Kemudian, pakaian mereka, kaos yang menempel di kulit, celana pendek yang sudah kotor, berpindah ke lantai satu per satu.
Kulit mereka saling menempel, panas dan lembab. Oz menelusuri setiap inci tubuh Edrea dengan mulutnya, dari bahunya yang berbintik cat biru, ke perutnya yang naik turun cepat, ke pahanya yang gemetar.
Dalam pelukan Oz, dia menemukan bagian dirinya yang tak pernah dia ketahui ada, wanita yang liar dan bebas, namun aman bersamanya.
Tangannya meraba punggung Oz yang berotot, merasakan otot-ototnya yang tegang.
Ketika mereka akhirnya bersatu, ada desahan panjang yang keluar dari keduanya.
Oz mempercepat gerakannya, dan Edrea mengikutinya, tubuh mereka bergerak seirama. Ada saat di mana waktu berhenti, saat mata mereka saling memandang penuh cinta.
Ketika akhirnya puncak itu datang, Edrea menggigit bahu Oz untuk menahan teriakannya, dan Oz mengerang panjang.
Mereka jatuh dalam pusaran puncak gairah bersama-sama.
*
Oz membelai rambut Edrea. "Kita belum selesai mengecat," bisiknya, tapi tidak ada niat untuk melanjutkan dalam suaranya.
"Besok saja," jawab Edrea, matanya tertutup, kepalanya di d**a Oz. Dia mendengarkan detak jantungnya yang mulai melambat.
"Setiap hari bersamamu adalah hari terindah dalam hidupku," kata Oz setelah lama terdiam.
Edrea membuka matanya. "Aku juga. Sebelum ada kau, aku tak tahu hidup bisa terasa ... seperti ini.”
Mereka berbaring dalam keheningan yang nyaman dan lama. Di dinding, noda biru tempat punggung Edrea menempel sudah kering sebagian, membentuk siluet samar yang akan tetap ada di sana selamanya, menjadi rahasia kecil mereka, bukti percintaan mereka hari ini.
"Aku ingin seperti ini selamanya," gumam Edrea.
Oz mencium ubun-ubun kepalanya. "Kita akan menciptakan ribuan momen seperti ini. Di setiap sudut rumah ini. Aku berjanji."
Janji itu tidak terdengar seperti kata-kata kosong.
*
*
Malam akhirnya tiba dan udara mulai dingin, Oz mengambil selimut yang terlipat di kursi dan menyelimuti mereka berdua di atas sofa setelah mereka makan malam tadi.
Di bawah selimut, dunia mereka semakin intim. Jari-jari mereka saling bertautan, kaki mereka saling melilit.
“Aku membeli rumah ini pada Nenek Alma,” kata Oz tiba-tiba—membuat Edrea langsung beranjak duduk dan menatap mata Oz.
“Hei, kau bercanda, kan?” kata Edrea, mengangkat kepala untuk melihat wajah Oz.
Oz tersenyum. "Aku serius. Surat-suratnya disimpan di bawah lantai kamar tidur jika kau tak percaya."
"But why?"
"Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu di tempat ini. Ini adalah awal kita. Aku ingin ini juga menjadi tengah dan akhir kita."
Edrea mengerjap dan matanya berair. Lalu, wanita itu menyembunyikan wajahnya di leher Oz. “Kau serius?” ucapnya sambil terisak.
Oz mengernyit dan membelai rambut Edrea. “Hei, kenapa kau menangis.”
“Ini sangat mengharukan. Kau pasti menghabiskan uang tabunganmu.” Lalu Edrea mengangkat kepalanya. “Kau tak berhutang, kan? Aku bisa memakai uang tabunganku juga jika kau—“
Oz mencium bibir Edrea agar berhenti bicara. “Hei, aku tak semiskin itu,” ujarnya.
“Aku tahu … tapi seharusnya aku juga ikut andil dalam hal ini,” sahut Edrea.
“Aku melakukan ini untukmu, jadi … terima saja, oke?” Oz menarik lembut hidung mancung Edrea.
Edrea tersenyum dan menyesap bibir Oz. “I love you soooo much.”
*
*
Minggu ketiga, Oz mulai memperbaiki pagar yang sudah hampir roboh di halaman depan. Dan malam harinya, Edrea melihatnya berbicara dengan seorang pria yang tampak baru turun dari mobil mewah.
Mereka terlihat seperti berbicara serius. Edrea hanya melihatnya dari jendela. Tak lama, Oz masuk ke dalam rumah setelah pria itu pergi.
“Siapa pria tadi?” tanya Edrea langsung ketika Oz melangkah masuk ke dalam rumah. “Apa yang kalian bicarakan?"
Oz berhenti melangkah dan Edrea mendekatinya.
“Orang yang menawarkan pekerjaan?” tanya Edrea sebelum Oz menjawab.
Lalu Oz mengangguk sambil mencium hidungnya. Edrea melihat ada secarik kertas kecil terselip di saku celananya, tetapi Oz dengan cepat memindahkannya.
“Aku akan pergi sebentar. Jangan tunggu aku karena mungkin sampai larut,” kata Oz.
“Masalah pekerjaan?”
“Ya, lumayan penting,” jawab Oz tersenyum lalu beranjak ke dalam kamar untuk mengganti bajunya.
Edrea hanya mengangguk dan kembali ke sofa, untuk menonton film yang tadi dilihatnya.
*
*
Minggu keempat, Edrea menemukan Oz sedang mengganti genteng yang bocor di atap. Dari bawah, dia melihat tubuh Oz yang tegap sekaligus tegang. "Hati-hati, Baby!" teriak Edrea.
Oz berbalik, wajahnya bersinar karena keringat dan senyuman. "Jangan khawatir, Sayang. Aku sedang membangun istana untuk ratuku."
Edrea tertawa mendengar gombalan itu. Malam itu, hujan turun, dan untuk pertama kalinya atap tidak bocor.
Mereka tidur di sofa ruang tengah, mendengarkan rintik hujan yang berbunyi di atas genteng, dan tubuh mereka saling memeluk dalam kehangatan selimut yang menutupi tubuh mereka berdua.
*
Minggu kelima, Oz memasang rak buku di dinding ruang tengah, ruangan yang sering mereka gunakan untuk bersantai bersama.
“Untuk semua buku-bukumu yang masih dalam kardus," kata Oz.
Edrea membantu, mengukur dengan meteran, memegang papan saat Oz memaku. Saat rak itu selesai, mereka mengisinya bersama-sama.
Malam itu, mereka membuat love seat dari tumpukan bantal di depan rak buku, membaca bersama dalam suasana hening yang nyaman, kaki-kaki mereka saling bertautan.
*
*
Minggu-minggu telah berlalu, berubah menjadi bulan. Cinta mereka tidak lagi hanya bermesraan di setiap sudut, tetapi telah menjadi fondasi kokoh seperti rumah yang mereka tinggali.
Dan saat Edrea memegang kunci rumah itu, dia tahu bahwa yang dia pegang bukanlah sekedar kunci rumah biasa, tetapi kunci hati Oz, yang telah dengan sukarela diberikan kepadanya, bersama dengan masa depan, dalam rumah kecil yang menjadi saksi bisu cinta mereka yang akan abadi.
*
*
*
Pagi itu dimulai seperti biasa. Edrea terbangun lebih dulu, menyaksikan Oz tidur dengan wajah yang santai, rambutnya yang berantakan di bantal.
Dia menahan diri untuk tidak membelainya, tidak ingin mengganggu kedamaian itu. Tapi seperti merasakan pandangannya, Oz membuka mata, dan senyuman yang langsung muncul di bibirnya membuat jantung Edrea berdebar seperti hari pertama mereka bertemu.
"Pagi, Baby," gumam Oz, suaranya serak khas bangun tidur.
"Pagi." Edrea mencium bibirnya, singkat dan manis. “Kau harus segera bersiap. Bukankah kau harus ke luat kota hari ini?”
"Iya," jawab Oz, lalu menarik Edrea ke pelukannya. "Aku akan merindukanmu. Hanya tiga hari tapi terasa sangat lama bagiku."
Edrea mengeluh pelan, menempelkan pipinya di d**a Oz. "Aku benci ketika kau harus pergi."
Oz mengecup rambutnya. "Aku juga. Tapi ini pekerjaan yang cukup penting.”
“Semoga semuanya lancar dan lukisanmu dilirik banyak galeri seni.”
Oz mengangguk saja lalu beranjak dan mengangkat tubuh Edrea. “Kita mandi bersama.”
“Kau akan terlambat,” kata Edrea, sembari melingkarkan tangannya di leher Oz.
“Tak masalah,” jawab Oz santai dan melangkah ke dalam kamar mandi.
*
*
Mereka mandi bersama, seperti biasanya—akan penuh tawa dan sentuhan nakal. Meskipun sebenarnya Oz sedang terburu-buru.
Oz menyabuni tubuh Edrea, membilasnya, dan kemudian mereka berdiri di bawah shower air hangat lebih lama.
Setelah mandi plus-plus itu selesai, kemudian Oz segera berpakaian. Edrea memperhatikan Oz memilih kemeja dan celana yang tidak biasa, potongan yang sederhana tapi terlihat mahal, bahan yang halus yang tidak pernah dia pakai untuk pertemuan dengan pembeli lukisannya.
Sepatu kulitnya yang dia kenakan juga baru, mengkilap.
"Kau tampak sangat berbeda, terlalu tampan dan mahal," kata Edrea, berusaha melontarkan pujian sambil menyisir rambutnya di depan cermin. “Apakah kau akan bertemu dengan orang yang cukup penting?”
Oz tersenyum. "Ya, dan aku harus membuat kesan yang baik, bukan?"
Dia mendekati Edrea dari belakang, melingkarkan tangannya di pinggangnya, menatap wajahnya di cermin. "Aku mencintaimu, Baby. Ingat itu. Apa pun yang terjadi."
Edrea memutar badannya, menghadapnya. "Kedengaran sangat dramatis. Hanya tiga hari, Baby. Dan aku akan selalu mencintaimu, selamanya."
Oz menunduk, memagutnya dalam-dalam. “I love you so much.”
“Aku juga,” jawab Edrea.
"Aku akan menelepon sesering mungkin," janji Oz sambil mengangkat ranselnya.
Di pintu, mereka berpelukan erat. Edrea menghirup wangi lehernya, menyerap aroma Oz yang selalu membuatnya berdesir.
"Pergilah, sebelum kau terlambat," bisik Edrea, melepaskan diri dengan berat hati.