Drt-drt-drt! Entah sudah berapa kali ponsel itu bergetar. Biantara masih tertidur pulas di kamar tidur apartemen Daniel. Tidak berselang lama, Daniel masuk. Ia hanya menggeleng, tidak habis pikir dengan sahabat dekatnya yang benar-benar kacau setelah ia bawakan seorang perempuan untuk melayani Biantara semalam. Kain kelambu disibak lebar. Cahaya matahari masuk, menyorot langsung ke wajah Biantara. Rasa hangat itu membuat pria tersebut terusik. Kelopak matanya bergerak ringan. Ia mengerjap, berusaha sadar dari tidurnya yang nyenyak semenjak dua jam lalu. “Kania ....” Gumaman itu terdengar serak. Tangan Biantara bergerak lemah, memijat pelipisnya yang terasa pusing. Mata itu masih terpejam, meski tidak serapat sebelumnya. “Tidak ada Kania, Bian.” Sahutan itu langsung menyentak B

