Ketiga temannya menatap Faye secara bersamaan, menuntut jawaban. Tidak biasanya gadis itu pergi sebelum acara kumpul selesai. Bukannya menjawab, Faye malah berdiri, memgambil tas, lalu pergi begitu saja dari sana. Tak menghiraukan panggilan Lyonere. Tatapan terakhir Xander membuat otak Faye kehilangan kendali untuk dirinya sendiri, seperti borgol yang mengikat secara tidak langsung. Faye segera keluar dari area kafe, menghentikan taksi yang kebetulan lewat, masuk ke dalamnya dengan cepat—seolah ia benar-benar dikejar oleh monster haus darah. “Jalan, Pak.” Suara Faye terdengar ragu, jiwanya seperti sudah melanglang pada insiden yang akan terjadi di apartemen. Tatapan Xander selama di kafe tadi cukup membuat keberanian Faye hilang begitu saja. Ia bahkan sudah melupakan rasanya kebebasan

