbahaya kalau kalian berani menyentuhnya.” Lyonere ikut menyahut, membuat semua siswa di kelas sepakat mundur dan menjauh.
Bu Rasya merasa geram, tetapi ia tidak bisa marah dalam situasi seperti ini. Mengingat Xander yang lebih utama membutuhkan bantuan. Namun, ia sendiri tidak bisa berbuat banyak.
“Bu Rasya, mana siswa yang berdarah?” Tiga orang berseragam kesehatan datang memasuki kelas, sontak beberapa siswa memberi jalan.
“Tolong bawa Xander, Pak!”
“Kondisinya cukup parah, cepat bawa!” titah ketua UKS pada rekannya. Dua orang perawat laki-laki memangku Xander dan meletakkannya di atas tandu, lalu membawanya ke UKS terburu-buru.
Bu Rasya menatap semua siswanya sejenak dengan kecewa, lalu pergi dari sana mengikuti para perawat. Di ruang UKS, Xander langsung direbahkan di atas brankar. Dua dokter sekolah segera memeriksa.
“Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Bu Rasya setelah tiga puluh menit menunggu.
“Tekanan darahnya lemah, jantungnya juga lemah dan dia kehilangan banyak darah. Kepalanya tidak bisa ditangani di sini, perawatan belum memadai untuk kasus cedera dalam. Saya sarankan segera dibawa ke rumah sakit, Bu.”
“Baik, Dok. Langsung atur ke rumah sakit, saya akan menghubungi orang tuanya.” Bu Rasya langsung mengurus semuanya, para petugas UKS bergegas menyiapkan berkas dan ambulance.
“Fay!” teriak Taylor yang baru saja masuk kelas, Faye yang sedang ditenangkan Lyonere mendongak.
“Ada apa?”
“Aku dengar Xander dibawa ke rumah sakit. Lukanya cukup parah, dia kritis,” ucap Taylor berbisik, tidak ingin anak kelas lain tahu kondisi Xander yang sebenarnya.
“Kamu serius? Astaga, bagaimana jika dia melapor ke kepala sekolah dan polisi? Bisa-bisa kamu kena kasus, Fay,” timpal Gabriel.
“Tidak mungkin. Kalian lupa kepala sekolah tunduk pada siapa? Santai saja,” balas Taylor melipat tangan depan d**a.
“Iya kamu benar, tapi kalau dia melapor ke polisi bagaimana?”
“Fay, tenang dulu. Ini semua bukan salah kamu,” kata Taylor menyadari perubahan ekspresi Faye yang sangat dramatis.
“Iya, Fay. Dia yang memulai curang,” timpal Lyonere.
“Kalian benar, dia yang curang, aku hanya memberinya sedikit pelajaran. Mana aku tahu kalau akhirnya akan begini. Semuanya murni kecelakaan,” kata Faye berusaha membuat narasi di kepalanya untuk menenangkan diri. Ia tidak ingin rasa bersalah menguasai.
“Tenang, Fay. Kalau dia berani macam-macam, kita siap membela kamu.” Taylor berujar, diangguki Lyonere. Sementara Faye hanya mengangguk cepat. Tidak ingin disalahkan.
Sementara itu, Bu Rasya mondar-mandir di koridor sejak satu jam lalu. Sesekali melihat ke ruang IGD yang di mana Xander masih ditangani, beberapa perawat keluar masuk membawa berbagai macam peralatan medis.
Guru wanita itu lima menit sekali duduk, lalu berdiri lagi, berjalan mondar-mandir seperti setrika. Tak terhitung berapa kali ia melakukan hal tersebut, tangannya terus saling meremas, rautnya tampak begitu cemas.
“Bagaimana keadaan Tuan Xander?” Seorang wanita paruh baya menghampiri, Bu Rasya akhirnya merasa lega.
“Xander di dalam, masih ditangani dokter. Anda ....” Bu Rasya meneliti wanita yang lebih tua darinya itu dari atas sampai bawah, sama sekali tidak menunjukan sosok berkelas. Penampilannya biasa saja, tapi menjadi sosok yang paling khawatir di sana.
“Saya asisten rumah tangganya. Ini benar Bu Rasya yang tadi menghubungi saya?”
“Oh, iya, Bu. Saya Rasya, gurunya Xander.” Bu Rasya segera menjabat tangan wanita itu.
“Bagaimana ceritanya Tuan Xander bisa seperti ini, Bu?”
Bu Rasya menelan ludah, ia sendiri tidak menyangka jika kejadiannya akan seperti ini.
“Tadi ... anak-anak ribut di kelas, Xander terkena lemparan kotak pensil.”
“Kotak pensil? Hanya dengan kotak pensil, Tuan Rasya sampai mengalami pendarahan?”
“Kotak pensilnya terbuat dari besi, Bu.” Ucapan Bu Rasya sukses membuat ART itu tercengang.”Ma-maafkan saya, Bu. Ini semua gara-gara saya kurang mengawasi mereka.”
“Tuan Xander tidak pernah berbuat jahat sama orang, Bu. Tidak mungkin kalau dia memulai duluan, pasti temannya yang mengganggu dia.”
“Benar, Bu. Xander hanya membela diri atas tugasnya yang saya apresiasi, tapi temannya tidak terima dan melempar kotak pensil itu.” Bu Rasya menunduk dalam, merasa gagal mendidik siswanya sendiri.
“Pelakunya harus ke sini, Bu. Saya tidak mau tahu, dia harus tanggung jawab atas apa yang terjadi. Kalau sampai Tuan Besar dan Nyonya tahu semua ini, saya tidak bisa menolong apa pun.”
“Memangnya, orang tua Xander ke mana, Bu?”
“Tuan dan Nyonya sibuk di luar negeri, ada pekerjaan yang sangat penting. Jadi begitu mendengar Tuan Xander masuk rumah sakit, saya yang datang mewakili.”
Bu Rasya mengangguk paham. Tak lama setelah itu, dokter akhirnya keluar.
“Bagaimana kondisi Xander, Dok?” tanya Bu Rasya lebih dulu, bangkit dari tempat duduknya. Wanita paruh baya yang merupakan ART di rumah Xander juga ikut menghampiri dokter.
“Kondisi pasien sudah stabil, kami berhasil menghentikan pendarahan di kepalanya dan menormalkan detak jantungnya yang sempat melemah akibat syok dari benturan. Pasien akan dipindahkan ke ruang rawat dan observasi beberapa hari.” Pria dewasa memakai jas putih itu menjelaskan dengan detail, lalu berpamitan. ART dan Bu Rasya mengucapkan terima kasih secara bersamaan.
“Kalau begitu, saya pamit, Bu. Saya akan memberitahu sekolah dan meminta siswa yang bersangkutan untuk datang.”
ART itu hanya mengangguk, lalu membiarkan Bu Rasya pergi. Ia segera mengikuti brankar Xander yang mulai digiring perawat menuju ruang inap.
Keesokan harinya, kelas berjalan seperti biaasa. Para siswa masuk setelah bel berbunyi. Bu Rasya juga duduk di meja guru.
Kelas dimulai, anak-anak menyimak pelajaran di papan. Seolah tidak ada yang terjadi kemarin. Semua siswa tidak merasa kehilangan siapa pun, meski kursi yang biasa ditempati Xander terlihat kosong.
“Baik, anak-anak, untuk hari ini materi sampai di sini, jangan lupa kerjakan tugas halaman 23-26.”
“Baik, Bu.” Para siswa menjawab dengan malas seraya menutup buku mereka.
“Anak-anak, mohon perhatiannya sebentar. Ibu mau bicara sesuatu.” Bu Rasya mengetuk meja tiga kali, menyita perhatian para siswa.
“Saat ini, kondisi Xander masih belum pulih. Ibu harap, kalian mau datang menjenguknya ke rumah sakit sepulang sekolah nanti.”
“Maaf, Bu. Saya sibuk, ada acara keluarga,” sahut ketua kelas.
“Saya juga mau menemani Bunda belanja bulanan.” Salah satu siswi menimpali.
Siswa lain pun memberikan alasan serupa yang pada intinya tidak ada yang mau menjenguk Xander. Bu Rasya menghela napas kasar, lalu menatap Faye yang sejak tadi diam dengan kedua tangan menyilang di d**a.
“Faye, kamu ikut saya ke rumah sakit.”
“Hah? Saya?” tunjuk Faye pada dirinya sendiri. “Tidak bisa, saya sibuk.”
“Sibuk apa, Faye? Menemani orang tua bertemu kolega? Menemani ibumu belanja bulanan? Atau shopping?”
“Ya pokoknya saya sibuk, saya tidak bisa! Ibu jangan berlagak mengatur-ngatur kehidupan saya,” Faye memasang wajah jengkel, semua siswa melihat ke arahnya.
“Saya tidak mau tahu, kamu harus ikut ke rumah sakit, menjenguk Xander!”
“Apa hubungannya saya dengan sakit Xander, Bu? Dia sakit, ya urusan dia. Mengapa malah memaksa saya menjenguknya? Apa dia benar-benar yatim piatu dan tidak mempunyai keluarga satu pun?” Faye bersikeras menolak. Kalau ia ikut dan menjenguk Xander, sama saja membenarkan bahwa ia bersalah dan Xander adalah korban.
“Faye, kamu jangan keterlaluan! Xander masuk rumah sakit gara-gara kamu. Pihak keluarga Xander ingin pelaku datang untuk tanggung jawab. Kalau kamu tidak mau ikut saya menjenguk Xander, maka kasus ini akan dipermasalahkan oleh keluarganya, bukan lagi dianggap kecelakaan. Jika itu terjadi, bukan hanya nama baik kamu dan keluargamu yang tercoreng, tapi juga nama baik sekolah ikut rusak!” tegas Bu Rasya, berusaha memberikan pemahaman pada siwinya yang bebal itu.
Faye terdiam. Dalam hati, ia membenarkan perkataan gurunya. Teman sekelasnya juga menatap penuh arti. Ia akhirnya terpaksa mengangguk karena tekanan psikis itu.
“Baik, saya ikut, tapi hanya sebatas menjenguk, tidak lebih.”
“Baik, kalau begitu saya tunggu kamu di ruang guru setelah pulang sekolah. Jangan coba-coba kabur.”
Bu Rasya keluar kelas setelah menutup pembelajaran, lalu disambung dengan materi pelajaran terakhir. Sepanjang pelajaran, Faye tidak bisa fokus menyimak. Pikirannya berkelana pada kejadian kemarin.
Dua jam berlalu, kini Faye dan Bu Rasya berjalan di koridor rumah sakit. Awalnya Faye mencoba kabur, tetapi Bu Rasya memanggilnya saat melihat gadis itu hendak keluar gerbang.
“Bu Rasya, silakan masuk,” ucap ART yang sejak kemarin menemani Xander saat menyadari ada dua perempuan datang. Bu Rasya mengangguk, lalu masuk diikuti Faye.
Gadis itu terhenyak ketika melihat Xander terbaring di kasur dengan kepala diperban, ia sendiri mendengar dari wanita paruh baya yang merupakan ART Xander memberitahu Bu Rasya bahwa Xander belum siuman sampai sekarang.
Seketika hati Faye mencelos, merasa kasian dengan Xander. Ia merasa cukup keterlaluan pada lelaki itu.
“Ini semua salah kamu!”
Faye terkejut saat ART itu menghampiri, ia mengerutkan dahi. Belum paham apa yang dimaksud wanita tua itu.
“Kamu yang membuat Tuan Xander seperti ini. Kamu gadis kejam! Benar-benar tidak punya hati! Keterlaluan!”
Hati Faye yang sempat mengasihani, kini kembali membara. “Atas dasar apa Anda menyalahkan saya? Jangan menuduh sembarangan, saya bisa laporkan atas pencemaran nama baik!”
“Dasar gadis tidak tahu sopan santun! Tentu saya tahu dari Bu Rasya kalau kamu biang kerok yang membuat Tuan Xander seperti ini. Kamu kan yang melempar kotak pensil itu ke Tuan Xander?”
Bukannya gentar, Faye malah terkekeh.
“Itu karena dia beda sama kita, dia yatim, tidak punya orang tua! Dia hama, kalau bisa mati, why not? Pembawa sial!”