Duapuluh menit berikutnya adalah kekacauan tapi masih bisa dikendalikan oleh Edrea. Edrea mengeringkan rambutnya dengan hair dryer sambil sesekali melihat jam.
Oz, yang sekarang sudah memakai celana pendek dan kaos, sibuk di dapur membuat omelet seperti yang dijanjikan.
Pukul 7.25, Edrea sudah hampir selesai. Rambutnya setengah kering diikat sanggul rendah, make-up minimalis sudah disapukan ke wajah cantiknya yang segar, dan dia sedang berusaha memasukkan kancing blus sambil berjalan ke dapur.
"Omelet spesial dengan jamur dan keju sudah siap untuk kekasihku," kata Oz bangga, menyerahkan piring itu pada Edrea.
"Tidak ada waktu," kata Edrea, tapi mengambil garpu dan mencoba makan sambil berdiri.
"Setidaknya kopi," desak Oz, sudah menyiapkan tumbler berisi kopi kesukaan Edrea.
Edrea menelan beberapa suap omelet, yang ternyata lezat, seperti biasanya, lalu mengambil tumbler kopi dan tas kerjanya. "Aku harus pergi."
Oz menghadangnya di depan pintu. "Ciuman perpisahan?"
"Honey ..."
"Hanya kecupan."
Edrea menghela nafas, memberikan ciuman singkat di bibir Oz. Tapi Oz memperpanjangnya, tangannya meraih pinggang Edrea, menariknya dekat untuk beberapa detik terakhir.
"Sekarang kau benar-benar membuatku terlambat," protes Edrea ketika mereka berpisah.
"Tapi kau tersenyum dan menyukainya," kata Oz, menyentuh sudut bibir Edrea yang memang terbentuk menjadi senyum.
Edrea tidak bisa membantah. Dia memang tersenyum. Meski stres karena terlambat, meski akan menghadapi kemacetan, ada kehangatan di dalam dadanya yang hanya Oz yang bisa berikan.
"Jam 7 aku jemput untuk makan malam?" tanya Oz.
"Tak perlu. Aku pulang sekitar jam 8. Meeting mungkin tertunda karena cukup banyak."
"Oke … Jam 8. Aku pesan meja di restoran Italia yang kau suka."
“Uangmu akan habis. Kita makan di rumah saja,” jawab Edrea.
Oz tertawa pelan lalu mengangguk, memberikan ciuman terakhir yang benar-benar cepat kali ini. “I love you.”
“I love you too,” sahut Edrea, lalu bergegas keluar apartemen.
*
*
Di taksi menuju kantor, Edrea mencoba merapikan penampilannya sekali lagi di kaca kecil. Pipinya masih agak kemerahan, matanya berbinar—tanda-tanda yang bisa dikenali oleh siapa pun yang tahu apa yang baru saja dia lakukan.
Tapi ketika dia tiba di kantor, dia terlambat 15 menit dan masuk ke ruang meeting, sesuatu yang aneh terjadi.
Daripada merasa stres atau bersalah, Edrea merasa tenang. Bahagia. Energi paginya, meski kacau, penuh dengan keintiman dan cinta dari Oz.
"Maaf terlambat," katanya pada atasannya yang sudah duduk di ujung meja.
Atasannya, mengamatinya sebentar, lalu tersenyum kecil. "Pagi yang sibuk, ya?"
Edrea hanya tersenyum tipis, duduk di kursinya. Saat meeting dimulai, saat dia membuka laptop dan mempresentasikan proyeknya, dia masih bisa merasakan sisa-sisa sentuhan Oz di kulitnya.
Wangi dari sabun mereka masih menempel samar. Dan ketika presentasinya berjalan lancar, ketika atasannya terlihat puas, Edrea tahu sesuatu.
Mungkin pagi yang kacau ini, mungkin mandi yang terlalu lama, mungkin semua keterlambatan ini—mungkin semua itu sepadan. Karena pagi yang diisi dengan cinta, meskipun mengacaukan jadwal, memberi bahan bakar untuk menghadapi hari yang sibuk hari ini.
*
*
Pukul 10 pagi, ketika coffee break, Edrea mendapat pesan dari Oz. "Meeting membosankan? Pikirkan mandi kita pagi ini. Itu akan membuatmu tersenyum."
Edrea memang tersenyum dan menggigit bibirnya. Dia membalas. "Aku masih bisa merasakan tanganmu di pinggulku."
Oz membalas seketika. "Itu rencanaku. Agar kau memikirkan aku sepanjang hari."
Dan rencana itu berhasil. Sepanjang meeting, sepanjang presentasi, bahkan saat makan siang yang terburu-buru, Edrea sesekali menyentuh pergelangan tangannya, mengingat cara Oz menahannya di dinding kamar mandi.
Dan setiap kali mengingatnya, senyum kecil muncul di wajah cantiknya.
Oz adalah kekacauan terindah dalam hidupnya yang terstruktur. Dan terkadang, kekacauan itu tepat apa yang dia butuhkan.
*
*
Minggu pertama setelah percintaan mereka terasa seperti mimpi indah. Edrea terbangun dengan senyum yang sudah mengembang di bibirnya sebelum matanya terbuka, karena aroma kopi dan telor goreng yang dibawa Oz ke kamar. "Kekasihku harus sarapan di tempat tidur," katanya, mencium kening dan bibirnya sebelum meletakkan nampan kayu sederhana di atas selimut.
“So sweet …” Edrea mencubit pipi Oz dengan gemas. “Kau akan kujaga selamanya karena kau adalah kekasih terbaikku,” kata Edrea yang membuat Oz tertawa.
Mereka makan dengan jari-jari yang sesekali bersentuhan dan tawa yang renyah. Setiap malam, Oz akan membacakan puisi dari buku usang yang ditemukannya di pasar loak, suaranya yang dalam bergetar membawakan kata-kata indah, sementara Edrea mendengarkan dengan kepala bersandar di dadanya.
*
*
Minggu kedua, rumah kecil itu mulai berubah. Oz membawa pulang kaleng cat berwarna biru keabu-abuan. "Warna matamu saat bahagia," bisiknya di telinga Edrea saat mereka mengecat dinding kamar bersama-sama.
Cat itu berceceran di lengan mereka, di lantai, menciptakan pola-pola abstrak di lantai kayu yang sudah usang.
Edrea protes tentang kekacauan itu, tetapi Oz hanya tertawa, mengangkatnya dan berputar-putar hingga mereka tertawa bersama. "Rumah ini harus seindah dirimu," katanya.
Dan Edrea, yang kepalanya pening karena berputar dan karena cinta, hanya bisa menyerah.
"Mungkin kita harus berhenti dulu," kata Edrea, meletakkan kuasnya di atas kaleng cat. "Aku lapar."
Tapi Oz sudah mendekat, matanya berbinar dengan sinar nakal yang sudah sangat Edrea kenal. "Kita hampir selesai. Hanya sudut ini saja," katanya, tapi tangannya tidak meraih kuas.
Justru meraih pinggang Edrea, menariknya mendekat.
"Honey, kita penuh keringat dan kotor," protes Edrea lemah, padahal tangannya sudah melingkari leher Oz.
"Justru itu, akan sempurna," bisik Oz sebelum mulutnya memagut bibir Edrea.
Ciuman itu dimulai dengan lembut, yang sudah ratusan kali mereka lakukan namun tak pernah kehilangan rasa baru.
Tapi kemudian berubah, menjadi lebih dalam. L
Tangan Oz meraba punggung Edrea melalui kaos tipisnya, merasakan lengkung tulang belakangnya yang basah.
Edrea mendesah ke dalam ciuman itu, jari-jarinya menyelinap di rambut Oz yang lembab.
Mereka berputar pelan, tanpa memutuskan ciuman, hingga punggung Edrea menempel ke dinding yang baru dicat. "Honey! Catnya basah!" teriaknya di antara ciuman.
"Biarkan saja," gumam Oz, mulutnya beralih ke leher Edrea, menelusuri garis tengkuknya yang basah. "Akan menjadi kenangan. Setiap kali kita melihat noda ini, kita akan ingat hari ini."
Edrea hanya bisa tertawa. Gairah yang sudah mengendap sepanjang hari, kini meluap tak bisa dicegah lagi.
Oz mengangkat Edrea, dan wanita itu melingkarkan kakinya di pinggang Oz tanpa perlu disuruh.
Mereka berjalan dalam posisi yang lucu, tertawa terengah-engah, menuju sofa tua yang sudah mereka tutupi dengan kain putih.
"Kainnya ..." kata Edrea.
"Sudah kubuang," jawab Oz sambil melemparkan penutup kain itu ke lantai dengan satu tangan.
Mereka jatuh bersama ke sofa lalu tertawa kembali. Di sofa itulah mereka berhenti sejenak, hanya memandang.
Oz menatap Edrea, rambutnya yang kusut menempel di pelipisnya yang berkeringat, matanya yang biru membesar, bibirnya bengkak karena ciuman.
Edrea melihat Oz, pria yang mengenalkannya pada arti cinta, yang mengubah rumah tua menjadi rumah impian, yang kini memandangnya seperti dia adalah seluruh dunianya.
"I love you, Baby," kata Oz, suaranya serak. "Lebih dari cat di dinding ini, lebih dari atap yang tak bocor, lebih dari hidupku sendiri."
Edrea kembali tertawa dan mengacak rambut Oz. “Jangan pernah tinggalkan aku, oke? Kalau kau meninggalkanku dan pergi dengan wanita lain, kau tak akan selamat! Aku akan mengejarmu ke mana pun kau pergi!” ancam Edrea dengan menggemaskan hingga membuat Oz menutup mulutnya dengan pagutan panjang.
"Kau adalah cinta pertama dan terakhirku," ucap Edrea di sela-sela ciuman mereka.
*
*