Kania duduk tegap. Ia menatap segan Melania yang kini berdiri di tepi ranjang. Wanita paruh baya itu memandangnya sinis. “Mulai besok, kamu harus lapor ke saya. Menu apa yang kamu masak untuk Melati,” ucap wanita paruh baya itu otoriter. “Takaran bumbu, bahan, dan jam makannya tepat atau nggak. Semuanya harus kamu beritahu ke saya.” Gadis itu hanya tertegun mendengar permintaan yang dianggapnya rumit. Wanita di depannya ini sangat berbeda dengan Melati. Jauh dari kata lembut maupun sopan. Sikapnya Melanie justru hampir mirip dengan Ranti. Sama-sama ketus dan menuntut Kania dalam banyak hal. “Saya usahakan.” Kania akhirnya membalas singkat dengan ekspresi datar. Ia sudah terlalu muak menyikapi orang-orang yang tidak pernah sekali pun menghargainya di sini. “Jangan cuma diusahakan

