Tujuh hari sebelumnya .... Rapat baru saja berakhir. Pintu ruang rapat yang tersambung langsung dengan ruang kerja CEO terbuka. Satu per satu direksi keluar dengan langkah cepat dan wajah tegang. Tidak ada yang berani berbicara terlalu keras. Bahkan suara sepatu di lantai terdengar seperti sesuatu yang harus segera diakhiri. Di dalam ruangan itu, Biantara masih berdiri di ujung meja panjang yang dipenuhi berkas dan tablet rapat. Jas hitamnya masih terpasang rapi, tetapi rahangnya mengeras. Sejak awal rapat hingga sekarang, aura dingin yang memancar dari dirinya membuat siapa pun yang berada di ruangan itu memilih menahan napas. Tok. Tok. Ketukan pintu terdengar. “Masuk.” Pintu terbuka perlahan. Sandra, asistennya, muncul dengan sikap hati-hati. Wanita itu sudah cukup lama bekerja de

