Yasmin tetap berdiri. Tatapannya tidak berpindah dari Melati yang masih terbaring di atas ranjang rawat. Mata abu itu tidak memperlihatkan kehangatannya seperti biasa. Melati bisa melihatnya. Ia bisa merasakan bagaimana tidak bersahabatnya tatapan Yasmin. Namun, wanita tersebut hanya bertahan menatapnya beberapa detik. Ia menghindar. Ada sesuatu yang membuat Melati begitu segan ketika berhadapan dengan Yasmin. Benar kata Ranti. Mama mertuanya itu selalu bilang bahwa Yasmin selalu mempunyai kedudukan paling tinggi dibanding anak-anaknya sendiri. “Bicara, Melati.” Yasmin kembali bersuara. Ia berdiri tegap. Tangannya bersedekap d.a.da. Ekspresi wajahnya sulit dibaca oleh lawan bicaranya. “Akan lebih nyaman kalau kita ngobrol dalam keadaan duduk, Mba.” Dengan tegas, Yasmin mengge

