“Kalian ngapain di sini?” tanya Melati keheranan. “Udah mau malem.” Melati melirik ke arah lelaki di belakang Kania—Naren—yang dibalas senyum tipis oleh lelaki itu. Sebenarnya, Melati cukup terkejut dengan kehadiran Naren yang mana ia tahu sudah putus dari Kania. Kania menoleh sekilas sebelum kembali kembali membuang muka. Gadis itu mengusap sisa air matanya dengan kasar agar Melati tidak menyadari. “Cuma main, Kak.” Melati menatap satu kali lagi, kemudian berjalan lebih dulu. “Udah sore. Ayo pulang.” Sebenarnya, Melati tidak bodoh untuk tahu jika Kania habis menangis. Namun, ia tidak terlalu memikirkannya. Rasa kesal masih hinggap di d.a.da wanita itu. “Aku duluan, Ren.” Naren mengangguk satu kali sembari menaruh gitarnya di tanah. Ada rasa tidak rela saat pertemuannya hanya berla

