“Tidak usah dibayar, Kak.” Alby mendorong kembali lembaran biru yang Tita sodorkan di meja kasir setelah melakukan pemesanan. “Loh, kenapa?” “Biar saya yang bayar saja,” ujar Alby malu-malu, sama sekali jauh dari nada sombong seperti kebanyakan lelaki yang berlagak mentraktir gadis pujaannya. Tita mengernyit bingung. “Kok, gitu?” “Hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih saya karena Kak Tita sudah bantu saya menyelesaikan tugas kuliah.” “Bantu bikin tugas?” “Iya, yang wawancara bersama Pak Erwan dua minggu lalu.” “Oh, yang itu. Enggak usah pakai terima kasih begini juga kali, By.” Tita kembali mendorong uangnya. Tita memang suka gratisan, tapi tidak begini. Kalau seperti ini, Alby akan dirugikan. Ia tahu pemuda ini juga sangat membutuhkan uang seperti dirinya. “Pokoknya aku mau b