Entah sudah berapa lama Tita mengabaikan ponselnya yang terus berbunyi. Bukan karena ia sedang sibuk, tapi karena Tita tidak ingin melakukan apa-apa. Sejak Kaivan menurunkannya di depan Luminous dan memberikan satu kecupan hangat di keningnya sore tadi, Tita bak raga kehilangan jiwa. Ia berjalan seolah tidak menapak, bergerak tanpa berpikir, dan berakhir duduk melamun di teras belakang. Sampai satu per satu rekan-rekannya pulang, Tita tidak kunjung beranjak dari sana. Kejadian dua hari terakhir yang begitu berturut-turut membuat Tita begitu kelelahan. Tenaga dan pikirannya seolah terkuras habis. Awalnya Tita mengira Rabu kemarin merupakan hari terkelam dan terberat sepanjang minggu ini. Perpisahannya dengan Alby membuat Tita merasakan kekosongan yang membuat terus bersedih. Tita berpikir

