Pagi Yang Panas

1771 Kata
Setelah beberapa saat, Oz berpindah posisi, membawa Edrea bersamanya, hingga kini kepalanya terletak di pangkal lengan Oz. Dia mendengarkan detak jantung pria itu yang perlahan kembali normal, jarinya tak henti-henti membelai rambut Edrea. “Hei,” bisik Oz. Edrea mendongak. “Hei.” “Terima kasih,” ucap Oz, dengan keseriusan yang membuat Edrea tersenyum. “Untuk apa?” “Untuk mempercayaiku. Untuk ... semuanya.” Edrea mencium leher Oz. “Tidak perlu berterima kasih. Itu adalah hadiah untuk diriku juga.” Dia berhenti sejenak. “Kau tahu, kan?” “Apa?” “Bahwa kau adalah yang pertama. Dan satu-satunya.” Oz menunduk dan mencium keningnya. “Aku tahu. Dan itu adalah kehormatan terbesar dalam hidupku.” Dia berhenti sejenak. “Dan kau juga tahu, kan?” “Apa?” kali ini Edrea yang bertanya. “Bahwa kau adalah yang terakhir. Satu-satunya untuk selamanya.” Kata-kata itu lebih mengikat daripada ikatan fisik apa pun yang baru saja mereka alami. Edrea tidak meragukannya. Dia percaya, sepenuh hatinya, pada Oz. Mereka berbaring begitu cukup lama, berpelukan. Oz membelai punggung Edrea dengan lembut. “Apa yang kau pikirkan?” tanyanya. Edrea mendekatkan dirinya lebih erat. “Aku berpikir ... aku ingin menabung untuk bisa membeli rumah ini. Untuk … kita. Bukankah itu ide yang bagus? Aku ingin merenovasinya agar bisa lebih bagus.” Oz tersenyum. “Kau ingin tinggal di rumah kecil ini seterusnya?” “Ya, selama itu bersamamu, aku tak masalah.” Oz mengacak rambut Edrea. “Tampaknya kau sangat tergila-gila padaku.” Edrea berdecak dan mencebik. Kemudian Edrea mengangkat kepala. “Kita menjadi sempurna sekarang?” Oz menatapnya, dan dalam tatapan itu, Edrea melihat seluruh cintanya. “Lebih dari sempurna.” Mereka tertidur seperti itu, berpelukan, dengan kaki saling terkait. * * Pagi harinya, Oz sudah terbangun lebih dulu, tapi dia tak beranjak dan hanya memandangi Edrea tidur. Wajahnya santai, bibirnya sedikit mengembang dalam senyuman kecil ketika melihat wanita yang kini menjadi bagian dari hidupnya. Dia tahu, malam tadi telah mengubah segalanya. Tidak ada jalan untuk kembali. Dan dia tidak mau kembali. Dia hanya ingin maju, dengan wanita ini di sisinya, di mana setiap pagi akan dimulai dengan Edrea di pelukannya. Ketika Edrea akhirnya membuka mata, dia disambut oleh pandangan penuh cinta dari mata abu-abu yang sudah begitu dikenalnya. Dia tidak perlu berkata apa-apa. Segalanya sudah terucap. Dia hanya tersenyum, dan senyuman itu dibalas oleh Oz sebelum dia menciumnya lagi, ciuman lembut, penuh, yang terasa seperti sebuah awal yang indah dari sebuah babak baru dalam kisah mereka. “Morning,” bisik Oz. “Morning. Jam berapa sekarang?” “Jam 7,” jawab Oz yang kini telah menciumi wajah Edrea. Edrea membelalak. “Apa? Aku bisa terlambat!” Lalu wanita itu beranjak sambil menyingkirkan kepala Oz. “Libur saja hari ini.” Oz merengkuh pinggang Edrea dan tak melepaskannya. Pria itu bahkan menciumi bahu dan lehernya. “Tidak bisa! Oh my … jangan membuatku tak bekerja,” sahut Edrea dan menahan kepala Oz. Oz hanya tertawa lalu membiarkan wanita itu beranjak berdiri. Namun ketika Edrea beranjak berdiri, dia merasakan sesuatu tak nyaman di pangkal pahanya hingga cara berjalannya cukup aneh. “Kau yakin ingin bekerja, Baby?” tanya Oz nakal. “Ya!” Edrea tetap berjalan dan berusaha berjalan normal. Oz hanya tersenyum lalu menyusul Edrea dan mengangkatnya. “Akan kubantu mandi,” bisiknya. “Tidak, ini akan lama jika kau—“ “Tidak, justru akan lebih cepat. Percayalah,” potong Oz. Edrea mendengus dan akhirnya pasrah ketika Oz membawanya ke kamar mandi. * * Mereka masuk ke kamar mandi bersama. Edrea menyalakan keran, menunggu air mencapai suhu yang pas, hangat tapi tidak terlalu panas. Oz sudah masuk duluan, berdiri di bawah pancuran dengan mata tertutup, menikmati air yang mengguyur tubuhnya. "Masih berpegang pada janjimu? Harus cepat," kata Edrea tak yakin. "Tentu," jawab Oz, tapi matanya membuka, menatap Edrea yang sekarang tak memakai apa pun di hadapannya. Edrea melangkah masuk ke shower, uap hangat segera menyelimuti mereka berdua. Air mengalir di antara mereka, membasahi rambut, bahu, dan turun ke lantai. Untuk beberapa saat, mereka hanya berdiri di bawah pancuran, menikmati kehangatan dan kedekatan fisik ini. Oz mengambil sabun cair beraroma mint favorit Edrea, menuangkannya ke tangan, lalu mulai mengusapkannya ke punggung Edrea. Gerakannya perlahan dan jari-jarinya menekan otot yang tegang di bahu Edrea. "Kau tegang sekali," gumam Oz. "Deadline proyek baru," jawab Edrea, mulai rileks di bawah pijatan Oz. "Dan meeting pagi ini penting." Oz membelai lebih rendah, ke pinggang, lalu kembali ke bahu. Tangan kirinya meraih botol sampo, menuangkannya ke rambut Edrea. Jari-jarinya memijat kulit kepala Edrea dengan lembut, membuatnya hampir mengerang nikmat. "Ini masih termasuk mandi, kan?" bisik Oz, mulutnya sekarang dekat dengan telinga Edrea. "Masih," jawab Edrea, matanya tertutup. "Tapi kau mulai melanggar batas." Oz tertawa kecil, suaranya bergema di kamar mandi yang dipenuhi uap. "Aku hanya memastikan kekasihku bersih dengan sempurna." Pijatan berlanjut, kini turun ke leher, bahu, lengan. Edrea membiarkan dirinya menikmati, meski di sudut pikirannya, jam terus berdetak. Tapi ketika tangan Oz bergerak ke dadanya, menyentuhnya dengan cara yang jelas-jelas bukan lagi bagian dari pembersihan, Edrea membuka mata. "Honey ..." "Sssshhhh," bisik Oz, memutar tubuh Edrea menghadapnya. "Kita masih punya waktu." Mereka berciuman di bawah aliran air hangat, ciuman yang dalam, penuh nafsu melebihi semalam. Tangan Oz meraba pinggang Edrea, menariknya lebih dekat sampai tubuh mereka menempel erat. Edrea bisa merasakan hasrat Oz yang sudah membara, menekan perutnya. "Janjimu," desis Edrea di antara ciuman. "Janji dibuat untuk dilanggar," balas Oz, tangannya sekarang meraba p****t Edrea, menariknya lebih dekat lagi. Edrea tahu dia harus menghentikan ini. Dia tahu dia punya meeting penting. Tapi tubuhnya merespons dengan cara liar. Tangannya meraih bahu Oz yang berotot, menarik sang kekasih untuk ciuman yang lebih dalam. Air terus mengalir, membasahi wajah mereka, membuat ciuman itu terasa lebih basah, lebih liar. Oz mengangkat Edrea dengan mudah, mendudukkannya di bangku kecil di sudut shower. Posisi ini membuat Edrea lebih rendah, dan Oz membungkuk, menyesap d**a Edrea ke dalam mulutnya. Edrea mendongak, tangannya meremas rambut gelap Oz yang sekarang basah. "Kita ... harus ... segera berhenti," kata Edrea terpotong-potong, tapi pinggulnya sudah bergerak mencari tekanan. "Kita akan berhenti," gumam Oz, pindah ke d**a yang lain. "Setelah ini." Tangan Oz meraba ke antara kaki Edrea, jari-jarinya menemukan kelembaban yang bukan berasal dari air shower. Edrea menghela napas ketika jari Oz memasuki dirinya, bergerak dengan liar. “Honey, sungguh, aku—" protes Edrea lemah. "Kau ingin ini," bisik Oz, matanya menatap dalam ke mata Edrea. "Aku bisa merasakannya. Tubuhmu berkata ya, meski mulutmu berkata tidak." Dan itu benar. Edrea tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Sejak Oz pertama kali menyentuhnya, sejak aroma tubuhnya memasuki indranya di tempat tidur, dia sudah menginginkan ini. "Dua menit," desis Edrea akhirnya, menyerah. "Hanya dua menit." Oz tersenyum, tahu dia menang. "Dua menit yang akan kau ingat sepanjang meeting membosankanmu nanti." Oz berlutut di lantai shower yang basah, wajahnya sekarang setara dengan pinggul Edrea. Dia mencium paha dalam Edrea, perlahan, sebelum lidahnya menemukan tujuannya. Edrea meremas pinggiran bangku, kepalanya menempel ke dinding kaca shower. Ini adalah keahlian Oz yang tak pernah gagal membuat Edrea lupa segalanya, janji meeting, deadline proyek, bahkan namanya sendiri. Lidah Oz bergerak dengan lihai, mengetahui setiap titik sensitif, dan yang membuat Edrea meronta. "Oooowwhh …,” desah Edrea, tangannya sekarang meremas rambut Oz. Oz meningkatkan sesapannya, tangannya meraih pinggul Edrea, menahannya di tempat. Edrea merasakan tekanan yang meningkat, cepat, terlalu cepat untuk hanya dua menit. Dia mencoba mengingat bahwa dia harus berangkat kerja, tapi tubuhnya sudah di luar kendali. Puncaknya pun akhirnya datang, begitu mendadak, intens, membuat seluruh tubuhnya bergetar. Oz berdiri, wajahnya basah oleh air dan kelembaban tubuh Edrea. Dia menatap Edrea yang masih terengah-engah, senyum puas di wajahnya. "Satu menit lima puluh detik," gumam Oz. "Masih dalam batas waktu." Edrea menarik nafas dalam, mencoba menyadarkan dirinya dari gairah yang dibangkitkan oleh Oz. Tapi sebelum dia bisa bangkit, Oz sudah mendorongnya perlahan untuk berdiri dan memutarnya menghadap dinding shower. "Honey, apa yang kau—" "Bagian kedua, untukku," bisik Oz di telinganya, tubuhnya menempel dari belakang. Edrea bisa merasakan Oz menekannya dari belakang. Tangannya meraih pinggul Edrea, mengangkatnya sedikit, dan dengan satu gerakan halus, dia memasuki Edrea dari belakang. "Kau bilang hanya dua menit," protes Edrea, tapi tubuhnya melengkung menerima dorongan itu. "Bagian pertama dua menit," jawab Oz, mulai bergerak perlahan. "Kita tidak membicarakan bagian kedua." Edrea menempelkan telapak tangannya ke dinding kaca, dorongan tubuh Oz membuat tubuh Edrea bergoyang maju mundur. Air terus mengucur di atas mereka, menutupi suara erangan dan desahan. Pikiran Edrea terpecah. Sebagian masih mengkhawatirkan waktu, menghitung menit-menit yang berlalu, membayangkan kemacetan yang akan dihadapi. Tapi sebagian lain terbenam dalam sensasi gairah. Dalam cara Oz memegang pinggulnya, dalam bisikan-bisikan nakal di telinganya. "Ini terasa luar biasa, kan?" gumam Oz, tangannya meraba ke depan, menemukan d**a Edrea. Edrea tidak menjawab. Dia hanya mendorong ke belakang, memenuhi dorongan Oz. Gerakannya menjadi lebih cepat. Oz meningkatkan kecepatan, tangannya sekarang erat memegang pinggul Edrea. Ruang shower dipenuhi suara air, napas berat, dan tubuh yang menyatu. Edrea merasakan puncak yang kedua mendekat, lebih dalam dari yang pertama. Tampaknya Oz tidak pernah puas dengan sekali. Dia selalu membawa Edrea ke puncak berulang kali, sampai dia benar-benar kelelahan. "Bersamaku," desis Oz, napasnya sekarang berat. "Come on, Baby." Edrea menyerah. Dia membiarkan punca itu datang, lebih kuat dari yang pertama, membuat lututnya gemetar. Oz bersandar di punggung Edrea setelah puncak itu juga datang menyerbunya. Beberapa saat mereka hanya berdiri di bawah air, terengah-engah. Suara alarm di ponsel Edrea berbunyi dari luar kamar mandi. Suara itu adalah alarm yang membawa mereka kembali ke realita. "Jam berapa?" tanya Edrea dengan panik. Oz melihat jam tangan waterproofnya. "Jam 7.05." "Tidak!" Edrea mendorong Oz dengan lembut, keluar dari shower. "Aku harus berangkat dalam 25 menit!" Oz tertawa, masih berdiri di bawah pancuran. "Kita masih punya waktu." "Untuk apa? Untuk membuatku lebih terlambat?" Edrea membalas, mengambil handuk dan mulai mengeringkan tubuhnya dengan gerakan cepat. "Untuk menikmati sisa pagi kita," jawab Oz, mematikan keran dan mengambil handuknya sendiri. Edrea tidak menjawab. Dalam 20 menit, dia harus mengeringkan rambut yang panjang, merias wajah minimalis tapi profesional, berpakaian, dan jika mungkin, memakan sesuatu untuk sarapan. "Kau sengaja, kan?" tanya Edrea sambil menggosok rambutnya dengan handuk. "Membuatku terlambat." Oz mendekat, masih tak memakai apa pun, tubuhnya berkilau oleh sisa-sisa air. "Aku hanya ingin memastikan kau memulai harimu dengan senyuman dan semangat, Baby." Edrea berhenti, melihat sang kekasih. Wajah Oz polos, sekaligus nakal. "Aku akan tersenyum jika tidak dimarahi bos karena terlambat," jawab Edrea, tapi senyum kecil sudah muncul di bibirnya. Oz mengecup bibir Edrea cepat. "Bos-mu tak akan marah. Aku jamin. Aku akan membuatkan sarapan sementara kau bersiap. Omelet cepat. Oke?” Edrea tersenyum dan mengangguk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN