Sore hari .... Acara di bawah sana sebentar lagi akan dimulai. Kania berdiri di depan cermin, memandangi bayangannya sendiri yang tampak pucat. Perlahan ia meraih beberapa produk makeup di atas meja rias. Tangannya mulai memoles wajahnya yang pucat, berusaha menutupi luka-luka yang masih samar terlihat. Bibirnya yang kering dan kehilangan warna diolesi lip balm terlebih dahulu, sebelum akhirnya dilapisi lipstik berwarna natural agar tampak lebih hidup. “Kania.” Panggilan dari ambang pintu terdengar tak lama setelah bunyi derit halus pintu memecah keheningan kamar. Dari pantulan cermin, Kania bisa melihat Melati berdiri di sana. Wanita itu tampak anggun dengan balutan kebaya berwarna abu muda. Senyum hangat terukir di bibirnya—senyum yang selama ini selalu ia berikan pada Kania. “Ada

