Kania mengangguk pelan. Garis senyum samar terbit di wajahnya yang basah oleh air mata. Ekspresinya kosong—bukan karena tak merasa sakit, melainkan karena rasa sakit itu sudah melampaui batas yang bisa ia tunjukkan. “Kalau begitu, silakan bunuh kami,” tantangnya lirih. Kalimat berikutnya hanya bergema di dalam kepalanya. Bunuh bayi-bayi Om yang tumbuh di rahimku. Ia tak sanggup mengucapkannya keras-keras. Sebesar apa pun luka yang ia tanggung, ia tetap tak ingin menghancurkan kebahagiaan Melati dan Biantara dengan kebenaran yang bisa merobek segalanya. “Jalang keras kepala!” Gigi Biantara bergemeletuk. Tangannya kembali mencengkeram rambut belakang Kania, menjambaknya kuat hingga kepala gadis itu terdongak paksa. Kulit kepalanya terasa perih, lehernya tertarik menyakitkan. Pria itu

