Hanggara perlahan menurunkan tangannya. Pukulan yang baru saja ia layangkan masih meninggalkan sensasi nyeri di buku-buku jemarinya, namun tidak sedikit pun ia tunjukkan. Wajahnya tetap datar, seolah kekerasan itu adalah hal yang biasa, sesuatu yang memang perlu dilakukan. Di sisi lain, wajah Biantara menyamping tajam akibat hantaman itu. Suara benturan masih terasa berdengung di kepalanya. Tubuh kekarnya sempat kehilangan keseimbangan, condong ke samping dengan langkah yang goyah. Namun refleksnya bekerja cepat. Tangannya terulur, mencengkeram kuat sandaran sofa untuk menahan tubuhnya agar tidak benar-benar jatuh. Napasnya tertahan. Rahangnya mengeras, menahan nyeri yang menjalar dari pipi hingga ke pelipis. Ada rasa berdenyut yang mulai muncul, pelan tapi terus meningkat. Ranti terke

