Indah berdiri di hadapan dinding yang terdiri atas sebagian tembok dan sebagian lagi kaca. Memandang langit yang sudah telah meredup karena sang mentari yang mulai menatapnya beranjak dari peraduannya. Berulang kali Indah menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya kembali. Berulang kali pula ia menggelengkan kepalanya, seolah mengingkari apa yang telah ia kerjakan juga alami seharian ini. Saking asyiknya dengan pikirannya sendiri, Indah tak lagi mengetahui bila ada seseorang yang masuk ke ruang kerjanya, hingga orang itu melingkarkan tangan ke pinggangnya. Indah terhenyak kaget, tapi wangi yang menguar dari si pemeluk membuatnya cepat sadar. "Baaang," ucapnya lirih. "Iya, Ayang." Ya, si pemeluk itu adalah suami Indah sendiri. Si tampan yang selalu membuat Indah terbuai akan peson

