Tidurku terganggu ketika kurasakan telingaku ditiup-tiup pelan. Awalnya aku bisa menepisnya, tetapi lama kelamaan tiupan itu semakin intens. Membuatku bergidik berkali-kali. “Bangun, sayang. Udah jam lima.” Tiupan itu datang lagi. “Dingin!” “Aku udah siapin air hangat buat berendam.” “Lima menit—“ “Dari tadi lima menit - lima menit terus.” Mataku masih terasa sangat berat. Rasanya luar biasa ngantuk. Aku benar-benar masih enggan bangun. Selimut juga semakin kueratkan. “Habis subuh tidur lagi enggak papa, tapi sekarang bangun, Vin. Kalau dalam satu menit enggak bangun, aku gendong paksa ke kamar mandi.” Mendengar itu, aku membuka mata. Begitu melihat Mas Alan yang sedang berbaring di depanku tanpa baju, badanku langsung melorot dan refleks menutupi kepalaku dengan selimut. Mas Alan