“Serius aku masih ngantuk banget. Yakin, kamu siap ditinggal, meski mamah belum datang? Nanti kalau pak Mulya tiba-tiba datang, bagaimana?” Sambil membuka korden di dana, Chen sengaja menggoda Dhidy. “Aku sudah sembuh, jadi aku boleh pulang, kan?” ucap Dhidy tak bersemangat. Chen balik badan dan menatap sang istri dengan senyum tertahan. “Mau pulang ke mana? Ke rumah pak Mulya?” Kali ini, Dhidy langsung menghela napas jengkel. “Jail banget sih jadi orang.” Chen hanya tersenyum geli. “Oh, iya ... laporan yang kemarin, kamu sudah beresin, kan?” Chen melangkah panik mendekati Dhidy. Ia meninggalkan hamparan jendela yang kiranya berjarak empat meter dari keberadaan sang istri. Dhidy yang masih duduk selonjor di tengah-tengah tempat tidur berkata, “Mas kerjakan saja sendiri. Harusnya kan M