Kamar Kania … Biantara terduduk lemah di tepi ranjang. Dalam genggamannya, botol alkohol masih tersisa seperempat. Entah sudah berapa botol yang mengalir deras ke tenggorokannya malam ini, ia tak lagi ingat. Pikirannya sesak, penuh, dan semuanya hanya berisi Kania. Perempuan itu. Sosok yang memberinya cinta sekaligus luka paling dalam—luka yang hingga kini tak kunjung menemukan penawarnya. Hanya Kania. Cukup dia yang mengajarinya arti penyesalan abadi. Sejak kepergiannya, Biantara seperti kehilangan pijakan. Bahkan ketulusan Melati yang kini ada di hadapannya tidak mampu menggantikan bayang-bayang itu. Ia memeluk istrinya hanya karena melihat Kania di balik mata yang sama, di balik senyum yang ia paksa mirip. Dengan segala kekacauan di kepala, ia menumpahkan semuanya dalam penyatuan

