Kania tidak menjawab, gadis itu lebih memilih diam di sudut tempat tidur, membuat Melati semakin meradang. “Jujur sama Kakak, Kania. Itu siapa?” Melati kembali memekik, tetapi Kania tetap tidak bergeming sama sekali. Kesal dengan sikap Kania, Melati pun mendekati gadis tersebut. Ponsel yang berada di genggaman Kania menjadi sasaran, Melati hendak merebutnya. “Kak Melati, jangan!” Kania berteriak, berusaha mempertahankan benda pipih itu tetap berada dalam genggamannya. Namun, persetan dengan teriakan Kania, Melati tetap merampas paksa ponsel tersebut. Membuat gadis itu tidak memiliki pilihan lain selain jujur. “Kak Melati!” Teriakan Kania membuat Melati terperanjat, tidak biasanya Kania meneriakinya sekeras itu. Melati mengambil langkah mundur. Ia memandang Kania. Gadis itu m

