Satu jam kemudian .... Dengan kondisi yang masih jauh dari kata baik, gadis itu tetap turut andil di dapur. Tubuhnya masih terasa berat, tetapi Kania memaksakan diri berdiri di antara para pelayan. Beberapa orang sibuk meracik bahan, sementara Kania menyiapkan bumbu satu per satu, sesekali memberi arahan singkat agar bahan-bahan itu diolah menjadi masakan yang sempurna. Gerakannya terlihat tenang, meski sesungguhnya ada kekakuan halus di setiap langkah yang ia ambil. Dari ruang tengah, Biantara dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas. Wajah mulus yang kini dilapisi riasan sedikit lebih tebal dari biasanya. Bedak dan pulasan tipis di bawah mata tampak seperti tameng yang berusaha menutupi sesuatu. Pria tersebut tahu, Kania benar-benar berusaha menutupi semuanya—menyembunyikan luka-luka

