“Kenapa namaku yang Mas simpan? Sebenarnya sejak kapan kita ketemu?” Mas Alan naik dan ikut duduk di sebelahku. Dia meraih ponselnya, lalu meletakkannya di meja. “Sayang kalau sampai kecebur,” katanya santai. “Cepet jelasin, Mas. Kenapa ada namaku di wallpaper?” “Kamu sendiri ingat atau enggak yang di foto itu apa?” Aku menggeleng. “Emang itu apa? Eh, maksudnya itu buku kecil. Tapi kenapa ada namaku?” “Ya karena itu punyamu.” Seketika, aku terdiam. “Beneran punyaku? Aku enggak ingat pernah punya buku kaya gitu.” “Aku maklum kalau kamu enggak ingat, tapi kebiasaanmu yang satu ini belum berubah sampai sekarang, Vin. Tanpa kamu sadari, kamu selalu menyematkan namamu di barang-barangmu. Bahkan sampai detik ini, kamu kasih gantungan nama di hapemu. Iya, kan?” Aku mengangguk. “Ah ... iy