Bab 149

3502 Kata

“A–aku minta maaf, Mas. Semua di luar kendaliku.” Biantara mendekat. Ia berdiri tepat di samping Melati, lalu merangkul bahu istrinya dan membimbingnya duduk lebih dulu. Sentuhannya hangat, tenang—seolah tak ada badai yang sedang berkecamuk. Padahal, di dalam dirinya, amarah itu sudah menjalar seperti api yang disiram bensin sejak mendengar kabar Kania hilang. Gadis itu benar-benar menguji batas kesabarannya. “Sekarang cerita. Pelan-pelan.” Ia kembali berujar, nadanya lembut dan terkendali. Terlalu lembut untuk ukuran seorang pria yang tengah dilanda murka. Biantara menahan diri sepenuhnya, menjaga agar kegelisahan Melati tidak semakin menjadi. “Tadi pas sampai di mall, Kania ke kamar mandi. Aku kasih izin. Tapi, pas aku tunggu, dia nggak balik-balik. Aku sampai minta bantuan sama sec

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN