Menyerahkan Diri

1173 Kata
Di meja makan kecil di sudut dapur yang terang, dua piring sudah tersedia. Bukan makanan mewah. Hanya pasta aglio olio yang sederhana serta spaghetti dengan bawang putih, minyak zaitun, dan cabe rawit dengan taburan parsley segar dan parmesan. Di sampingnya, ada segelas besar air putih dan dua gelas anggur merah yang sudah dituang. "Itu ... kau yang masak?" tanya Edrea, terharu. "Tentu saja," kata Oz, menarik kursi untuknya. "Aku tahu kau akan pulang larut dan pasti lapar meskipun sudah makan malam di kantor. Ini pas. Cepat, sederhana, dan ... semoga saja enak." Edrea kemudian berjinjit dan mencium bibir Oz. “Kau sangaaaaat manis. Aku sangaaaat mencintaimu.” Oz tertawa pelan dan menyuruh Edrea duduk. Mereka pun duduk bersama. Edrea mengambil garpu, memutar pasta, dan mengambil suapan pertama. "Mmm," dia mendesah puas. "Delicious." Wajah Oz berbinar. "Jadi, ceritakan. Bagaimana peperangan hari ini?" Edrea mulai bercerita. Ia tidak menyensor kekesalan atau keputusasaannya di kantor. Di hadapan Oz, dia bisa menjadi rentan, bisa menjadi tidak sempurna, bisa mengeluh. Dan Oz mendengarkan dengan begitu perhatian tanpa menyela. Benar-benar mendengarkan. Matanya tidak melihat ke ponsel. Pria itu hanya mendengarkan, sesekali mengangguk, atau mengeluarkan saran atau pendapat bijak. Ketika Edrea selesai meluapkan isi hatinya, barulah dia berbicara. "Kedengarannya seperti hari yang menyenangkan." Edrea tertawa pelan. “Kau benar.” Oz meraih tangannya di atas meja, jempolnya mengusap-usap punggung tangan Edrea. "Kau adalah orang terkuat yang aku kenal. Badai di kantor hanya membuatmu justru lebih tangguh. Dan ingat," matanya berbinar, "badai apa pun di luar sana, tidak akan pernah bisa masuk ke sini. Ini adalah zona bebas badai. Di sini, hanya ada pasta dan ... aku." Oz mengecup bibir Edrea dengan lembut. Obrolan mereka mengalir ringan setelahnya. Mereka membicarakan hal-hal sepele. Setelah mereka selesai makan, Oz yang mencuci piring meski Edrea bersikeras membantu. "Biar aku saja.” Edrea memeluk Oz dari belakang dan menyenderkan kepalanya di punggung kuat Oz. Ada kedamaian yang luar biasa dalam hati Edrea. Dia ingin seperti ini seterusnya dengan Oz. * * Setelah lampu dapur akhirnya dimatikan, mereka akhirnya berjalan ke kamar tidur. Oz sudah menyiapkan segalanya. Lampu tidur menyala, seprai bersih beraroma wangi, dan piyama sutra favorit Edrea sudah tergantung di belakang pintu. Edrea melebarkan matanya. Sangat jarang Oz melakukan ini karena biasanya Edrea yang merapikan kamar mereka. Edrea kembali menoleh pada Oz. “Ini sangat berarti bagiku. Kau sengaja ya melakukan ini agar aku semakin mencintaimu?” Oz tertawa dan menarik hidung mencung Edrea lalu mencium bibirnya. “Ya, kau benar.” “Baiklah, aku akan mandi dulu lalu kita tidur di ranjang yang harum itu,” kata Edrea. Oz mengangguk, kemudian Edrea berbalik ke kamar mandi. Oz membuka baju kaosnya lalu beranjak lebih dulu ke atas ranjang. Dia kemudian mengambil ponselnya dan membaca beberapa pesan yang membuat keningnya berkerut. Lalu Oz meletakkan ponselnya di meja nakas dengan sedikit kasar. “Mereka menyebalkan!” geramnya pelan. * * Edrea mandi dengan air hangat, membuat tubuhnya rileks. Saat dia keluar, Oz sudah berada di tempat tidur, bersandar di kepala tempat tidur, membaca buku milik Edrea. Edrea merangkak ke tempat tidur dan langsung meringkuk di sisinya, kepalanya di d**a Oz. "Honey?" bisiknya dengan tangan mengusap d**a Oz. "Hmm?" "Terima kasih." "Untuk apa?" "Untuk menungguku setiap hari. Untuk tidak tidur sampai aku pulang. Untuk pasta yang lezat. Untuk mendengarkan keluh kesahku. Untuk ... menjadi rumahku." Oz menutup buku dan meletakkannya di meja nakas. Kemudian dia memeluk Edrea lebih erat, mendaratkan ciuman lembut di rambutnya. "Rumah ini akan selalu ada, tidak peduli jam berapa pemiliknya pulang." "Aku mencintaimu,” ucap Edrea berbisik. "Aku tahu. Begitu juga aku.” Edrea mendongak, kini mata mereka bertemu. “Aku ingin …” kalimat itu terhenti. “Katakan,” sahut Oz. Edrea tak bisa mengatakannya. Sebagai gantinya, wanita itu mencium bibir Oz dengan begitu dalam, bukan seperti biasanya. Tangan Edrea, dengan berani, mulai menjelajah. Dari d**a yang bidang, turun melewati otot perut yang kencang, berhenti tepat di pinggang, di mana kulit panasnya bertemu dengan kain celana. Gerakannya lambat. Hingga membuat Oz mendadak kaku. Ciuman mereka terhenti. Bibirnya yang baru saja menyatu dengan Edrea kini terpisah, menarik napas dalam-dalam. Dia menarik wajahnya beberapa senti, mata yang biasanya penuh percaya diri kini tampak berkerut, ada konflik yang hebat. “Baby,” gumamnya, tangannya mengangkat dagu wanita muda itu. “Kau yakin?” Di matanya, Oz melihat bukan hanya nafsu, tetapi cinta yang dalam. Tidak ada keraguan di sana. L “Aku tidak pernah seyakin ini tentang hal lain dalam hidupku,” jawab Edrea, jari-jarinya yang masih menempel di pinggang Oz sedikit menekan. “Ini bukan keputusan yang mendadak. Aku ingin ini. Aku ingin kau.” Oz menutup matanya sebentar, merasakan perang di dalam dirinya. Di satu sisi, ada keinginan untuk melindunginya, untuk tidak terburu-buru. Dia tahu apa yang akan mereka bagi jika melanjutkan ini. Di sisi lain, ada keinginan yang membara, hasrat yang telah dia pendam sejak lama, sejak pertama kali melihat Edrea berdiri di depannya. Dia menginginkannya bukan hanya secara fisik, tetapi secara utuh. Menolak sekarang, meski dengan alasan yang masuk akal, akan menyakitinya. Akan terasa seperti penolakan terhadap cinta yang Edrea tawarkan dengan begitu berani dan polos. Dan Oz, dengan segala kekuatannya, tidak sanggup melukai wanita ini. Dia membuka matanya. Konflik di hatinya telah reda. “Aku juga menginginkanmu. Selalu.” Itu adalah satu-satunya konfirmasi yang Edrea butuhkan. Senyum kecil penuh cinta merekah di bibirnya. Oz membalas senyuman itu sebelum menurunkan kepalanya kembali, memagut bibir Edrea dalam ciuman yang kali ini berbeda. Dengan hati-hati, Oz mendorong perlahan tubuh Edrea. Edrea melingkarkan tangannya di leher Oz. Prosesnya lambat karena Oz tak ingin terburu-buru meskipun dia harus kuat menahan nafsunya. Lalu kancing piyama Edrea dibuka, dan pakaian itu disingkapkan, diikuti oleh ciuman, sentuhan lembut, dan bisikan yang menggoda. Oz melihat reaksi di wajah Edrea. Dia memastikan Edrea nyaman dengan sentuhannya. Dan ketika akhirnya tak ada lagi penghalang di antara mereka, Oz berhenti sejenak. Dia menatap mata Edrea, yang terbuka lebar memandangnya. Di melihat rasa percaya sepenuhnya. Sebuah penyerahan karena cinta yang kuat. “Aku mencintaimu,” Edrea berbisik, tangannya membelai pipi Oz. “Aku lebih mencintaimu,” balas Oz. Saat mereka akhirnya menjadi satu, ada hentakan singkat, ketegangan, lalu napas dari Edrea yang sedikit tercekat. Oz memejamkan matanya sesaat, merasakan dirinya memasuki Edrea. Ada tanggung jawab yang sangat besar menyelimutinya. Edrea telah memberikannya sesuatu yang tak ternilai. “Kau baik-baik saja?” tanya Oz berbisik. Edrea mengangguk, matanya berkaca-kaca. Bukan karena sakit, tetapi karena kenikmatan dan rasa cintanya yang berbaur menjadi satu pada Oz. “Sempurna,” gumamnya. Barulah kemudian Oz mulai bergerak, dengan gerakan yang sabar dan lembut. Dia membawa Edrea melayang. Edrea merasakan gelombang kenikmatan yang perlahan menguasai tubuhnya, mulai dari jari kaki, naik ke betis, memenuhi seluruh tubuhnya, sampai ke ujung rambut. Edrea merasa seperti melayang. Kenikmatan itu tidak liar atau menggebu, tetapi dalam dan hangat. Di puncaknya, Edrea menggenggam erat punggung Oz, menempelkan wajahnya di leher pria itu, dan merasa begitu puas. Oz menahan dirinya sampai Edrea mencapai puncaknya, baru kemudian membiarkan dirinya tenggelam dalam gelombang kenikmatannya sendiri. Oz menyembunyikan wajahnya di lekuk leher Edrea, menggumamkan kata cinta yang diulang-ulang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN