Kania tidak lagi berucap. Ia biarkan Biantara telanjang di depannya. Saat pria tersebut mengoyak dress-nya pun, ia hanya bisa diam. Gadis itu tidak lagi memohon atau sekadar mengharap sedikit rasa kasihan. Ia terlalu lelah. Terlalu sakit. Sakitnya sudah tidak bisa lagi dijelaskan dengan kalimat. Kania hanya membisu. Tatapannya pada Biantara tak lepas sedetik pun. Pria tersebut menarik rambut Kania ke belakang hingga kepalanya mendongak. Ia lekas menyesap leher keponakannya, menggigitnya kuat. Ingin rasanya Kania berteriak—menyuarakan bahwa apa yang Biantara lakukan memanglah menyakitkan. Namun, niatnya itu dibungkam rapat. Gadis tersebut terdiam. Semua kata-katanya tertahan di tenggorokan. “Mana yang dia sentuh, Kania? Mana?!” Suara Biantara tidak lagi bisa pelan. Ia mencengkeram

