Faye 8

1667 Kata
“KURANG AJAR!” Faye menatap wanita itu dengan bengis, memegang pipinya yang terasa panas. Sebuah tamparan kuat mendarat sempurna di pipinya. “Sial!” teriak Faye tidak terima. Ia menyerang dan membalas wanita paruh baya itu. Mereka pun saling menarik rambut, mencabik wajah, sama-sama melampiaskan amarah. Ruangan yang seharusnya hening, kini berubah gaduh dan penuh caci maki. Suaranya yang lantang terdengar sampai ke kamar lain. “Faye, berhenti! Kamu tidak bisa bersikap seperti ini!” teriak Bu Rasya berusaha menarik Faye, tetapi ia sendiri terdorong. Tentu kalah tenaga dari seorang anak muda yang dikuasai amarah. “Faye, jangan lagi menambah masalah!” peringat Bu Rasya, tetapi tak dihiraukan gadis tersebut. Faye dan ART itu justru semakin ribut. Merasa tidak lagi bisa memisahkan, Bu Rasya segera keluar dari ruangan dan memanggil satpam. “Berhenti! Kalian membuat keributan di sini!” teriak salah satu satpam saat masuk ke dalam ruangan. Dua satpam datang bersama Bu Rasya, mereka segera melerai Faye dan ART Xander. Satu menarik gadis, satu menarik wanita paruh baya. Sementara Bu Rasya berdiri di tengah, melihat dua perempuan yang penampilannya sudah tidak keruan. Rambut berantakan, pipi lebam, dan sudut bibir yang berdarah. “Faye, kamu sudah keterlaluan!” tegas Bu Rasya menatap siswinya kecewa. “Saya bawa kamu ke sini untuk menjenguk Xander, bukan untuk menambah masalah!” Faye tidak peduli, ia menghentakkan tangan satpam, melepas paksa. Kemudian merapikan rambutnya, menatap ART Xander dengan amarah yang belum tuntas. “Pak, usir saja perempuan ini. Dia sudah membuat keributan dan mengganggu pasien!” ujar ART Xander. Satpam mengangguk, langsung menarik Faye keluar dengan paksa. Gadis itu tak bisa lagi membela diri. Ia digotong keluar ruangan dengan caci maki yang masih lolos dari mulutnya. “Saya minta maaf atas kejadian ini, Bu. Saya tidak menyangka jika Faye sangat sulit diatur,” sesal Bu Rasya kemudian menunduk. “Tidak masalah, Bu. Saya tidak akan menyalahkan Anda. Tapi masalah ini cepat atau lambat akan sampai pada Tuan Besar dan Nyonya. Saya tidak menjamin apa pun.” “Baik. Kalau begitu, saya pamit dulu. Tolong kabari kalau Xander sudah siuman.” Tak ada jawaban, ART itu hanya mengangguk dan membiarkan Bu Rasya pergi. Di sisi lain, Faye baru saja sampai di kamar. Ia melempar tas ranselnya dengan asal ke atas kasur. “Hah! Sial! Dasar wanita tua! Sudah mau mati, masih saja berulah!” Faye meluapkan amarahnya dengan sumpah serapah. Wajahnya bahkan memerah padam. Tak puas hanya dengan ucapan, Faye berjalan ke arah meja rias. Melempar semua barang-barang di sana. Make up, skincare, parfum, semuanya berserakan di lantai. Alhasil pecah, menghasilkan bunyi nyaring yang seolah memvalidasi amarahnya saat ini. Tak lama, ponsel Faye berdering. Dengan amarah yang masih tersisa, ia melangkah ke kasur, mengambil tas dan merogoh ponsel dari sana. Telepon grup dari teman-temannya. Kebetulan ia sedang kesal, bercerita pada mereka mungkin akan sedikit reda. “Faye, kamu baik-baik saja?” Suara Lyonere yang pertama kali terdengar saat sambungan telepon terhubung. “Bagaimana keadaan Xander? Dia benar-benar kritis?” sambung Taylor. “Jangan bahas dia lagi! Aku muak. Xander itu manipulatif dan suka mamutarbalikan fakta.” Faye berkata dengan menggebu-gebu. Hening. Dua temannya tidak ada yang menyahut lagi, mereka dapat merasakan kemarahan Faye yang penuh penekanan di setiap kalimatnya. “Aku ditampar asisten rumah tangganya Xander. Wanita tua itu menyalahkan aku atas apa yang terjadi pada Xander!” sambung Faye. “Bentar, Fay. Kamu ditampar?” Taylor mencoba memastikan. “Bukan hanya ditampar, tapi juga diusir dari sana. Ini penghinaan terbesar yang pernah aku dapatkan, benar-benar keterlaluan. Hah!” “Fay ... kamu yakin, itu ART-nya Xander? Bisa jadi itu ibu angkat yang sedang membela anak pungutnya. Bukannya ... Xander itu anak yatim?” Lyonere mencoba menenangkan dengan kalimat impulsif. “Ucapan kamu ada benarnya. Dia hanya ingin membela Xander, lalu meminta ganti rugi. Licik sekali akal-akalan orang miskin ini,” balas Faye setelah terdiam. “Jangan mau mengasihani dia, Fay!” Taylor mengompori, didukung oleh Lyonere. “Aku justru membenci dia, semakin benci. Jangankan untuk melihat wajahnya, mendengar nama dia saja sudah membuatku muak!” Suara Faye meninggi, ia teringat bagaimana setiap kejadian menghubungkannya dengan lelaki cupu itu. “Pokoknya kalian harus bantu aku cari cara supaya membuat Xander pindah sekolah. Buat dia tidak betah dan akhirnya memohon untuk keluar!” “Kamu tenang, Fay. Kita pasti bantu kamu untuk memberikan pelajaran pada si cupu itu!” ujar Taylor, Lyonere menyetujui. Kembali ke ruang rawat inap Xander. Lelaki itu masih setia memejamkan matanya. Belum ada tanda-tanda kehidupan di sana. Wanita paruh baya yang setia menemani sejak kemarin, tampak masih setia menunggu tuan mudanya sadar. “Tuan, cepatlah bangun. Nyonya dan Tuan Besar sudah menanyakan kabar. Saya tidak bisa menjelaskannya.” Tidak ada jawaban dari Xander, pemilik mata teduh itu setia mendengarkan. “Tuan, saya minta maaf karena tadi sempat membuat keributan. Andai saja gadis itu tidak ke sini, saya pasti ....” Ucapan ART itu menggantung saat melihat perlahan jemari Xander bergerak. “Tuan? Tuan sudah siuman?” Wanita itu gegas keluar dan memanggil dokter. Tak lama kemudian, Xander langsung diperiksa. Benar saja, perlahan mata Xander terbuka. Bias cahaya masuk ke dalam pupilnya, ia mengerjap beberapa kali, menyesuaikan pandangan dengan ruangan yang asing. Aroma obat-obatan begitu kuat menusuk hidung, membuatnya seketika paham bahwa ia tidak berbaring di kamar sendiri. “A-aku di mana?” tanya Xander bersuara parau, lalu meringis sembari memegang kepalanya. “Ini di rumah sakit. Kamu sudah tidak sadarkan diri sejak kemarin sore.” Dokter pria menjelaskan sambil terus melakukan observasi pada tubuh Xander. “Pasien sudah banyak perubahan, kondisinya sudah lebih baik. Tapi tetap akan kami lakukan pemantauan secara berkala untuk memastikan cedera yang dialaminya benar-benar tidak ada masalah.” “Dok, kenapa saya bisa sampai seperti ini? Padahal hanya dengan kotak pensil.” Xander sudah mulai ingat kejadian terakhir. “Karena itu mengenai bagian paling sensitif, tepat pada saraf yang menjadi pusat kelancaran darah bagian kepala. Akibatnya meski benturan itu terlihat sepele, darah akan mengalir deras dan mengakibatkan pingsan, bahkan koma.” Xander terdiam, ia ingat siapa yang membuatnya seperti ini. “Jika ada keluhan, bisa langsung panggil saya. Kalau begitu, saya permisi.” Dokter berpamitan, ART dan Xander mengangguk mengiyakan. “Tuan, apa ada yang masih terasa sakit?” tanya sang ART. Xander menggeleng, segurat senyum tipis terlihat manis di wajah teduhnya. “Oh, iya. Kemarin, yang melukai Tuan sudah ke sini. Tapi ....” “Tapi apa, Bi?” Xander menatap asisten rumah tangganya penuh selidik. “Gadis itu benar-benar tidak punya moral, Tuan. Dia datang ke sini karena dipaksa Bu Rasya, lalu membuat keributan. Saya sampai harus berkelahi dan Bu Rasya memanggil satpam.” Xander terdiam. Ia sudah bisa menebak hal itu. Namun, ia tak menyangka jika Faye benar-benar tidak peduli dengan kesalahannya. Bahkan untuk datang pun, harus dipaksa oleh Bu Rasya. Bukan karena menyesal. “Sudahlah, biarkan saja. Gadis itu memang tidak bisa ditebak. Sekarang aku sudah tertinggal banyak materi di sekolah gara-gara kejadian ini,” kesal Xander, mengingat pelajarannya lebih penting dibandingkan perbuatan Faye. “Tuan tenang saja. Katanya, Bu Rasya sudah mengirimkan semua materi yang tertinggal lewat email. Coba Tuan cek,” kata ART itu, teringat pesan yang disampaikan Bu Rasya kemarin. Xander langsung mengambil ponsel, mengecek laman email. Benar, banyak notifikasi dari Bu Rasya yang isinya file PDF materi di sekolah. Ia merasa lega karena bisa mengejar ketertinggalan. *** Tiga hari berlalu, Xander sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit karena keadaannya semakin membaik. Hari ini, ia memutuskan langsung masuk sekolah. Meski sempat dilarang bibinya, tetapi Xander bersikukuh berangkat dan mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Xander menginjakkan kaki di koridor sekolah, rasanya dejavu. Ia seperti ditarik pada hari pertama pindah ke sini. Ia berjalan pelan, mengabaikan tatapan para siswa yang mulai berbisik. Xander tidak peduli, ia hanya ingin sekolah dengan tenang. Memasuki kelas, banyak pasang mata yang melemparkan tatapan tajam. Xander mencoba mengabaikannya. Tak lama, guru masuk dan pelajaran dimulai. Tidak ada yang aneh, sepanjang pelajaran berjalan dengan fokus. Faye pun seperti menganggap Xander tidak ada. Hingga bel istirahat, Xander memasukan buku pada tasnya. Ia pergi ke kantin. Di sisi lain, Faye yang baru saja melihat mading, marah bukan kepalang karena melihat hasil lukisan Xander dipajang di sana oleh Bu Rasya. Semua siswa memuji lukisan itu. “SIALAN!” teriak Faye tak terima, menarik dengan asal lukisan tersebut hingga sisinya robek. “Fay, tenang. Dia hanya kebetulan beruntung saja, tidak sehebat itu.” Taylor mencoba menenangkan suasana. “Iya, Fay. Mending kita ke kantin,” ajak Lyonere. Faye terdiam, tatapannya tajam melihat ke arah sosok yang sedang berjalan dengan tenang. Ia meremas kertas lukisan yang ada di tangannya, lalu menghampiri lelaki cupu itu, diikuti kedua temannya. “Masih hidup ternyata.” Faye menarik sudut bibirnya. “Banyak juga nyawanya seperti kucing,” timpal Lyonere. “Semoga ini bukan hantu yang mau balas dendam.” Ucapan Taylor membuat Faye terkekeh. “Kalian mau apa?” tanya Xander tak suka berbasa-basi. “Kamu pikir lukisanmu sebagus itu hanya karena dipuji Bu Rasya?” sentaknya sembari mendorong lelaki itu. Xander tetap diam, ia tidak berniat melawan. Namun, ia terkejut saat Faye memperlihatkan lukisannya yang sudah tidak keruan. “Kamu lihat ini ....” Faye tersenyum evil, lalu merobek lukisan tersebut sebelum Xander berkata ‘jangan’. Kemudian melemparkannya ke wajah Xander. “Jangan sok hebat hanya karena lukisan kamu dipajang di mading! Kamu itu cupu, anak yatim!” Xander syok, bukan karena perkataan gadis itu. Namun, hasil kerja kerasnya yang dirusak begitu saja. Ia menatap lantai yang sudah dipenuhi potongan kertas lukisannya. Sedih dan sakit hati menjadi satu, rasanya campur aduk. Xander berjongkok, memungut lukisan yang ia buat dengan sepenuh hati. Matanya berkaca-kaca saat mulai mengambil setiap potong kertas. Merasa belum puas, Faye geram dengan sikap Xander yang menurutnya sok polos. Ia menginjak tangan lelaki cupu itu tepat ketika hendak mengambil potongan kertas. Bukan hanya menginjak, tetapi juga mengunci dan memutar sepatunya tepat di atas tangan Xander sampai bunyi ‘krek' terdengar keras. Xander pun mengaduh kesakitan. “Ini akibatnya kalau masih cari muka. Kalau tanganmu patah, apa masih bisa melukis? Cuih!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN