Akan tetapi, semua terlambat. Kania sudah lebih dulu kembali. Ia langsung duduk di kedua paha Biantara dan menahan tangan pamannya. “Nggak asyik, dong, kalau aturan tadi Om langgar.” Biantara patuh. Jika biasanya ia mengendalikan, sekarang sebaliknya. Entah kenapa, apa yang Kania ucap tadi membuatnya tertantang. Fantasi baru. Ya, hanya dua kata itu yang terngiang di telinganya. Ia ingin merasakan seberapa jauh gadis itu bermain. Di atasnya. Mengambil kendali. Mendominasi. Dan, pada saat Biantara menerka-nerka, Kania mulai bergerak. Gadis itu menggenggam sepenuhnya sesuatu yang tegak dan keras di bawah sana. Genggaman tangan itu bahkan tidak cukup untuk memenuhi milik Biantara yang kokoh. Ia memainkannya perlahan—menggerakkan tangannya ke atas dan bawah. Sesekali bibirnya ikut an

