Setelah hampir tiga jam lamanya terkurung di dalam kamar, pintu akhirnya terbuka. Arya berdiri di ambang pintu dengan air muka kesal. Ketegangan masih tersisa di rahangnya yang terkatup rapat. Di lengannya, Vivi menangis sesenggukan—matanya sembap, suara ceracauannya parau karena dibiarkan menangis terlalu lama. "Ibu... Ibu... mau sama Ibu." Vivi meronta-ronta dalam gendongan Arya. Tubuhnya ia condongkan ke depan dengan tangan terentang ke arah Uma. “Nih, tenangkan Vivi. Dia menangis terus, bikin pusing saja,” gerutu Arya, menyerahkan Vivi pada Uma dengan gerakan cepat, seolah menyerahkan barang yang membuatnya kesal. Uma menyambut Vivi tanpa sepatah kata pun. Sedikit pun tak menoleh pada Arya. Ia hanya menimang pelan tubuh mungil sang putri, menempelkannya ke d**a, membisikkan kata-kat