“Della ... sayang? Kok tidur jam segini? Kamu lelah?” Aku langsung terbangun ketika merasakan lengan atasku disentuh dengan lembut. “Eh ... udah pulang, Mas?” Aku reflek hendak bangun, tetapi gagal karena kepalaku terasa sangat pening. Duh, ini apa gara-gara tadi kebanyakan nangis? “Kamu sakit?” tanya Mas Razan ketika aku kembali tidur sambil memegangi kepala. “Enggak. Cuma pusing aja.” Aku menjawab jujur, meski tak kuceritakan penyebab utamanya. Entah kenapa, tiba-tiba saja hatiku terasa sakit sekali ketika melihat Mas Razan tersenyum. Bayangan foto yang dikirim Reno tadi langsung tercetak jelas di otakku. Kalau Mas Razan memang ingin keluar bertemu teman perempuannya, aku pasti mengizinkan. Barangkali ada keperluan, aku bisa memahaminya. Yang aku permasalahkan di sini adalah d