Perasaan Yang Tak Bisa Disangkal Lagi

2245 Kata
Setelah beberapa lama, tangis Edrea mereda menjadi isakan pelan. Oz membawanya ke sofa, mendudukkannya, lalu mengambil sebotol air dan selembar tisu. “Minum,” perintahnya dengan suara lembut. Edrea menuruti perintahnya, tangannya masih gemetar. “Mau cerita?” tanya Oz, duduk di depannya, di atas meja rendah, matanya begitu perhatian tak cuek seperti biasanya. Dan dengan suara tersendat-sendat, Edrea menceritakan semuanya. Kesalahan bodoh itu. Teriakan Gareth. Kata-kata yang melukai hatinya. Rasa malu yang begitu dalam. “Aku merasa sangat … bodoh,” bisiknya pada akhirnya. “Aku merasa seperti orang yang tidak kompeten. Dan ini adalah kesalahan pertamaku sekaligus terakhir. Tuan Gareth mengancam akan mendepakku lagi ke kantor cabang jika aku melakukan kesalahan lagi. Padahal aku ini kesalahan pertamaku sejak bekerja di kantor pusat.” Oz mendengarkan dengan serius, tidak menyela, tidak memberikan nasihat murahan. Saat Edrea selesai, dia menghela napas. “Semua orang pernah salah kirim email,” katanya akhirnya, suaranya tenang. “Dan kurasa Gareth terlalu berlebihan.” Edrea memandangnya. “Benar, kan? Dia berlebihan dan menyebutku bodoh. Padahal aku lulusan terbaik di kampus.” Wajah Edrea begitu lucu hingga membuat Oz hampir tertawa, tapi dia menahannya. “Kesalahannya sudah terjadi. Ditegur pun sudah. Sekarang, apa yang bisa kau kerjakan untuk memperbaikinya?” tanya Oz, logikanya sederhana namun tepat. Edrea melanjutkan. “Aku sudah mengirim laporan yang benar. Dan … berusaha tidak mengulanginya.” “Nah,” kata Oz. “Fokus pada itu. Pada apa yang bisa kau perbaiki. Bukan pada omongan si Gareth itu.” “Tapi dia benar, Oz. Aku kurang fokus. Aku lelah.” “Lelah oleh apa?” tanya Oz, matanya tajam. Edrea memandangnya, ke rumah yang berantakan tapi terasa seperti rumah, ke pria di depannya yang kini terlihat begitu berbeda dari sosok tidak peduli yang dulu dikenalnya. “Oleh … kehidupan di sini.” Oz tersenyum kecil, senyum yang tampak memahami perasaan Edrea. “Hidup itu memang melelehkan, Rea. Kau harus belajar mengaturnya. Seperti aku belajar menaruh cat di kanvas, bukan di lantai—kadang-kadang.” Dia berdiri, kembali ke dapur. “Sekarang, kau duduk saja. Makan malamku hampir selesai. Chicken noodle soup, versi Tuan Kim yang aku modifikasi. Dijamin membuatmu tersenyum lagi.” Edrea terduduk di sofa, memperhatikan Oz yang kembali sibuk di dapur. “Apakah itu tak beracun? Aman jika kumakan?” tanya Edrea sambil mengusap matanya yang berair. “Hei, jangan menghina masakanku,” sahut Oz. Edrea kemudian tersenyum tipis sambil memperhatikan pria itu. Pria yang sama yang tidak bisa membereskan piring selama tiga hari, ternyata bisa memasak untuk menghiburnya. Air matanya telah mengering, digantikan oleh rasa aman yang aneh. * * Makan malam mereka sederhana, di meja kecil yang penuh dengan coretan cat dan kertas sketsa. Makanan itu hangat, gurih, dan penuh rasa. “Ini enak. Terima kasih, Oz,” ucap Edrea. “Ya, kau memang harus berterima kasih padaku.” Edrea mencebik dan melanjutkan makannya. * * * Hujan di New York kali ini bukanlah hujan biasa. Hari itu, hujan turun dengan derasnya. Edrea harus pergi ke kantor. Ada presentasi penting yang tidak bisa diundur, meski hujan seakan ingin menggenangi seluruh kota. Dia berdiri di depan pintu, mengenakan jas hujan plastik tipis yang terlihat tak akan bertahan lima menit di luar. "Kau yakin harus pergi?" suara Oz yang muncul dari balik kanvas besar di sudut ruangan. Dia muncul dengan rambut yang lebih berantakan dari biasanya, ada noda cat hitam dan biru di wajahnya yang tampan. "Harus. Meeting dengan klien dari Tokyo. Mereka tidak peduli dengan banjir atau badai," jawab Edrea, mencoba memasang penutup sepatu plastik yang mudah sobek. Oz mengamatinya, lalu menghela napas. "Tunggu." Dia menghilang ke kamar dan kembali dengan sebuah jaket kulit yang terlihat tebal, dan sebuah payung besar yang gagangnya cukup kokoh. "Ini. Jaketku lebih tebal. Dan payung ini lebih meyakinkan dari pada jas hujanmu yang payah itu.” Edrea mengernyitkan keningnya. Oz memakaikan jaketnya pada Edrea. "Ayo. Aku antar kau ke jalan besar untuk cari taksi." "Oz, tidak usah—" "Rea," potongnya, matanya yang abu-abu itu menatapnya dengan serius. "Cepatlah.” Dan itulah yang terjadi. Edrea, dengan jaket kulit Oz yang terlalu besar, tapi hangat dan beraroma cat, kopi, dan sesuatu yang khas Oz. Pria itu memayunginya menyusuri trotoar yang sudah seperti sungai kecil. Air mengalir deras membentuk genangan-genangan dalam yang harus mereka hindari atau lompati. Oz berjalan di sisi yang menghadap jalan, melindungi Edrea dari cipratan air kotor dari mobil yang melintas. Dia tidak banyak bicara. Sesekali dia mendekatkan tubuhnya untuk melindungi Edrea dari hempasan angin. Tangannya yang memegang payung kuat dan stabil. Saat mereka menunggu lampu merah di sebuah persimpangan yang sudah mulai tergenang, sebuah truk melintas dengan kencang, menyemburkan air kotor setinggi pinggang. Dengan refleks cepat, Oz memutar tubuhnya, menempatkan dirinya sebagai pelindung Edrea. Air mengenai punggungnya dan samping tubuhnya dengan keras. "Oz!" teriak Edrea. "Diamlah, aku baik-baik saja," ucapnya, mengusap air dari wajahnya. Tapi bajunya sudah basah kuyup. Edrea memandangnya, rasa haru yang aneh menyelimuti hatinya. Pria ini, yang hidupnya tampak tak teratur, ternyata memiliki naluri protektif yang begitu kuat. Pria itu tidak melakukannya untuk pujian. Dia melakukannya karena itu hal yang harus dilakukan. Rasa pertahanan yang selalu Edrea rasakan terhadap Oz, perlahan-lahan retak. * Mereka akhirnya berhasil mendapatkan taksi setelah hampir dua puluh menit. Oz membukakan pintu untuknya. "Terima kasih, Oz," kata Edrea. "Jangan lupa jaketku," balasnya, dengan anggukan singkat. "Pulangnya telepon aku saja, aku akan jemput di sini." Dan dia berbalik, berjalan kembali ke arah rumah mereka, tubuhnya yang basah kemudian menghilang. Edrea menatapnya sampai taksi belok, perasaan anah itu semakin kuat. ‘Mungkin,’ pikirnya, ‘aku mulai jatuh cinta padanya meskipun aku selalu menghindari perasaan itu karena rasa takut.’ * * Sepanjang hari itu, Edrea cukup sibuk. Gareth benar-benar membuatnya sibuk dan seakan mencari-cari kesalahannya. Sore harinya, alarm di ponsel Edrea berdering. Edrea melihat ponselnya. Itu adalah peringatan tanggal ulang tahun Oz. “Oz berulang tahun hari ini? Oh my ... kenapa akh bisa lupa? Padahal aku sudah mengingatnya semingg yang lalu,” gumamnya berbisik. Dia harus membeli kue untuk Oz karena dia sudah meniatkan hal ini sejak Oz memberitahu tanggal ulang tahunnya waktu itu. * * Setelah kerja, meski hujan belum reda, Edrea pergi ke toko kue kecil yang masih buka di dekat kantor. Dia memesan sebuah kue kecil, satu porsi, dengan hiasan sederhana. ‘Happy Birthday, OZ’ ditulis dengan huruf cokelat. Saat menunggu, dia juga membeli lilin angka, sebuah lilin sederhana berbentuk angka. Tapi dia lupa karena dia tidak tahu umur Oz. Mungkin dua puluh sembilan? Tiga puluh? Dia memilih angka 3 dan huruf X karena dia tak tahu harus mengisi angka berapa. * Perjalanan pulang ternyata cukup berat. Hujan masih deras, angin bertiup kencang. Edrea membawa kue yang terbungkus rapi di dalam kotak kardus, lalu dibungkus lagi dengan plastik. Dia melindunginya dengan tangannya, tapi angin menerpa, menyemburkan hujan dari segala arah. Plastik pembungkus mulai basah. Kartonnya terasa lembap. Tanpa berpikir panjang, Edrea melepas jas hujan tipisnya. Dia membuka kancingnya, lalu dengan hati-hati membungkus kotak kue itu dengan jas hujan, membuatnya menjadi sebuah bungkusan kedap air yang tidak rapi. Hujan langsung menghujani baju kerja dan rambutnya, tetapi dia tidak peduli. Satu-satunya misi sekarang adalah membawa kue itu pulang dengan selamat. Dia naik subway dengan keadaan basah kuyup, menarik perhatian beberapa orang. Tapi dia hanya memeluk bungkusan di dadanya. Saat turun di halte terdekat dari rumah, hujan masih sama derasnya. Dia berjalan dengan susah payah, air merembes masuk ke sepatunya, membuatnya dingin dan tidak nyaman. Tapi dia hampir sampai. Beranda depan rumah tua itu licin oleh air hujan. Edrea, dengan sepatu haknya yang sama sekali tidak cocok untuk cuaca seperti ini, menggigil kedinginan, mendekati pintu. Hanya tinggal dua anak tangga. Dia mengangkat kaki, fokusnya tertuju pada kue yang dibawanya, pada kejutan yang akan dia berikan pada tengah malam nanti pada Oz. Tapi kemudian kakinya meleset. Sepatu haknya tergelincir di tangga kayu yang licin. Dengan teriakan kecil, tubuhnya terpelanting ke belakang. Dia jatuh terduduk dengan keras di anak tangga bawah, p****t dan punggungnya menahan, sementara kakinya terpelintir. Kotak bungkusan yang dia peluk erat-erat terlempar dari tangannya. Ia mendarat dengan menyedihkan di genangan air di samping tangga. Plastik dan jas hujan yang basah terbuka, memperlihatkan kotak kardus yang sekarang sudah penyok dan basah. "Tidak … oh no …,” desis Edrea, suaranya bergetar. Dengan tangan gemetar, dia merangkak di genangan air yang dingin, meraih kotak itu. Dia membukanya dengan hati-hati, air mata sudah mulai menggenang. Di dalamnya, kue kecil berbentuk bulat yang semula cantik, sekarang telah berubah bentuk. Lapisan krim di sampingnya menempel di sisi kardus, tulisan Happy Birthday OZ sekarang berantakan, huruf-huruf cokelatnya meleleh dan hancur. Lilinnya patah menjadi dua. Ini adalah sebuah kekacauan yang menyedihkan, dan jelas usahanya gagal total. Edrea terduduk di tangga yang basah, di tengah hujan yang masih mengguyurinya, memeluk kotak kue yang hancur. Rasa frustrasi, kedinginan, kegagalan, dan sakit di lututnya semuanya menjadi satu. Dia menangis, air matanya bercampur dengan air hujan di wajahnya. Suara kayu berderit dari dalam. Pintu rumah terbuka. Oz berdiri di sana dan matanya langsung melebar saat melihat pemandangan di depan pintu. Edrea, basah kuyup seperti anak kucing yang kehujanan, duduk di tangga, bajunya yang bagus untuk kerja penuh lumpur dan air, rambutnya menempel di wajahnya yang pucat dan basah oleh air mata. Dan di pelukannya, ada sebuah kotak kardus yang menyedihkan berisi sesuatu yang tampak seperti kue. "Rea?" suara Oz terdengar keras, karena khawatir. "Apa yang terjadi?" Edrea mengangkat wajahnya, air mata mengalir deras. "Aku … aku jatuh. Dan … ini …" Dia tidak bisa melanjutkan. Dia hanya menunjuk ke kue yang hancur itu, seolah-olah itu menjelaskan segalanya. Oz tidak berkata apa-apa. Dia melangkah keluar, tidak peduli hujan yang langsung membasahi tubuhnya. Dengan gerakan pelan tapi pasti, dia meraih kotak kue dari pelukan Edrea dan meletakkannya di samping tangga. Lalu, dia meraih kedua lengan Edrea. "Ayo masuk," gumamnya. Dengan mudahnya, dia mengangkat tubuh Edrea. Edrea merasakan kehangatan tubuhnya melalui bajunya yang basah, dan itu kontras dengan dinginnya hujan. Oz membawanya masuk, menendang pintu tertutup dengan kakinya. Dia meletakkan Edrea dengan hati-hati di kursi kayu dapur, lalu berlutut di depannya. Tanpa bertanya, dia mulai memeriksa kakinya. "Lututmu terluka. Pergelangan kaki bengkak. Bodoh sekali berjalan dengan sepatu itu di tengah hujan," gerutunya, tapi nadanya tidak marah. “Bukankah aku sudah bilang akan menjemputmu di depan?” Edrea tak menjawab. Tubuhnya menggigil dan isakannya masih terdengar. Oz pergi ke kamar mandi dan kembali dengan handuk bersih, kotak P3K, dan sebuah selimut wol tebal. Pertama, Oz mengeringkan rambut Edrea dengan handuk, gerakannya cepat tapi lembut. Lalu, dia membuka jaket kulitnya yang dipakai Edrea dan menyelimutinya dengan selimut wol tebal. Baru setelah itu, dia membersihkan luka di lutut Edrea yang lecet dan membalutnya dengan plester, lalu membalut pergelangan kakinya yang bengkak dengan perban elastis. Sepanjang waktu itu, Edrea hanya diam, menatap pria tampan yang begitu perhatian padanya. Tangisnya sudah berhenti. Oz tidak bertanya tentang kue. Dia hanya fokus merawat kakinya. Setelah selesai, dia duduk di lantai di depan kursi, menatap Edrea. "Kenapa tadi bisa terjadi? Dan … apa itu?" Dia menunjuk ke arah kotak kue yang malang yang sekarang diletakkan di meja kopi olehnya. Edrea menarik napas dalam-dalam. "Itu … untukmu." Oz terdiam, wajahnya heran. "Untukku?" “Hari ini ulang tahunmu, kan?" Suara Edrea kecil. "Aku hanya ingin … memberimu sesuatu. Tapi … lihatlah. Aku merusak segalanya. Aku jatuh, kuenya hancur, basah … semuanya sia-sia." Suaranya tercekik lagi. Oz menatapnya, lama sekali. Ekspresi di wajahnya perlahan berubah. "Kau … keluar dalam hujan angin … membeli kue … untukku?" ucapnya perlahan, seolah memastikan. Edrea mengangguk, tidak bisa berkata-kata. "Dan kau melepas jasmu … untuk melindungi kue itu?" "Bungkusnya basah … aku takut kuenya rusak," bisik Edrea. Oz memalingkan wajahnya sebentar, menarik napas dalam. Ketika dia menatapnya lagi, ada kelembutan di mata abu-abunya. "Rea," ucapnya, suaranya serak. "Terima kasih. Aku anggap kau sudah memberikan kue itu padaku dengan selamat.” Kemudian, Oz meraih kotak kue yang basah itu. Dia membukanya, mengeluarkan piringan kue yang lembek dan berantakan. Dengan hati-hati, dia mengambil bagian yang masih bisa diselamatkan, sekitar sepertiga dari kue itu, yang masih memiliki sedikit tulisan 'OZ' yang meleleh. Oz mengambil lilin angka yang patah itu, menancapkannya dengan susah payah ke atas kue yang lumayan hancur. Dari dapur, dia mengambil korek api. Dia menyalakan lilin itu. Api kecil itu berkedip, lalu menyala, menerangi kue yang menyedihkan itu dengan sinar yang hangat. Oz membawa piring itu, dengan lilin menyala, dan berlutut lagi di depan Edrea. "Aku sudah lama tidak merayakan ulang tahun," katanya, matanya menatap lilin, lalu menatap Edrea. "Tapi ini … ini adalah kue ulang tahun terbaik yang pernah kumiliki." Edrea merasa terharu. "Tapi itu hancur." "Tidak," bantah Oz, tegas. "Itu sempurna. Karena kau hampir mati kedinginan dan terluka untuk membawanya pulang untukku. Tidak ada kue di dunia yang pernah memiliki cerita di belakangnya seperti ini." Kemudian, dengan sangat perlahan, Oz meniup lilin itu. Asap tipis mengepul. Dia meletakkan piring di meja makan, dan tanpa kata-kata lagi, dia merangkul Edrea. Sesuatu yang dalam dan hangat yang membuat Edrea merasa aman dalam pelukan pria itu. Dia bisa merasakan detak jantung Oz yang kuat di dadanya, berdegup kencang, sama seperti jantungnya sendiri. "Terima kasih," bisik Oz di dekat telinganya, suaranya serak. "Tidak hanya untuk kuenya. Untuk … segalanya." Di pelukannya, di kehangatan rumah mereka yang berantakan, Edrea akhirnya membiarkan dirinya merasakan apa yang sudah lama dia tolak. Edrea menyadari bahwa dia tidak hanya bersyukur memiliki Oz. Dia mungkin, mulai jatuh cinta pada pria cuek, berantakan, namun paling manusiawi dan bertanggung jawab yang pernah dia temui di New York ini. “Happy birthday, Oz,” bisik Edrea dan membalas pelukan Oz.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN