Mulai Saling Mengenal

1510 Kata
Oz meminum bir terakhirnya setelah tadi cukup puas menari dengan Edrea. Bar kecil itu mulai ramai dengan suara tawa melengking dan musik yang diputar keras. Dia menoleh pada Edrea yang duduk di sebelahnya. "Aku kelaparan," ucap Oz. Edrea menoleh. "Aku juga." "Ayo, kita makam malam di luar.” Edrea mengangguk. “Oke. Aku yang traktir. Di mana kita makan?” Oz meraih jaket kulitnya di sandaran kursi. "Aku tahu tempat yang enak. Bukan yang mewah. Tapi … cukup enak dan mengenyangkan." Edrea menghela napas, lalu tersenyum kecil. Senyum pertama yang tidak dipaksakan untuk Oz malam itu. "Baiklah, ayo. Murah kan?” “Ya, cukup murah.” “Aku suka itu,” sahut Edrea. Lalu mereka pun pergi dari bar. * * Tempatnya bukan restoran. Mungkin seperti kedai kecil. Hanya ada lima bangku kayu, tapi tempatnya sangat bersih, dan sebuah panci besar berisi kaldu yang terus mendidih di belakangnya. “Ini tempat makanan korea?” tanya Edrea. “Ya.” Aroma bawang putih, jahe, dan rempah lain menyerbu mereka begitu pintu berderit itu terbuka, mencairkan dingin malam di New York. "Oz! Lama tak datang!" sapa seorang pria tua berambut putih yang berdiri di balik konter, wajahnya berkerut, tetapi matanya bersinar ramah. "Sedang melatih teman baruku dalam seni bertahan hidup di kota besar, Tuan Kim," sahut Oz sambil mengangguk santai. "Ini Edrea. Edrea, ini Tuan Kim. Juru masak, pemilik, dan satu-satunya staf di kedai ini." "Halo, Tuan Kim. Senang bertemu denganmu,” ucap Edrea, duduk di bangku. Matanya mengamati Edrea, tajam namun ada empati. "Kau terlihat lelah, Nona. Tengang … Karier? Cinta? Atau cuma New York?" Edrea tersenyum. "Semuanya, mungkin." Tuan Kim mengangguk, seolah itu jawaban yang paling masuk akal di dunia. "Maka kau butuh Special Noodle Soup. Oz? Yang biasa?" "Yang biasa," sahut Oz. "Tapi buat dia, tambahkan lebih banyak jamur shiitake.” Edrea memandang Oz. Dia heran bagaimana Oz tahu tentang kesukaannya itu. “Bagaimana kau tahu?” “Aku hanya menebak. Apakah tebakanku benar?” Edrea mengernyit lalu tertawa pelan sambil mengangguk. Mereka duduk dalam suasana hening yang nyaman untuk beberapa saat Mangkuk mie mereka pun datang. Besar, dalam, penuh dengan mie telur kuning, potongan daging ayam yang lembut dan satu bagian terpisah penuh jamur untuk Edrea, irisan daun bawang, telur rebus setengah matang, dan kuah bening berminyak yang mengundang dan membuat perut langsung keroncongan. Oz tidak bicara. Dia langsung menyendok kuahnya, meniup perlahan, lalu menyeruputnya dengan mata terpejam. Edrea mengikuti. Kuah pertama yang menyentuh lidahnya hangat dah gurih. "Makanan terbaik di New York," gumam Oz di sela-sela suapannya. "Bukan di Michelin Star. Tapi di sini. Di mana Tuan Kim tahu namamu di kunjungan ketiga, dan tahu persis seberapa rasa pedas yang kau sukai.” "Kau sering ke sini?" tanya Edrea, menikmati kelembutan jamur di mulutnya. "Setiap kali dunia terasa seperti mesin penghancur," jawab Oz. Edrea tersenyum. Meskipun baru sebentar mengenalnya, tapi dia tidak pernah mendengar Oz mengeluh tentang uang dan hidupnya yang pemgamgguran. “Kau seniman, Oz?” Edrea ingin sedikit mengenal tentang Oz. “Aku melihat beberapa gambarmu di meja.” “Menurutmu?” Oz meletakkan sumpitnya. Edrea mengedikkan bahunya. "Gambarmu …" Edrea mulai, ragu. “Penuh perasaan. Kau pasti seniman handal.” Oz menatapnya. "Kau sedang memujiku?” Edrea tertawa. “Tapi … gambar itu seperti bentuk pemberontakan.” “Hmm … depressing.” Oz menjawab. "Ya, itu juga. Dan aku bisa melihat … kemarahan itu. Apakah kau selalu menumpahkan kemarahanmu melalui lukisan atau gambar?” Oz terdiam lama. Dia menatap mata biru yang seperti lautan ituz "Kau melihat itu?" Edrea mengangguk. "Apakah tebakanku benar?” Oz mengangkat bahu, mencoba terlihat acuh. “Kau punya media untuk menyalurkan semua perasaanmu, sedangkan aku tidak. Apa kau bisa mengajari aku?” Oz tertawa pelan. “Harus ada bakat. Jika tidak punya, maka gambarmu akan seperti anak TK.” Edrea mencebik dan memukul bahu Oz. Mereka kemudian tertawa bersama. "Kenapa kau begitu… menyebalkan, Oz?" tanya Edrea, tanpa rasa marah lagi seperti sebelumnya. Oz memiringkan kepalanya, senyum kecil yang tetap menyebalkan. "Aku punya masalah dengan otoritas dan konsep normal. Tapi apa yang kau lihat, itulah yang kau dapat. Tidak ada topeng. Inilah aku yang sebenarnya." Edrea mencerna kata-katanya. Dia ingat temannya, yang selalu tampak sempurna di media sosial, selalu mengatakan kata-kata bijak, tapi ternyata seorang penipu. Dibandingkan dengan itu, kejujuran Oz yang kasar terasa lebih aman dan menyenangkan. "Dan kau?" tanya Oz, bertanya balik. "Kenapa kau bisa setega itu mentolerir roomate seperti aku? Kau jelas tipe orang yang rapi, terorganisir. Kau bisa keluar dan mencari rumah sewa baru." Edrea menghela napas. "Karena … kau lebih manusiawi daripada orang-orang yang kutemui di perusahaan. Dan bahkan mungkin hanya kau yang paling manusiawi yang pernah kutemui di kota ini." Tuan Kim muncul lagi, mengisi ulang teh mereka tanpa diminta. "Makanannya menyembuhkan kegalauanmu, Nona?" tanyanya. Edrea tersenyum, tulus kali ini. "Ya, Tuan Kim. Terima kasih." Dia mengangguk pada mereka berdua sebelum kembali ke dapurnya. Mereka pun akhirnya menyelesaikan makan mereka. Saat akan membayar, Oz bersikeras menanggung semuanya. "Kau banyak hutanh dan aku tak tega melihat hidupmu yang miris. Biarkan aku yang membayar.” "Apa? Kau pikir aku semenyedihkan itu? Dasar pengangguran!" bantah Edrea. "Aku berbicara fakta. Kau tak mau makanan gratis? Biasanya kau mengejar kupon makan gratis, kan?” sahut Oz sambil mengeluarkan uangnya dari kantong celananya. Dan akhirnya Edrea membiarkannya. “Menyebalkan!” gumamnya berbisik, tapi dia senang karena uangnya tidak berkurang malam ini. * * Perjalanan pulang naik subway malam hari terasa berbeda. Mereka berdiri berdekatan, berpegangan pada tiang yang sama, tubuh mereka bergoyang seirama dengan gerakan kereta. Tidak ada yang banyak bicara. Namun ketika kereta mulai ramai dan berdesakan, Oz dengan cepat melindungi Edrea dengan tubuh tingginya dari senggolan penumpang lain. Edrea mengangkat kepalanya dan mata mereka saling bertemu. “Kau belum terbiasa dengan hal ini,” bisik Oz. Edrea hanya mengangguk lalu menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah. * * Sampai di apartemen, suasana yang tetap penuh dengan barang-barang Oz yang berserakan justry terasa seperti rumah. Bukan lagi tempat yang membuat Edrea ingin segera pindah. "Terima kasih untuk malam ini," kata Edrea sambil melepas coat-nya. Oz langsung membuka jaketnya dan menuju kamar mandi tanpa menjawab apa pun. Edrea hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Oz yang terbilang cukup cuek itu. Tapi, meskipun begitu, Edrea sudah tahu bahwa Oz adalah pria yang penuh empati di balik karakternya yang cuek dan menyebalkan. * * Oz dan Edrea berbaring miring saling menatap, terpisah oleh sebuah batas, yaitu selimut yang dilipat memanjang di antara mereka. "Kau tahu," Edrea mulai, jari-jarinya menelusuri sarung bantal katun yang dingin. "Aku pikir … punya teman serumah dan sekamar … ternyata tidak semenyeramkan yang kubayangkan." Oz terdiam. Itu satu hal yang dipelajari Edrea tentangnya, di balik semua ucapan menyebalkan dan kekacauannya, Oz adalah pendengar yang baik. "Dulu," lanjut Edrea, menatap mata Oz, "aku membayangkan ini akan seperti penjara. Harus berbagi udara, kebisingan, kekacauan … dengan orang asing. Tapi ternyata, di tengah semua ini …" dia melambaikan tangannya, mengisyaratkan seluruh kekacauan di sekeliling ranjang, "… aku justru aku tak merasa sendirian lagi." "Kebisingan dan kekacauanku adalah pengisi kesepian yang bagus untukmu, hmm?" sela Oz, nadanya datar. "Bukan." Edrea agak bangun, menyangga kepalanya dengan telapak tangan. Selimut pembatas antara mereka bergeser sedikit. "Maksudku … ada suara kehidupan lain di sini. Ada napas yang bukan napasku. Ada gerak gerik lain. Meski itu cuma suaramu yang menyebalkan tau mendengarkan musik anehmu itu … itu mengingatkanku bahwa aku bukan satu-satunya orang yang sedang berjuang di kota ini. Dulu, apartemenku sangat sepi dan membosankan.” "Kau selalu sendirian?” tanya pria itu. "Ya," sahut Edrea. "Aku punya teman hanya saja terkadang aku menolak untuk bersosialisasi lebih jauh karena ingin hidupku tertata rapi dan tidak tersandung masalah. Tak ada yang akan menolongku jika aku bermasalah.” "Jangan membuat masalah di sini meskipun aku teman serumah-mu. Aku juga tak mau repot dengan masalahmu.” Oz mengangkat alis, senyum tengil di sudut bibirnya. “Ck!” Edrea memukul lengan Oz. “Apakah kau punya keluarga, Oz?” tanya Edrea. “Ya, tapi tidak dekat.” Edrea melihat ekspresi Oz yang berubah. Edrea paham bahwa mungkin Oz tak mau membahas keluarganya. Mungkin, keluarga Oz juga bermasalah seperti keluarganya. “Oh ya, kemana saja kau beberapa hari ini? Kau menghilang begitu saja lalu tiba-tiba sudah ada di ranjang dan memelukku. Jangan lakukan itu lagi atau aku akan memukulmu dengan palu!” Edrea mengalihkan topik. “Jangan lakukan apa? Jangan menghilang atau jangan memelukmu?” Oz kembali menampakkan senyumnya yang khas. “Jangan memelukku sembarangan, Oz!” “Hmmm … baiklah … tapi aku tidak janji.” “Oz!” Edrea beranjak duduk. Oz menarik tangannya dan membuat Edrea melanggar batas selimutnya sendiri. “Kau suka padaku?” tanya Oz menggoda. “Cih! Kau narsis sekali! Tidak, aku tak suka padamu. Aku tak suka pengangguran,” ujar Edrea sambil melepaskan tangan Oz. Oz tertawa pelan. “Hei, apakah kita perlu taruhan? Kau akan jatuh cinta padaku hanya dalam beberapa hari saja.” “Apa? Percaya diri sekali kau! Ck, sudahlah, semakin lama mengobrol denganmu—kau semakin menyebalkan. Selamat malam, Annoying Man!” Lalu Edrea mematikan lampu mejanya dan membalik tubuhnya untuk tidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN