Tiga minggu.
Waktunya berlalu dengan irama yang aneh. Terkadang seperti sirup yang manis, penuh dengan hari-hari di mana Edrea dan Oz saling mengobrol panjang dan bercanda.
Di hari-hari lain, dipenuhi debat kusir tentang siapa yang lupa membeli tisu, tawa terbahak-bahak menonton acara televisi larut malam, atau keheningan nyaman saat mereka membaca di sofa yang sama, dengan kaki yang nyaris bersentuhan.
Ibarat Tom and Jerry. Satu mengejar, yang lain menghindar. Satu merencanakan keteraturan, yang lain adalah menciptakan badai.
Tapi tanpa disadari, pertengkaran mereka sudah kehilangan sengitnya. Sekarang lebih seperti keakraban yang justru menghangatkan rumah itu.
*
*
Satu hari kota diguyur hujan yang deras. Angin menderu keras. Edrea, yang sedang mencoba menyelesaikan pekerjaannya, merasa konsentrasinya hancur berantakan.
Tak lama ada bunyi tetesan air yang terus-menerus di plafon. Dia mengangkat pandangannya. Satu tetesan air, lalu dua, lalu tiga, dan seterusnya.
"Oz!" teriak Edrea, suaranya terdengar di sela gemuruh hujan.
Dari balik pintu, Oz muncul, rambutnya acak-acakan karena baru sana bermain game. "Hmm?"
"Atap bocor. Lagi." Edrea menunjuk ke tetesan di plafon yang semakin deras.
Oz melirik ke arah bocoran, lalu mengangkat bahu. "Ah. Iya. Nanti juga berhenti sendiri."
"Berhenti sendiri? Airnya sudah merembes ke plafon, Oz! Bisa rusak, dan kemudian bocor ke kamar kita!" Edrea sudah berdiri, tangannya terlipat di d**a.
Dia mengenakan kaos oblong besar milik Oz karena bajunya kemarin tak kering akibat mesin cucinya bermasalah, rambutnya diikat tinggi yang sudah mulai berantakan.
"Plafonnya sudah jelek dari awal," bantah Oz dengan santai, kembali memandangi plafon.
"Dan kau akan membiarkannya? Come on! Barang-barang kita akan basah jika air sampai menetes ke bawah!”
"Sekarang belum menetes, kan? Jadi itu artinya masih aman." Ucapannya begitu santai, begitu bebas dari beban, dan itu membuat darah Edrea mendidih.
"Apa? Kau menunggu sampai air itu menetes ke kamar? Aku punya barang, punya pekerjaan, punya … rutinitas! Aku tidak bisa pindah begitu saja jika tiba-tiba plafon itu jebol. Aku tidak seperti … seperti kau yang tak punya banyak pekerjaan!" ujarnya, suara mulai meninggi.
Mata Oz yang abu-abu itu menyipit. "Aku tidak punya banyak pekerjaan sepertimu? Ah ya, maaf jika kehadiranku mengganggu rutinitas-mu yang sempurna itu."
Percikan pertengkaran itu menyala lagi. Tapi Edrea terlalu kesal untuk terjebak dalam perdebatan lagi. Dia melihat tetesan itu semakin deras, membentuk lingkaran basah yang semakin lama semakin besar.
"Oke, aku tak butuh kau di sini!" gerutu Edrea.
Dia lalu berjalan ke luar kamar, menuju ke lemari penyimpanan, mengambil senter besar dan sebuah kotak perkakas tua yang dia temukan teronggok di sudut saat pertama pindah.
Tanpa peduli lagi pada Oz, dia menarik sebuah kursi kayu ke bawah titik bocor, lalu mendorong langit-langit yang berfungsi sebagai akses ke loteng.
"Kau mau apa?" tanya Oz.
"Melakukan perbaikan sementara. Karena jelas-jelas tidak ada orang lain yang peduli!" sahut Edrea dari atas kursi, berusaha mengintip ke dalam kegelapan plafon loteng.
"Rea, itu berbahaya.”
"Lebih berbahaya membiarkan rumah kita kebanjiran!"
Dengan napas tersengal, Edrea menarik tubuhnya naik ke loteng. Loteng plafon itu gelap, sempit, dan berdebu tebal.
Sinar senter menampakkan kerangka kayu tua. Suara hujan di atap terasa sangat dekat dan berisik.
Edrea merangkak pelan-pelan, mengikuti sumber suara tetesan. Kayu di bawahnya berderit.
Di suatu sudut, dia menemukan sumbernya, sebuah paku atap yang karatan, membuat air mengalir deras masuk.
"Ketemu sumbernya!" teriaknya ke bawah, suaranya terdengar teredam.
"Diam saja di sana! Aku akan mengambilkan sesuatu!" teriak Oz dari bawah. Edrea mendengar suara Oz membuka-menutup lemari, lalu tak lama kemudian, wajahnya muncul di lubang akses, tangannya mengulurkan sebuah ember kosong dan sebuah kotak kardus kecil. "Ambil ini. Dan … hati-hati."
Nada suaranya berbeda. Tidak lagi santai, tapi tegas. Edrea meraih barang-barang itu. Dia membuka kotak kardus dan terkejut.
Isinya bukan perkakas seadanya. Ada beberapa alat dan bahan berkualitas.
"Dari mana kau dapat ini?" tanya Edrea, bingung.
"Jangan banyak tanya. Tempelkan isolasi khusus itu di sekitar lubang dan paku yang karatan. Pastikan permukaannya kering dulu dengan kain ini," Oz melemparkan sebuah kain lap ke atas. "Lalu lapisi dengan semen itu di atasnya.”
Instruksinya jelas. Edrea patuh mengikutinya. Tangannya sedikit kikuk memegang cutter dan rol isolasi.
Dia berusaha mengeringkan area basah, lalu memotong dan menempelkan isolasi aluminium. Kerjanya berantakan. Tape menempel tidak rata, berkerut.
"Jangan asal tempel!" teriak Oz dari bawah, seolah bisa melihatnya.
"Kau pikir ini mudah?!" balas Edrea, frustasi. Debu membuat matanya perih, posisi merangkak membuat punggungnya sakit.
"Turun! Biar aku yang lakukan."
"Tidak usah! Aku bisa!"
"Rea, turun. Sekarang!"
Dengan gerakan hati-hati, Edrea merangkak mundur ke lubang plafon. Oz sudah menunggu di bawah.
Tanpa banyak bicara, dia memegang pinggang Edrea dengan kuat dan membantu menurunkannya dengan aman.
Sentuhan tangannya yang besar terasa hangat dan sempat-sempatnya membuat Edrea merinding.
Kemudian, dengan gesit, Oz menarik tubuhnya sendiri naik ke loteng. Dia mengambil senter dan kotak perkakas dari Edrea.
Edrea berdiri di bawah, menatap ke atas. Dia mendengar suara Oz bergerak di atas sana. Suara cutter memotong, suara isolasi ditempelkan, lalu bunyi kaleng semen dibuka dan dioleskan.
Dalam waktu sepuluh menit, wajah Oz yang kotor karena debu muncul di lubang. "Sudah. Itu tahan untuk beberapa lama. Tapi butuh perbaikan permanen. Nanti aku akan bilang Nenek Alma untuk memanggil tukang yang dia kenal." Dia turun dengan mudah, mendarat ringan di lantai.
Edrea memandanginya, heran. Lalu dia mengambil tisu di meja samping dan kemudian tangannya terangkat membersihkan wajah Oz yang berantakan.
“Menyebalkan! Kau tetap saja tampan meskipun berantakan!” gumam Edrea.
Oz kemudian mengacak rambut Edrea, dan perselisihan mereka malam itu pun berakhir damai.
“Kau sudah jatuh cinta padaku atau belum?” tanya Oz.
Edrea menonjok perut Oz dan berbalik pergi. “Bersihkan tubuhmu sebelum naik ke ranjang. Awas saja kalau masih kotor, kau akan tidur di luar!”
*
*
Pukul sepuluh malam, Edrea dan Oz sudah ada di atas ranjang. Seperti biasa mereka tak langsung tidur, melainkan saling mengobrol ringan.
Hujan di luar mulai reda, menjadi gerimis yang berbisik.
"Terima kasih," ucap Edrea.
Oz mengangguk, tak banyak bicara.
"Kau tahu," kata Edrea setelah beberapa saat, "Mungkin kita ini kombinasi yang bagus. Aku yang panik dan bergerak cepat. Kau yang tenang dan tahu cara memperbaikinya."
"Atau," tambah Oz dengan senyum tipis, "Aku yang merusak, kau yang bersih-bersih. Aku yang membuat kekacauan, kau yang … sedikit merapikannya."
"Mungkin keduanya," Edrea tersenyum balik. "Tapi hari ini, kau yang merapikan kekacauan. Lumayan berkembang."
Oz tertawa, suaranya hangat di telinga Edrea. Edrea merasa sesuatu di dalam dirinya meleleh. Dia masih mmbentengi dirinya dari rasa sukanya pada Oz.
Wanita mana yang tak suka pada pria seperti Oz. Tampan, tengil, tapi penuh empati meskipun menyebalkan.
Tapi, Edrea terlalu takut untuk melangkah maju dalam sebuah hubungan. Dia ingin hidupnya tak bermasalah dan di matanya—dia merasa Oz adalah pria yang bermasalah meskipun baik.
Oz tak memiliki pekerjaan yang pasti. Pria itu masih misterius di matanya, bahkan terkadang tak pulang sehari dua hari entah ke mana.
*
*
*
Jam di sudut layar laptop Edrea menunjukkan pukul 4PM. Dalam dua menit, deadline laporan keuangan proyek harus terkirim ke divisi Keuangan dan manajemen senior.
Fokus, Edrea, hardiknya pada dirinya sendiri. Jarinya masih sibuk mengetik, lalu membuka folder terakhir.
Laporan akhir sudah diperiksa dua kali, dan disimpan. Lalu dia mengirimnya ke email Gareth, Manajer Senior.
Edrea menghela napas panjang, menutup matanya sejenak. Selesai. Paling tidak satu tugas sudah selesai dari daftar.
Edrea mulai membereskan meja kerjanya yang sempit, berencana segera pulang dan bertemu Oz, pria yang diam-diam mulai dirindukannya ketika dia di kantor.
Lalu, telepon di mejanya berdering. Bukan nada yang biasa, tapi nada khusus untuk panggilan internal dari manajemen senior. Jantungnya langsung berdegup kencang.
“Halo,” suaranya terdengar jelas dan sedikit nyaring.
“Edrea. Ke ruanganku. Sekarang.” Suara Gareth di seberang garang dan dingin. Lalu, telepon ditutup.
Dingin tiba-tiba menjalar dari ujung kaki ke ubun-ubun Edrea. Apa yang salah? Apakah ada angka yang meleset? Format yang salah?
Dengan ragu, dia berjalan menyusuri koridor yang mulai sunyi. Kantor Gareth berada di sudut, dengan dinding kaca yang memandang ke kota.
Dia mengetuk pintu. Suara “Masuk!” dari dalam terdengar keras dan jelas.
Gareth Stone duduk di balik meja yang sangat rapi. Wajahnya lebih serius dari biasanya. Di depan dia, layar laptopnya terbuka, dan wajahnya memperlihatkan kemarahan.
“Duduk,” perintahnya, tanpa menyapanya.
Edrea duduk di kursi di seberangnya, punggungnya terasa kaku.
“Apa yang ada di pikiranmu?” tanya Gareth, suaranya datar, menusuk.
“Saya … maaf, Tuan? Maksudnya?” sahut Edrea terbata, lidahnya terasa kaku.
Gareth memutar layar laptopnya sehingga menghadap Edrea. Di sana, terbuka email yang baru saja dia kirim. Tapi yang disorot adalah lampiran yang salah.
Edrea baru menyadari itu, dia salah mengirim email. Dia membeku, matanya menatap nama file yang salah itu, tak percaya.
‘Tidak. Tidak mungkin.’
“Saya … saya tidak …,” gumamnya, otaknya berputar cepat, mencoba mengingat. Tab yang salah. Dia pasti menyeret file dari tab yang salah.
‘Oh, Tuhan.’
“Kau tidak apa …?” hardik Gareth, sekarang suaranya meninggi. “Kau tidak berpikir? Kau tidak memeriksa? Kau tahu apa yang hampir terjadi? Laporan bodoh ini nyaris dikirim ke divisi Keuangan dan manajemen direksi! Bayangkan jika mereka membukanya! Bayangkan jika mereka melihat kita mengirimkan draft yang salah, penuh catatan dengan angka yang asal-asalan?!!”
Setiap kata seperti cambuk bagi Edrea. Edrea merasa pipinya terbakar, air mata sudah menggenang di kelopak matanya, tapi dia berusaha menahannya. Dia tak pernah melakukan kesalahan selama ini.
Bahkan dia termasuk pegawai yang selalu cepat dalam mengerjakan tugasnya. Dia jarang menerima keluhan dari atasannya atau pun rekan kerjanya.
Jadi, jelas ini membuatnya shock. “Saya … sangat menyesal, Tuan. Itu kesalahan yang sangat bodoh. Saya minta maaf, mungkin saya sedikit lelah dan—“
“Sedikit lelah?!” Gareth memotong, berdiri dari kursinya. Badannya besar, membayangi Edrea. “Kita semua lelah! Ini bukan taman kanak-kanak di mana kau bisa beralasan lelah!
Edrea menggigit bibir bawahnya sampai terasa sakit untuk menahan tangis.
“Untungnya,” lanjut Gareth, “Staf di Keuangan cukup teliti untuk memberi tahuku sebelum membukanya. Tapi bayangkan jika mereka tidak? Reputasi divisi kita, reputasiku, bisa hancur karena kelalaian satu orang yang tak kompeten! Kau mau dilempar ke kantor cabang lagi??”
Edrea mengepalkan tangannya dengan erat, menahan tangisannya jatuh.
“Ini adalah peringatan pertama dan terakhir, Edrea. Jika ada satu kesalahan lagi, satu saja, yang memalukan divisi ini, kau tahu konsekuensinya. Sekarang, keluar dari ruanganku. Dan kirimkan laporan yang benar dalam waktu lima menit. Jangan membuat kita terlihat bodoh!”
Edrea bangkit, lututnya terasa lemas. Dia tidak bisa bicara. Hanya bisa mengangguk kecil, pandangannya kabur karena air mata yang sudah menggenang.
Dia berbalik, membuka pintu kaca, dan berjalan keluar. Saat pintu tertutup di belakangnya, dia mendengar suara Gareth menelepon seseorang, masih dengan nada kesal.
Perjalanan menyusuri koridor menuju mejanya. Dia merasa semua mata pegawai yang masih ada di sana menatapnya, meski kantor sudah hampir sepi.
Pipinya kemudian basah, air mata akhirnya meluap, mengalir deras. Dia duduk di kursinya, tubuhnya gemetar.
Dengan tangan bergetara, dia membuka laptop, menemukan file yang benar, dan mengirimkannya dengan email permintaan maaf singkat yang ditulis dengan jari-jari yang dingin dan gemetar.
Lalu ada email dari Gareth lagi: “Diterima. Pulang. Jangan ulangi.”
Itu saja.
Dia membereskan tasnya dengan gerakan lemah. Langkahnya pelan dan ragu ketika meninggalkan gedung perkantoran yang megah itu.
*
*
Sampai di depan pintu rumah, Edrea menarik napas dalam-dalam, berusaha membersihkan wajahnya yang sudah belepotan dengan sapu tangan.
Dia tidak ingin Oz melihatnya seperti ini. Dia ingin masuk, langsung ke kamar, dan menyembunyikan diri dalam kegelapan.
Tapi saat dia membuka pintu, aroma bawang putih yang ditumis, bercampur dengan aroma kaldu yang gurih.
Edrea melangkah menuju dapur kemudian meletakkan tasnya di atas meja makan.
Oz berdiri di dapur, dengan celemek kain kotak-kotak, barang yang tidak pernah Edrea lihat sebelumnya—diikat longgar di pinggangnya yang tak memakai kaos. Wajan ada di tangannya. Dia sedang menggoreng sesuatu.
“Kau sudah pulang?” ucapnya, lalu berbalik.
Senyum kecil di wajahnya langsung lenyap saat melihat keadaan Edrea. Mata Edrea yang bengkak dan merah, wajah pucat, tubuh yang tak bertenaga.
“Hei,” ucap Oz, suaranya berubah menjadi lembut, seketika. Dia mematikan kompor. “Hei, apa yang terjadi?”
Pertanyaan sederhana itu seperti memecah bendungan emosi Edrea. Edrea diam bersandar di dinding, dan isak tangis yang sejak tadi dia tahan meledak.
Dia menangis terisak-isak, bahunya terguncang-guncang, tangannya menutupi wajahnya.
Oz tidak berkata apa-apa. Dia melepaskan celemeknya, mendekat dengan langkah cepat, dan tanpa ragu-ragu, menarik Edrea ke dalam pelukannya.
Dan Edrea, yang biasanya akan menjauh, membiarkan dirinya terjatuh ke dalam pelukan itu. Dia menangis di bahu Oz yang lebar, merasakan kehangatan dan rasa aman.
Tangannya memegang erat punggung Oz. Oz hanya memeluknya, diam, membiarkannya menangis sampai habis.
Tangannya menepuk-nepuk punggung Edrea dengan gerakan yang menenangkan. Sesekali tangannya membelai rambut Edrea.
Oz belum menanyakan apa pun dan itu yang membuat Edrea selalu nyaman bersama Oz. Dia merasa bahwa Oz lah yang paling mengerti dirinya