Xander malah tertawa saat mengetahui respon Faye yang cemburu. Ia merasa kini gadis itu semakin tunduk padanya. “Kenapa kamu malah tertawa, Xander? Aku serius.” Faye mengerutkan dahi, tidak paham dengan tingkah laku lelaki itu. Terkadang Xander terlihat manis dan perhatian, lalu tiba-tiba tidak waras—membentak, mengatur, dan melakukan banyak hal gila lainnya. “Sorry ... sorry, Sayang. Aku hanya ....” Xander kembali terkekeh. “Maaf, aku merasa lucu dengan respons kamu.” “Lucu?” Faye menghela napas panjang, tidak ada yang lucu baginya. Perbuatan Xander sudah di luar nalar. “Iyaa, lucu. Kamu cemburu dengan mereka?” Xander mendekati wajah Faye, lagi. Gadis itu sedikit mundur. “Kenapa menjauh, Sayang? Kita kan baru saja melakukannya,” ujarnya kemudian tersenyum mengejek. Faye menelan

