Pernyataan Cinta

1535 Kata
Keesokan paginya, Edrea masih tertidur lelap di ranjang. Pipinya kemerahan dan napasnya terdengar berat. Oz, yang sudah bangun lebih awal, segera menyadari kondisi Edrea karena wanita itu biasanya bangun pagi dan bersiap kerja. Ia menarik selimut pembatas, tangan kanannya dengan reflek menempel di dahi Edrea. “Panas sekali,” gumannya, wajahnya berkerut tanda khawatir. Ia teringat malam sebelumnya, Edrea kehujanan dan bahkan jatuh di tangga depan. Tanpa pikir panjang, Oz langsung beranjak ke kamar mandi, mengambil handuk kecil dan membasahinya dengan air. Dengan hati-hati dia melipat handuk itu dan meletakkannya di kening Edrea. Edrea bergerak sedikit, kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka. Pandangannya kabur, butuh beberapa saat untuk fokus pada sosok Oz yang sedang membungkuk di dekatnya. “Oz …?” suaranya serak, nyaris berbisik. “Jangan banyak bicara dulu. Kau demam,” ucap Oz lembut, membenarkan posisi handuk di keningnya. “Aku akan ambil termometer dan obat.” Edrea hanya bisa mengangguk pelan. Seluruh tubuhnya terasa lemas dan pegal, lutut kanannya yang terbentur tadi malam kini berdenyut-denyut nyeri. Namun, di tengah ketidaknyamanan itu, perhatian tulus dari Oz terasa seperti obat penenang. Ia mengikuti gerak Oz dengan matanya saat pria itu mondar-mandir mengambil barang ke kotak P3K-nya yang baru diketahui Edrea. Oz kembali dengan termometer digital dan secangkir air hangat. Dengan sabar, dia membantu Edrea duduk dan meletakkan termometer di ketiaknya. “38,7 derajat. Lumayan tinggi,” ujarnya setelah membaca angka di layar. “Ini, minum dulu obat penurun panas.” Edrea mengangguk lemas, menelan pil kecil itu dengan bantuan air hangat dari tangan Oz. Setelah itu, Oz meletakkan gelas dan kembali mendekat. “Lututmu masih sakit?” “Sedikit,” jawab Edrea, mencoba tersenyum kecil. “Tidak seberapa dibanding pusing ini.” “Aku ambilkan obat lagi untuk luka di lututmu.” Kali ini Oz kembali dengan sebuah salep merah berukuran kecil. Dengan gerakan sangat hati-hati, dia menggulung celana panjang hitam Edrea yang merupakan miliknya, sampai di atas lutut. Memar berwarna biru keunguan terlihat jelas di sekitar tempurung lutut kanannya. Oz mengeluarkan salep secukupnya, lalu mulai memijat area memar itu dengan tekanan sangat ringan. Jari-jarinya hangat, gerakannya begitu lembut. Edrea menahan napas. Bukan karena sakit, tapi karena sentuhan itu begitu intim dan penuh perhatian. Matanya menatap Oz yang begitu fokus merawat lukanya. Pria yang dia temui dalam keadaan kacau, yang hidupnya bebas tanpa ikatan, ternyata memiliki sisi lain yang begitu lembut dan penyayang. Rasa haru yang tiba-tiba menyergap membuat matanya berkaca-kaca. Setelah memastikan salep meresap, Oz membersihkan tangannya. “Kau pasti lapar. Tunggu sebentar, aku buatkan makanan.” “Oz, kau tidak harus …” protes Edrea lemah. “Diam saja dulu. Biar aku yang urus semuanya hari ini,” potong Oz dengan nada yang tidak bisa dibantah. Edrea menyerah, membiarkan dirinya berada dalam kenyamanan selimut dan perasaan dimanjakan yang jarang dia rasakan. Dari sudut matanya, dia melihat Oz sibuk di dapur kecil terbuka. Bunyi panci, suara sendok, dan aroma kaldu ayam yang mulai memenuhi ruangan. Adegan biasa ini terasa begitu luar biasa bagi Edrea. Di tengah kehidupan kotanya yang serba cepat dan penuh tekanan, momen sederhana ini begitu istimewa. Ia yang selama ini selalu harus kuat, mandiri, dan menanggung semuanya sendiri, tiba-tiba diberikan ruang untuk menjadi lemah, untuk dirawat. * * Setengah jam kemudian, Oz datang membawa nampan. Di atasnya ada mangkuk bubur ayam hangat yang menggida, irisan roti panggang, dan segelas jus jeruk. Oz meletakkan nampan di atas pangkuan Edrea dengan hati-hati. “Makanlah yang banyak. Supaya cepat sehat,” ujarnya sambil duduk di pinggir ranjang, mengawasi Edrea. “Kusuapi?” tanya Oz. “Tidak, aku bisa sendiri. Terima kasih,” sahut Edrea lemah. Bubur itu sederhana, tetapi rasanya pas dan gurih. Edrea menyuapnya perlahan, rasa hangat turun dari perutnya ke seluruh tubuh. “Ini enak,” bisiknya. “Hmm … aku tahu. Ini keahlianku,” sahut Oz dan membuat Edrea tertawa pelan. Oz merapikan rambut Edrea yang berantakan dan menutupi sebagian pipinya. Dengan perlahan, Oz mengikat rambut Edrea. “Thanks,” ucap Edrea. * * Setelah menghabiskan setengah mangkuk, Edrea menaruh sendoknya. Ia menarik napas dalam, memandang Oz yang sedang memandangnya. “Sudah lebih enak?” Edrea mengangguk. “Oz,” panggilnya pelan. “Hmm?” “Terima kasih. Untuk semuanya. Untuk semua yang kau lakukan tadi malam dan pagi ini.” Suaranya bergetar sedikit. Oz tersenyum kecil. “Istirahatlah.” “Aku ingin mengatakan sesuatu,” Edrea melanjutkan. Matanya, yang masih berkaca-kaca karena demam, menatap Oz dengan intens. “Aku … aku tidak tahu bagaimana mengatakannya. Ini mungkin terdengar gila, atau terlalu cepat …” Ia berhenti sejenak, mengumpulkan keberanian. Oz di depannya, wajahnya tampak tenang dan santai. “Ada yang ingin kau makan lagi? Kalau iya, aku akan membelikannya.” “Kurasa … Aku mencintaimu.” Kalimat itu sangat jujur. Tidak ada permainan kata-kata, langsung pada intinya. “Aku tahu latar belakangmu masih samar bagiku. Aku tahu kau tidak punya pekerjaan tetap, hidupmu bebas. Dan aku? Aku cuma karyawan biasa yang tertekan, dan selalu sendiri. Tapi aku tidak peduli lagi dengan semua itu. Yang kulihat sekarang adalah hatimu. Kejujuranmu. Caramu memperlakukanku. Kau melihatku, Edrea yang sebenarnya, bukan sekadar karyawan yang rajin bekerja.” Oz tetap diam mendengarkan, seperti biasa. Dia menunggu Edrea selesai bicara. “Aku merasa … kita bisa berbagi beban, Oz. Kita memiliki keadaan yang sama, dalam artian kita sama-sama mencari tempat di dunia ini. Kau memberiku rasa aman yang tidak kudapatkan di tempat lain. Aku tidak meminta status mewah atau janji masa depan yang berlebihan. Aku hanya ingin … menjadi orang terdekatmu saja. Jika kau mau menerima seseorang seperti aku.” Suasana menjadi hening. Oz terdiam, matanya menatap Edrea yang sedang menatapnya dengan harap. Wajahnya yang masih pucat, kini berkerut, menunggu jawaban Oz. “See? Akhirnya kau mengakui bahwa kau mencintaiku. Aku sudah mengatakannya sejak awal. Kau pasti akan jatuh cinta padaku …” ucapnya tengil, suaranya serak. Edrea mencebik dan memukul d**a Oz. “Aku tidak sedang bercanda, Oz. Kau mau jadi pacarku atau tidak? Jawab sekarang dan jangan berputar-putar. Jika kau tak menerimaku, awas saja!” Oz tertawa pelan lalu mengusap rambut Edrea dengan lembut. “Kau mau hidup seperti ini bersamaku? Ini pasti bukan hidup yang kau harapkan. Kau bisa mencari yang—“ “Aku hanya mau kau,” potong Edrea. “Aku tak mau yang lain. Pekerjaanku sudah sangat bagus dan kita bisa bersama. Aku bisa membiayaimu jika kau sedang menganggur atau—“ “Hei, aku bukan pengangguran,” kali ini Oz yang memotong. “Ck! Kau mau tidak? Jawablah cepat!” Suara Edrea sedikit keras meskipun masih lemas. Oz menghela napas panjang. “Kau yakin ingin bersamaku?” Edrea mengangguk. “Aku hanya ingin hari ini dan seterusnya denganmu. Kita jalani saja. Saling mengerti. Saling mendukung. Seperti yang sudah kita lakukan sejak pertama kita tinggal bersama di sini.” Oz memandangi mata Edrea. Di mata itu, mdia melihat keberanian yang mirip dengan dirinya sendiri. “Baiklah,” ucap Oz. “Jika kau bersedia menerima kekacauanku, maka aku pun bersedia menerima semua beban dan keindahanmu. Aku tidak bisa menjanjikan surga, Rea. Tapi aku berjanji akan ada untukmu.” “Jadi … kau menerimaku?” tanya Edrea, jantungnya berdebar kencang. “Ya,” jawab Oz mantap. “Aku menerimamu, Rea. Sebagai pacarku. Sebagai partner. Sebagai orang yang akan kuajak berbagi kekacauan dan kedamaian hidup ini. Bukankah seharusnya aku yang menembakmu? Kenapa ini terbalik?” “Jaman sudah berubah. Kau pikir wanita tak berani menyatakan cinta?” Rasa lega dan kebahagiaan yang luar biasa membanjiri Edrea. Tangannya meraih leher Oz dan memeluknya erat. “Akhirnya aku berani punya pacar,” gumamnya yang membuat Oz tertawa. “Jadi, selama ini kau tak pernah punya pacar?” tanya Oz. “Tidak, aku terlalu takut karena banyak alasan.” “Aku tahu alasannya,” ucap Oz. Edrea melepaskan pelukannya dan menatap pria tampan itu. “See? Kau sangat mengerti diriku.” Lalu Edrea memeluk Oz kembali dan semakin erat. Demam dan sakit lututnya seolah sirna sejenak, digantikan oleh kehangatan yang merasuk ke hati dan tubuhnya. “Kau harus istirahat sekarang,” bisik Oz, membantunya berbaring kembali. “Aku akan di sini. Aku tidak akan kemana-mana.” Edrea mengangguk, senyum lebar dan bahagia terpancar di wajahnya yang masih merah karena demam. Ia menutup matanya, tetapi kali ini bukan karena kelelahan, melainkan karena rasa lega dan puas. Tangannya masih menggenggam tangan Oz erat-erat. * * Hari itu, Edrea tidak masuk kerja. Dan Oz menepati janjinya. Ia menjaga Edrea dengan setia. Memastikan obat diminum tepat waktu, mengganti kompres di keningnya, menyuapinya bubur, dan bahkan menemani Edrea tidur. Di sore hari, demam Edrea mulai turun. Ia terbangun dan mendapati Oz tertidur di sebelahnya. Kepalanya bersandar di bantalnya karena tadi Edrea bersandar di pangkal lengannya. Edrea memandanginya dengan cinta yang baru dia rasakan. Oz membuka matanya, seolah merasakan pandangan Edrea. “Kau mau menciumku, ya?” tanyanya, suara masih berat karena baru bangun. Wajah Edrea memerah, bukan karena demam, tapi karena malu. “Kau menyebalkan sekali!” CUP Tiba-tiba Oz mengecup bibirnya dan membuat Edrea membeku. Kemudian Oz kembali mengecup bibirnya. Mata Edrea membelalak. “Apa yang kau lakukan, Oz?” “Itu tanda resmi bahwa kita sudah berpacaran, Sayang.” Edrea mengambil bantal dan menutupi wajahnya yang tiba-tiba malu. Oz tertawa dan memeluk Edrea yang di matanya begitu menggemaskan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN