Saat Uma tiba di rumah, mobil Arya tidak terlihat di garasi. Itu berarti suaminya belum pulang. Namun, ibu mertuanya sudah ada di rumah.
Tini menyambut Uma dan segera membantunya mengangkat beberapa bahan sabun yang berat dari dalam bagasi mobil.
“Biar saya saja yang bawa, Bu,” ucap Tini menawarkan bantuan.
Arumi pun kemudian berpamitan. “Aku langsung pulang ya, Uma. Sudah malam juga.”
Uma mengangguk. Ia tahu betul, suasana pasti akan canggung jika Arumi tetap tinggal saat Bu Mirna ada di rumah.
Begitu masuk ke ruang tengah, Uma melihat ibu mertuanya duduk di sofa menonton televisi. Vivi sedang bermain boneka bersama Mbok Jum di karpet.
Bu Mirna meliriknya sekilas. “Harusnya kamu pulang lebih cepat. Kamu itu sudah berkeluarga, punya tanggung jawab sebagai istri dan ibu. Baru diberi sedikit kebebasan saja langsung lupa pulang," decihnya tajam.
Nada bicaranya menghakimi seperti biasa. Berharap Uma merasa bersalah. Tapi kali ini reaksi Uma berbeda. Ia tidak mau bersikap seperti dulu yang hanya menunduk diam.
“Saya keluar hanya beberapa jam, Bu. Itu pun baru sekali ini. Dan kalau Ibu khawatir soal tanggung jawab, saya harap Ibu nanti juga menasihati Mas Arya. Sampai sekarang dia belum pulang juga kan?" sahut Uma datar.
Bu Mirna langsung menoleh, matanya menyipit.
“Jangan samakan Arya dengan kamu. Arya itu setiap kali keluar rumah, tujuannya untuk mencari uang! Bukan bersenang-senang sepertimu!" hardik Bu Mirna pedas.
Uma mengangkat beberapa plastik besar berisi bahan baku sabun. “Saya juga keluar untuk cari uang, Bu. Ini semua adalah buktinya."
Bu Mirna mendengkus. “Kamu itu mencari uang recehan! Kalau Arya, uang miliaran! Tidak pantas usaha receh kamu dibanding-bandingkan dengan penghasilan Arya. Lagi pula baru beberapa bulan ini kamu usaha, sebelumnya kerjamu hanya ongkang-ongkang kaki di rumah."
Uma tersenyum sinis. “Untuk mencari recehan itu saja, saya harus bekerja keras, Bu. Dan uang miliaran Arya itu sama sekali tidak ada gunanya buat saya," balas Uma tajam.
"Di rumah ini pun saya bukan ongkang-ongkang kaki saja. Saya membantu mengurus rumah dari pagi sampai malam. Mbok Jum dan Tini saja tidak sanggup mengurus semuanya, kalau cuma mengharap tenaga mereka berdua. Bedanya, mereka bekerja itu digaji. Kalau saya, tidak.”
Mbok Jum dan Tini yang mendengar pertengkaran itu langsung saling pandang. Tini segera mengambil alih plastik-plastik besar dari tangan Uma, menjadikan satu dengan plastik-plastiknya dan berjalan cepat menuju dapur belakang. Mbok Jum mengekor sambil menggendong Vivi. Mereka tahu, suasana ruang tamu akan segera memanas.
Bu Mirna menyipitkan mata, nadanya semakin meninggi. “Kamu tidak digaji karena kamu anggota keluarga!" Bu Mirna bangkit dari sofa karena amarah. Menantunya ini sekarang berani bersikap kurang ajar.
"Kalau saya memang anggota keluarga, kenapa saya tidak pernah diperlakukan sebagai anggota keluarga?" Uma makin meradang. Ingatan akan Arya yang menamai putri mereka dengan nama selingkuhannya membuat amarahnya membara. Belum lagi sikap Bu Mirna yang selama tiga tahun ini selalu menindasnya. Ibu dan anak anak sama saja. Sama-sama munafik dan jahat!
"Sudah! Kamu jangan banyak protes. Harusnya kamu itu banyak-banyak bersyukur sudah berhasil menjadi bagian dari keluarga ini. Karena atas kemurahan hati kami lah, ayahmu masih bisa hidup sampai sekarang." Tidak bisa membantah argumen Uma, Bu Uma membelokkan topik permasalahan.
Uma tertawa pendek, getir. “Dan kalau bukan karena ayah saya, Pak Jamal pasti sudah meninggal dunia empat puluh tahun yang lalu—bukan empat tahun lalu. Karena Ayah sayalah yang menolong Pak Jamal saat terkapar tengah malam di pinggir jalan akibat tabrak lari. Ayah saya juga yang membawa beliau ke rumah sakit bahkan mendonorkan darahnya. Kalau bukan karena ayah saya—ibu akan menjadi janda di usia muda dan Mbak Yani serta Mas Arya menjadi anak yatim."
Tajamnya kata-kata Uma membuat Bu Mirna tercekat. Tapi Uma belum selesai.
“Jadi, jangan bicara soal balas budi di sini. Karena ayah saya sudah lebih dulu memberi nyawa untuk keluarga ini.”
Suasana menjadi hening. Udara di ruang tamu terasa panas, seolah semua energi tertahan di antara amarah yang siap meledak dan kesadaran yang baru saja ditampar kenyataan.
Sejurus kemudian terdengar suara deru mobil dan pintu pagar yang dibuka. Bu Mirna menoleh ke arah pintu. Ia tersenyum tipis penuh kepuasan. “Itu pasti Arya,” gumamnya.
Tak lama kemudian, suara pintu depan dibuka cukup keras.
“Ada apa sih ribut-ribut? Suara kalian terdengar hingga keluar!” seru Arya yang muncul di ambang pintu, masih mengenakan kemeja kerja tadi sore. Hanya dasinya saja yang sudah dilonggarkan.
Bu Mirna seperti menemukan panggungnya. Dengan langkah cepat ia mendekati putranya.
“Ini lho, istrimu!” kata Bu Mirna sengit. “Sekarang sudah berani membentak-bentak Ibu! Bahkan berani menyuruh Ibu menasehatimu karena pulang malam! Istrimu ini sekarang mulai kurang ajar!"
Arya langsung menatap Uma yang berdiri tegak. Wajahnya tampak lelah, tapi sorot matanya menantang.
“Apa benar yang Ibu katakan?” tanya Arya tajam, nada suaranya penuh intimidasi seperti biasa.
Uma belum sempat bicara ketika Bu Mirna kembali menyela cepat. “Jangan harap dia akan mengaku. Istrimu ini pengecut. Beraninya cuma ngomel-ngomel di belakang. Tapi di depan, lemah lembut dan pura-pura menurut."
Uma menarik napas panjang, lalu menatap Bu Mirna dingin. Ia siap memberi kejutan.
“Betul, Mas. Semua yang dikatakan Ibu, benar. Saya memang menyuruh Ibu menasihatimu juga biar adil. Jangan cuma padaku saja.”
Arya tersenyum mengejek. "Hebat kamu sekarang ya, sudah mulai berani protes." Sekonyong-konyong Arya berdiri di depan Uma.
"Dengar baik-baik. Selama kamu masih mau makan, minum dan tidur di rumah ini, kamu tidak usah banyak tingkah!" Arya menoyor kepala Uma.
"Eh Mas, semua yang kamu sebutkan tadi memang sudah menjadi tugasmu sebagai seorang suami. Kalau saya harus membayar, mendingan saya cari majikan yang lebih kaya yang loyal. Bukan menjadi babu gratisan di rumah sendiri," balas Uma tak kalah ganas.
"Kalau memang mau hitung-hitungan, saya yang rugi banyak, Mas. Keperawanan saya, anak yang saya lahirkan, kepatuhan saya melayani Mas lahir batin, coba Mas bayar? Nominalnya tidak terhitung bukan?" Uma kian menunjukkan taringnya.
"Lantas, apa maumu?" Arya berkacak pinggang. Ia ingin melihat sejauh apa Uma berani mendebatnya.
"Saya mau Mas memperlakukan saya selayaknya seorang istrimu, bukan babu. Perlakukan saya dengan hormat, berikan juga saya nafkah lahir batin yang memang seharusnya menjadi hak saya," ucap Uma tegas.
"Woho. Kamu sudah mulai menuntut macam-macam ya sekarang? Hebat... hebat..." Arya bertepuk tangan dengan air muka mengejek.
"Baru sehari keluar rumah saja, kamu sudah berani memberontak. Saya peringatkan kamu ya, jangan macam-macam, Atau saya ceraikan kamu!”
Kalimat itu menggema di ruang tamu. Bu Mirna tersenyum penuh kemenangan. Ia ingin melihat bagaimana Uma yang tiba-tiba kerasukan setan sombong ini, mulai menghiba-hiba.
Namun di luar dugaan mereka, Uma tampak santai saja menanggapinya. Ia kemudian menatap Arya lekat-lekat dan berkata pelan, “Ceraikan saja," katanya dingin.
Arya tercengang. “Apa?”
Uma menatapnya sinis. “Saya yakin telinga Mas masih berfungsi dengan baik." Uma menatap Arya berani. Tapi tidak masalah, saya bisa mengulanginya kok. Dengar baik-baik. Ceraikan saya sekarang juga. Saya sudah muak menjadi istrimu. Muak dengan sikap otoriter ibumu dan muak pura-pura bahagia menjadi istri orang kaya padahal semuanya hanya pinjaman belaka!" umpat Uma getas.
Arya melangkah maju, wajahnya memerah.
“Jangan kurang ajar kamu ya!"
Tamparan mendarat tiba-tiba. Keras. Membuat wajah Uma tertoleh ke samping. Di ujung bibirnya terasa asin—rasa darah.
"Ini adalah hukuman kecil karena kamu sudah mulai berani melawan!" ancam Arya geram.
Uma memegang pipinya yang perih serta mengusap darah dengan ujung jari. Namun ia tidak menangis. Ia justru menatap Arya lurus-lurus. Sikapnya tetap tenang, terlalu tenang hingga membuat Arya dan Bu Mirna menebak-nebak, apa yang ada di hati Uma sekarang.
Uma melirik sekilas ke lantai dua. Di sana ia melihat Tini memegang ponsel—merekam, seperti instruksi rahasia yang sudah ia kirimkan tadi. Ia memang sudah punya firasat kalau akan terjadi pertengkaran besar karena ia tidak mau lagi ditindas.
Sadar bahwa ia sudah mempunyai bukti kejahatan Arya, Uma tersenyum kecil dan kembali melayangkan tatapan pada Arya sambil berkata, “Terima kasih, Mas. Kamu baru saja memberi saya bukti untuk membawa kasus ini ke polisi.” Uma membalikkan badan. Bersiap keluar rumah menuju kantor polisi.
Arya melangkah cepat— menghadang langkah Uma.
“Mau ke mana kamu, hah?!” tanyanya gusar.
“Mau melakukan autopsi di rumah sakit dan lanjut ke kantor polisi karena saya telah dianiya,” jawab Uma tenang. Ia kembali menyeka darah yang mengalir di sudut bibirnya.
"Kamu sudah gila ya, mau melaporkan suami sendiri?" Bu Mirna mengamuk. Ia tahu di era digital seperti ini, satu bukti yang diunggah ke media sosial bisa menghancurkan reputasi Arya.
"Mau cari mati kamu ya?" desis Arya geram.
"Sini kamu!" Arya mencengkram pergelangan tangan Uma kasar lalu menyeretnya menuju kamar. Bu Mirna memandangi dengan perasaan puas. Tindakan Arya sudah benar. Uma harus tahu konsekuensi tindakan membangkangnya. Agar lain kali ia akan berpikir dua kali sebelum bertingkah.
Sementara di lorong menuju kamar, Uma memberontak. Ia meronta-ronta sekuat tenaga hingga cengkraman di tangannya terlepas. Namun belum sempat ia berlari jauh, Arya berhasil menyusulnya dan langsung mendorongnya masuk ke dalam kamar.
"Kamu kira segampang itu lari dariku, heh?" Arya kembali menampar pipi Uma. Keras, pedas. Namun Uma sudah mati rasa. Ia hanya diam namun menatap Arya penuh perhitungan. Ia sempat tersenyum puas saat melihat Tini kembali merekam perbuatan Arya dari tingkat dua karena pintu kamarnya belum tertutup.
"Kamu benar-benar sudah gila ya?" Arya menatap Uma yang masih sempat tersenyum alih-alih kesakitan.
"Saya sudah lama gila sejak setuju menjadi istrimu, Mas." Uma tersenyum masygul.
"Terserah kamu mau mengoceh apa." Arya tidak mempedulikan keanehan Uma. Ia kemudian menarik tas di bahu Uma dan membuka resletingnya kasar. Menuang tasnya ke lantai hingga isi tas berhamburan—nota toko Kimia Jaya, dompet, ponsel, bedak, lipstik, semuanya berceceran di lantai.
Dengan cepat Arya menyambar ponsel dan dompet Uma, lalu mengangkat kepala, wajahnya liar dan penuh ancaman.
“Jangan harap kamu bisa ke mana-mana! Mau lapor polisi? Silakan! Tapi kamu tidak akan bisa keluar dari kamar ini. Saya akan mengurungmu sampai kamu tobat!”
Arya mengancam Uma sekali lagi sebelum menutup pintu kamar dan menguncinya sekaligus. Ia tidak tahu bahwa semua tindakannya sudah terekam kamera Tini.
Di dalam kamar, Uma terduduk di sudut ranjang. Untuk pertama kalinya, ia tidak takut lagi pada ancaman Arya. Yang ada di kepalanya sekarang hanya satu hal:
Bagaimana caranya keluar dari rumah ini dan membebaskan dirinya.
Tekadnya sudah bulat.
Ia akan bercerai—bagaimanapun caranya.