Aku harus kecewa dengan ekspektasiku sendiri. Ternyata, berendam yang Vina maksud adalah berendam di kolam renang. Dia bahkan langsung keluar menuju teras belakang, meninggalkanku yang masih bergeming bingung di atas ranjang. Karena aku tak kunjung datang menyusul, dia memanggilku untuk segera bergabung. Dia tidak terlihat sedang mengerjaiku. Pasalnya, senyum polosnya langsung muncul begitu melihatku datang. “Cepet, Mas! Airnya enak buat berendam!” Begitulah kira-kira cara dia mengajakku dengan antusias. Melihat wajah tanpa dosanya itu, aku tidak bisa apa-apa selain menurutinya. Sepertinya, lain kali aku harus terlatih untuk menyesuaikan pola pikir istriku yang terkadang sangat berseberangan denganku. Segila-gilanya aku, aku tidak mungkin berani macam-macam di tempat terbuka, sekalipun