Kania seperti dihantam sesuatu yang besar dan tak terhindarkan. Dadanya terasa sesak seketika, napasnya tertahan beberapa detik seolah udara di ruangan itu mendadak habis. Tenggorokannya kering, dan kepalanya berdengung pelan. Matanya membelalak tajam, menyisakan kilat yang nyaris li.ar. Aura kemarahannya membesar, lebih pekat dari sebelumnya—bukan lagi sekadar kesal, melainkan amarah yang lahir dari penghinaan. Kania terhina. Harga dirinya diinjak begitu saja. Ia kembali dihancurkan, untuk yang kesekian kalinya, seakan rasa sakit itu tak pernah cukup bagi pamannya. Kedua tangannya yang masih bertumpu pada lantai mencengkeram kuat, kuku-kukunya menekan permukaan dingin hingga terasa perih. Ruas-ruas jarinya memerah, uratnya menonjol. Rahangnya mengeras. Kania menggeram pelan, suara renda

