Duniaku terasa runtuh, benar-benar runtuh. Kabar dari rumah sakit terdengar seperti petir yang menyambar di siang bolong. Aku kalut, dan aku juga takut. “Della ... jangan cepet-cepet jalannya. Kamu ini lagi hamil besar.” Mbak Vera menahanku setengah memaksa agar aku jalan pelan saja. Bagaimana mungkin dalam kondisi seperti ini aku bisa jalan pelan-pelan? Saat ini di otakku hanya dipenuhi oleh Mas Razan. Aku hanya ingin segera melihatnya. Itu saja. “Aku pengen cepet-cepet lihat Mas Razan, Mbak.” “Iya, aku tahu. Tapi kamu jangan jalan buru-buru begitu, kamu ini juga baru bangun dari pingsan. Panik boleh, tapi jangan bahayakan anakmu. Yang tenang—” “Gimana aku bisa tenang, Mbak?!” tanpa sadar suaraku tiba-tiba meninggi. Mbak Vera tampak mengembuskan napas panjang, lalu mengangguk pah