Baru saja ia merasa lega karena Xander langsung menutup telepon tanpa memberikan ancaman apa pun, lelaki itu kini malah datang ke apartemen Faye. “Kamu ... kenapa ke sini?” tanya Faye, mendadak perasaannya tidak enak. “Aku datang bawa makanan, Sayang. Takutnya kamu sedih dan tidak mau makan. Lihat,” kata Xander sambil memperlihatkan paper bag dari sebuah brand makanan yang khas dengan warna kuning dan putih. Faye melihat paper bag itu, ia juga merasa lapar. Melihat koridor sepi, ia kembali menatap Xander. “Masuklah, kita makan bersama,” kata Faye pada akhirnya tanpa merasa ragu dan curiga. Xander mengangguk, mengikuti langkah Faye. Masuk ke dalam apartemen gadis itu. Faye menutup pintu, bunyi klik terdengar. Ia melangkah lebih dulu, sedangkan Xander sedikit di belakang. Sebelum ber

