Rumah Yang Sesungguhnya

1384 Kata
Papan tulis kaca di ruang rapat lantai 42 itu dipenuhi tulisan-tulisan spidol warna-warni, diagram, daftar tugas, pusat proyek, dan tenggat waktu yang ditandai dengan stiker merah menyala. Di tengah hiruk-pikuk itu, tertulis judul besar: "PROYEK PELUNCURAN 'BREX' — TIM LOGISTIK." Edrea berdiri di depan papan itu. Dia tampak seperti sosok yang percaya diri. Tapi di balik penampilan itu, jantungnya berdegup kencang tak karuan. "Jadi, intinya," suara Ricardo, kepala departemen logistik senior, suasana tegang. "Kita punya delapan minggu untuk memastikan peluncuran produk baru 'BREX' di seluruh gerai premium di 15 kota besar. Distribusi, penyimpanan, pemasangan display, koordinasi dengan marketing dan event, semua harus sempurna. Satu kesalahan, dan kita bisa membuat perusahaan kehilangan jutaan dolar dan, yang lebih penting, kepercayaan konsumen." Ricardo menatap Edrea, matanya yang tajam menatapnya. "Dan kau, Edrea, yang akan memimpin ini. Proyek pertama. Selamat." Ucapan selamat itu terdengar seperti hukuman baginya. Di sekeliling meja besar itu, sembilan anggota tim logistik lainnya duduk. Beberapa menatap laptop mereka dengan acuh, beberapa menatapnya dengan pandangan skeptis yang jelas tak bisa disembunyika. Ada Maria, wanita berpengalaman 20 tahun yang tahu setiap sudut gudang perusahaan. Ada Ben, ahli sistem yang sinis. Ada Julian, koordinator lapangan yang ototnya lebih sering digunakan daripada otaknya. Dan mereka semua memiliki satu kesamaan, yaitu mereka meragukannya. Edrea baru bergabung di sana. Dan ini Verious. Di sini, pengalaman adalah raja. Dan di mata mereka, Edrea hanyalah pendatang baru dari kantor cabang yang jelas tak punya pengalaman dalam hal peluncuran produk baru. "Terima kasih, Tuan Ricardo," ucap Edrea, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. "Aku memahami tanggung jawabnya. Aku sudah mempelajari data pendahuluan dan—" "Data itu adalah awal, eksekusi di lapangan hal lain," sela Maria tanpa melihat ke arahnya, jari-jarinya mengetik cepat di keyboard. "Delapan minggu itu mustahil dengan sumber daya kita saat ini. Apalagi dengan ... kepemimpinan baru." Edrea menelan ludah. "Aku yakin dengan kerja sama tim, kita bisa—" "Kerja sama tim butuh kepercayaan," gerutu Ben dari balik kacamata tebalnya. "Dan kepercayaan butuh rekam jejak. Yang kau punya, Edrea, hanyalah teori dari buku tebal. Kuakui kau pintar, tapi bukan dalam proyek." Panas membakar pipi Edrea. Ini lebih buruk dari yang dia bayangkan. Ia bukan hanya harus melawan waktu dan kesempurnaan proyek, tapi juga pertempuran untuk mendapatkan pengakuan dari timnya yang sudah senior. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha untuk bisa lebih kuat dan percaya diri. Ini kesempatannya untuk menunjukkan kemampuannya yang akan diuji. "Baiklah," katanya, suaranya kini lebih tegas. "Aku tidak punya rekam jejak di sini. Tapi aku punya delapan minggu untuk membangunnya. Dan aku butuh kalian semua untuk melakukannya. Pertemuan pertama kita adalah besok pagi, pukul 8 tepat. Aku ingin setiap orang membawa data yang mungkin menjadi risiko dari area masing-masing, ditambah dengan tiga solusi untuk mengatasi keterbatasan sumber daya. Kita akan membahasnya, lalu membuat rencana yang realistis, bukan yang pesimis." Dia memandang sekeliling ruangan, berusaha menatap setiap mata yang menghindarinya atau meremehkannya. "Aku tahu kalian skeptis. Tapi bayangkan jika kita berhasil. Bukan hanya perusahaan yang menang, tapi kalian juga akan disorot. Sekarang, apakah ada pertanyaan?" Semua diam. Ricardo mengangkat alis,lumayan terkesan atau mungkin sekadar terhibur dengan keberaniannya. "Bagus," kata Ricardo datar. "Semoga beruntung. Kalian butuh itu." * * Kantor mulai sepi. Hanya lampu meja kerja Edrea di sudut ruang terbuka departemen logistik yang masih menyala. Layar komputernya penuh dengan dokumen, email, dan dokumen proyek 'BREX'. Jam di sudut layar menunjukkan pukul 21:47. Kepalanya berat. Pertemuan dengan tim tadi siang berjalan sangat datar karena mereka menganggap Edrea tak meyakinkan. Tidak ada antusiasme. Hanya tugas yang dibagikan dengan enggan. Ia sudah mengirimkan puluhan email, mencoba mengoordinasikan dengan departemen pemasaran dan desain, tetapi responsnya lambat. Sepertinya kabar tentang anak baru yang memimpin proyek besar sudah menyebar, dan orang-orang memilih untuk menunggu dan melihat atau yang lebih buruk, menunggu untuk melihatnya jatuh. Delapan minggu. Waktunya sangat singkat. Rencananya rumit. Edrea membenamkan wajahnya di tangannya. Tiba-tiba, notifikasi email berbunyi di komputernya. Sumber yang tidak dikenal. “Dari : ProjectANN@gmail.com Subjek: Untuk Mata dan Pikiran yang Terbuka” “Email dari mana ini? Apakah salah satu anggota tim?” gumam Edrea pelan. Dengan cepat, Edrea membuka email itu. Bukan spam. Isinya adalah teks polos, tanpa tanda tangan. Dia membaca email itu dengan sangat teliti. Semua sangat masuk akal dan merupakan strategi jitu serta brilian dalam proyeknya. “Siapa yang mengirim ini?” bisiknya. Dia lega mendapat bantuan seperti itu tapi dia juga penasaran siapa yang mengirimkannya. Edrea bahkan membaca email itu sampai tiga kali. Jantungnya berdebar bukan karena takut, tapi karena suatu pencerahan yang tiba-tiba. Nasihat-nasihat di dalam strategi itu sangat brilian. Bukan hanya teori, tapi strategi praktis dan jitu. 'Seseorang sedang memperhatikanku. Apakah ini ujian? Atau bantuan terselubung?’ Terlepas dari asalnya, nasihat itu masuk akal. Sangat masuk akal. Dan saat ini, Edrea tidak punya pilihan lain. Dia akan segera bertindak sesuai dengan perintah dalam email itu. * * Pukul 23:17, Edrea baru sampai di jalanan perumahan. Kelelahan yang dia rasakan bukan hanya fisik, tapi pikiran. Hari ini banyak pertempuran di kantornya. Proyek baru, tim yang masih beradaptasi dengan kepemimpinannya, laporan-laporan yang harus direvisi tiga kali karena keinginan berubah-ubah dari atasan. Pertemuan yang berlarut-larut, email yang tak henti-hentinya masuk, dan tekanan dari kantor. Ia menarik napas panjang, dan kembali berjalan. Saat akhirnya dia masuk ke halaman rumah—sebuah rumah bercat kuning yang hangat, Edrea melihatnya. Oz. Duduk di kursi kayu di teras depan. Kepalanya tidak tertunduk, matanya tidak mengantuk. Ia menatap ke arah jalan, seolah-olah sudah menunggu lama, dengan kesabaran yang tenang. Saat pandangan mereka bertemu, senyum langsung mengembang di wajah Oz. Bukan senyum lebar yang heboh, melainkan senyum hangat dan dalam yang terbit dari sudut matanya yang memesona. Senyum itu saja sudah seperti obat bagi Edrea. Tanpa kata-kata, Oz membuka lengannya. Sebuah undangan dan pelabuhan yang sudah terbentang. Dan Edrea, dengan segala beban yang dia pikul, seketika merasa seperti anak kecil yang pulang setelah hari yang panjang. Ia tidak berjalan. Ia berlari. Sepatunya yang haknya tinggi tak masalah baginya, tas kerjanya terayun-ayun di pundaknya. Ia menaiki tiga anak tangga teras dengan dua langkah, dan kemudian menyerahkan diri ke dalam pelukan yang terbuka itu. GREB!! Oz menangkapnya dengan kuat. Edrea memeluk erat leher Oz, wajahnya terkubur di lekukan antara bahu dan lehernya. Ia menghirup dalam-dalam aroma maskulin dari pria yang kini telah menjadi kekasihnya itu. "Merindukanku?" bisik Oz, suaranya terdengar langsung oleh Edrea yang menempel padanya. Tangannya yang besar dan hangat mengusap-usap punggung Edrea, perlahan, menghilangkan ketegangan yang di dalam dirinya. “Hmm … Aku merindukanmu,” bisik Edrea. Edrea membiarkan kehangatan dan keamanan dari pelukan itu menyelimutinya. "Aku juga. Hari yang melelahkan?" tanya Oz, bibirnya menyentuh pelipisnya. "Ya … Lelah," gumam Edrea, suaranya teredam oleh baju Oz. "Sangat, sangat lelah. Dunia luar terlalu berisik, dan kau peredamnya." "Kau benar. Di sini tidak berisik, bersamaku," balas Oz dengan lembut. Edrea menarik dirinya untuk memandang wajahnya yang selalu tampan meskipun sering berantakan. Tapi, bukan itu yang dilihat oleh Edrea. Tidak ada tuntutan di mata Oz, tidak ada ekspektasi berlebih, hanya penerimaan yang apa adanya. Tiba-tiba, Oz merapatkan pegangannya. Satu tangan menopang punggungnya, yang lain menyelip di bawah lututnya. Dengan satu gerakan mudah, dia mengangkat Edrea dengan tas kerjanya yang masih tergantung di bahu, ke dalam pelukannya, seperti menggendong seorang pengantin. "Hei!" teriak Edrea terkejut, namun tangannya langsung melingkari leher Oz lagi. "Aku berat!" "Lebih ringan dari beban yang kau pikul seharian ini," jawab Oz dengan mantap, sambil membawanya melintasi teras. Dengan kakinya, dia mendorong pintu utama yang sudah terbuka, membawa Edrea masuk ke dalam rumah. Rumah. Begitu udara di dalam menyentuhnya, Edrea benar-benar bisa bernapas lega. “Kau membuatku tak akan bisa berpaling darimu,” ucap Edrea. Oz tersenyum dan Edrea mencium dagunya. Oz tidak langsung menurunkannya. Ia berjalan membawanya ke ruang tengah, lalu dengan lembut mendudukkannya di sofa. Lalu dia berlutut di depannya, tangannya dengan hati-hati melepas sepatu hak tingginya yang sudah membuat kaki Edrea sakit. Ia memijat kaki Edrea perlahan dengan jari-jarinya yang kuat. "Kau tidak harus melakukan ini," bisik Edrea. "Tentu harus," bantah Oz ringan. "Ini adalah ritual menyambut pulang kekasihku yang paling hebat." Ia mengangkat wajahnya, senyum nakalnya muncul. Edrea akhirnya benar-benar tertawa. “Besok libur. Kita berkencan keluar? Gajiku masih tersisa banyak.” “Baiklah. Tapi aku saja yang membayar untuk kencan.” Edrea tersenyum. “Uangmu masih ada? Kau sudah berbelanja dalam minggu ini.” “Masih ada,” sahut Oz. “Oke.” Edrea memeluk Oz dengan gemas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN