Kania beringsut mundur. Tubuhnya seakan menyusut, berusaha bersembunyi di balik lorong sempit itu. Sebaliknya, Biantara justru melangkah maju—perlahan, pasti—terus mendekat. Senjata yang baru saja merenggut nyawa seseorang masih teracung ke arahnya. Tangan pria itu berlumur darah, hangat, belum kering. Napas Kania semakin sulit tertarik. Bukan karena udara ruangan yang pengap dan lembap—bukan itu. Rasa sesak yang menindih dadanya berasal dari ketakutan yang menjerat, membuat paru-parunya seolah menolak bekerja normal. Biantara tak memberi ruang. Ia terus mendesak, hingga moncong pistol itu kini tepat mengarah ke tengah dahi Kania. “Sudah lihat semuanya?” Nada suaranya rendah, nyaris datar, tanpa tekanan. Namun wajahnya berkata sebaliknya. Sorot mata itu dingin dan tajam—Biantara jelas

