8. Aku Bukan yang Dulu Lagi.

1654 Kata
Pagi datang terlalu cepat. Uma bangun dan berkali-kali menguap saat menyiapkan sarapan bersama Mbok Jum. Ia terjaga semalaman dan baru bisa tidur menjelang pagi. Saat ini, dapur dipenuhi aroma kaldu dari bubur ayam yang menguar dari mangkuk hangat. Uma duduk di ujung meja, menyuapi Vivi yang duduk di baby chair sambil mengayun-ayunkan kaki mungilnya. "Aaa..." Uma tersenyum lembut sambil menyodorkan sesendok bubur ke mulut anaknya. Vivi menyambutnya dengan gembira, meski sebagian bubur menempel di pipinya. Sejurus kemudian, Mbok Jum meletakkan pinggan berisi nasi goreng, telur mata sapi, dan ayam suwir. Tini menyusul meletakkan potongan timun, tomat segar, kerupuk, dan seteko jus jeruk. Beberapa saat kemudian, pintu dapur terbuka. Arya masuk dalam keadaan sudah rapi. Ia mengenakan kemeja biru muda dengan dasi menggantung di leher. Wajahnya seperti biasa—dingin, angkuh, merasa dirinya raja di rumah sendiri. Uma tidak melihat ke arah Arya sedikit pun. Ia tetap duduk dan sibuk menyuapi bubur ayam pada Vivi. Padahal biasanya ia akan meminta Tini menggantikannya menyuapi Vivi karena dirinya akan melayani Arya. Setelah mengetahui rencana keji Arya semalam, ia sudah memutuskan tidak akan mau menjadi kacung Arya lagi. Toh Arya tidak akan berani menceraikannya. "Aku mau nasi goreng sama telur mata sapi, setengah matang," katanya tanpa basa-basi, lalu duduk di kursi makan, mengetuk-ngetukkan jarinya di meja. Uma tidak menjawab. Tangannya tetap bergerak menyuapi Vivi, seolah tidak mendengar kata-kata Arya. Arya melirik Uma sekilas. Begitu juga dengan Mbok Jum dan Tini. Karena Uma bergeming di kursinya, Mbok Jum pun berinisiatif membantu. "Ehm, baik, Pak. Nasi gorengnya mau banyak atau sedikit saja?" Mbok Jum dengan bijaksana mengambil alih tugas Uma. Ia mengambilkan piring dari meja, siap mengisinya dengan makanan pilihan majikannya. "Siapa yang menyuruh Mbok Jum?" Arya memelototi Mbok Jum, gusar. Ia tidak menyangka kalau Uma akan mengabaikannya. Mbok Jum yang dimarahi Arya menjadi serba salah. Ia meletakkan kembali piring ke meja dan kembali ke dapur. Arya menatap Uma kesal. Namun Uma pura-pura tidak tahu dan menyuapkan sisa bubur terakhir pada Vivi. "Wah, bubur Vivi sudah habis ya? Pinternya anak Ibu." Uma meletakkan sendok dan bertepuk tangan gembira. "Habis... habis..." Dengan bahasa yang terbatas, Vivi ikut bertepuk tangan gembira. Sikap Uma yang seperti tidak melihat kejadian di depannya membuat Arya naik darah. "Kamu buta-tuli ya? Kenapa kamu tidak mengambilkan sarapan untukku?" hardik Arya geram sambil memelototi Uma. "Oh, Mas mau saya layani? Lain kali sebut nama ya, Mas. Jadi saya tahu," sahut Uma kalem. "Biasanya juga kamu yang melayani. Kenapa hari ini kamu bertingkah aneh?" dengkus Arya kesal. "Mulai hari ini saya akan melakukan sesuatu berdasarkan prioritasnya," sahut Uma datar. "Apa maksudmu?" Arya makin gusar. Ia tidak terbiasa melihat sikap dingin Uma. "Maksud saya, misalnya saat ini, Mas dan Vivi sama-sama ingin makan. Saya akan memprioritaskan Vivi karena ia belum bisa makan sendiri. Mas bisa dilayani oleh Mbok Jum atau Tini." "Lantas kalau mereka berdua tidak ada, bagaimana?" pungkas Arya lagi. "Ya, Mas layani diri sendiri lah. Toh, Mas bukan orang cacat," jawab Uma enteng sambil menyeka mulut Vivi yang belepotan bubur dengan tisu hingga bersih—lalu memberinya minum. Baru setelahnya ia menyendokkan nasi goreng dan telur mata sapi ke piring Arya, berikut segelas jus jeruk yang ia tuang dari teko kaca. Arya menyipitkan mata, memandangi Uma dengan tatapan spekulatif. Ada apa dengan istrinya ini? Tidak biasanya Uma cuek begini. Ia sudah nyaman dengan Uma yang patuh, diam, dan berguna. Bukan yang abai dan dingin begini. "Kamu kesurupan atau salah makan? Kenapa sikapmu aneh begini?" Arya menyantap nasi gorengnya sambil memandang Uma lurus-lurus. "Kalau saya kesurupan, bukan nasi goreng dan telur mata sapi ini yang saya hidangkan. Tapi bunga dan kemenyan," sahut Uma seenaknya. Brakkk! Arya menggebrak meja kasar. Akibatnya sendok dan garpu di piringnya mental. Dua gelas berguncang, satu tumpah, yang lain menggelinding dan jatuh ke lantai—pecah berderai. Vivi menangis keras, terkejut dengan suara keras dan kemarahan yang meledak tiba-tiba. “Kamu ini dibaiki sedikit saja langsung kurang ajar! Dasar perempuan tidak tahu diri!" bentak Arya geram. Mbok Jum dan Tini buru-buru memunguti pecahan gelas dalam diam. Situasi seperti ini sudah terlalu sering mereka hadapi. Uma tetap tenang. Ia tidak terprovokasi oleh u*****n penuh hinaan Arya. Sebaliknya, ia mengayun-ayun tubuh Vivi lembut, membisikkan kata-kata yang menenangkan. “Ssst... tidak apa-apa, Sayang. Ibu di sini. Tenang, ya. Tidak ada yang marah sama Vivi…” Uma terus membujuk Vivi dengan kalimat-kalimat manis. Tangis Vivi perlahan mereda. Uma mencium ubun-ubunnya, lalu menyerahkannya pada Tini. “Tini, bawa Vivi ke taman, ajak main, ya. Jangan sampai ia mendengar suara ribut-ribut lagi,” kata Uma lembut tapi tegas. Tini mengangguk dan membawa Vivi pergi. Setelah suara langkah kaki mereka menghilang, Uma akhirnya berdiri menghadap Arya. Wajahnya tenang, tapi matanya dingin seperti batu. “Kalau Mas tidak suka dengan sikap saya yang sekarang…” suaranya terdengar pelan, namun penuh ketegasan, “...ceraikan saja saya.” Arya menatapnya dengan mata membelalak, seolah baru mendengar sesuatu yang tak pernah terlintas di pikirannya. “Apa?” gumamnya nyaris tak terdengar. “Saya bilang, ceraikan saya,” ulang Uma, kali ini lebih jelas. Ruang makan mendadak hening. Ketegangan menggantung di udara. Sejurus kemudian, terdengar langkah kaki dari arah koridor. Bu Mirna muncul, mengenakan daster halus berbunga kecil. Keningnya berkerut mendengar keributan di dapur. "Ada apa ini, pagi-pagi sudah ribut?" tanyanya dengan nada tajam. Arya berdiri, masih terlihat kesal. Ia menyingkirkan nasi gorengnya yang sedikit berantakan karena perbuatannya sendiri tadi. Ia sudah tidak nafsu makan. "Uma ini, Bu! Dia kurang ajar. Masa katanya aku bukan prioritasnya lagi? Sudah tahu aku lapar dan ingin sarapan, dia malah sibuk menyuapi Vivi. Bukannya melayaniku seperti biasa. Sampai-sampai Mbok Jum yang menggantikan tugasnya!" Bu Mirna mengalihkan pandangannya pada Uma, yang masih berdiri tenang di dekat kursi makan. Tatapan mereka bertemu sejenak. Uma tak berkata apa-apa. Ia hanya menunduk sedikit, menunggu. Ingin tahu, kali ini ibu mertuanya akan memarahinya dengan kalimat-kalimat hinaan apa lagi. Ibu dan anak ini memang kerap merudungnya. Beberapa detik berlalu sebelum Bu Mirna berkata—nada suaranya tenang, "Hanya masalah sepele saja, ributnya sampai terdengar ke luar sana," omel Bu Mirna sembari duduk perlahan di kursi. Uma termangu. Tumben, ibu mertuanya tidak ikut-ikutan menghujatnya. Arya merengut. "Tapi, Bu—" Namun, ibunya mengangkat tangan, memotong kalimat itu. "Duduk dan lanjutkan sarapanmu, Arya. Kamu juga, Uma. Duduk sini," perintah Bu Mirna tegas. Arya dan Uma menarik kursi dan duduk mengelilingi meja. "Dengar, Arya. Uma itu tidak selamanya ada untukmu. Sekarang dia sibuk mengurus anak. Nantinya bisa saja dia sibuk mengurus hal lain. Kamu harus mulai belajar dilayani oleh orang lain juga." Kata-kata Bu Mirna... terdengar lembut, tapi mengandung satu ancaman. Bukan selamanya ada buat kamu. Kamu harus mulai belajar dilayani oleh orang lain. Seketika Uma tersenyum. Bukan senyum bahagia, tapi senyum miris. Ia akhirnya paham. Ibu mertuanya tetap membela Arya, tapi dengan cara lain. Ibu mertuanya sedang menyisipkan pesan lain—bahwa posisinya bisa diganti. Bahwa dirinya hanyalah pion sementara dalam permainan besar keluarga ini. "Kamu belum makan, kan, Uma? Ayo kita sarapan." Bu Mirna menyendok nasi goreng. Uma mengangguk. Ia akan mengikuti permainan ibu mertuanya. Mereka pun sarapan dalam diam. "Arya, nanti pukul empat sore, kamu ke butik Gunawan Hartanto, ya? Ibu sudah membuat janji temu baru," Bu Mirna membuka suara. "Apa tidak bisa besok saja, Bu? Hari ini aku sibuk banget soalnya." "Hari ini saja. Orang yang mau seragaman dengan kita di pernikahan Thania sudah menunggu di sana pukul empat nanti." "Oh, boleh, Bu. Kita bertemu di sana saja, ya? Ibu perginya bersama Pak Alwi, bukan?" kata Arya antusias. Bu Mirna mengangguk. "Ibu nanti membawa Vivi juga, ya, Uma? Biar Tini yang menjaganya. Ibu mau membuat baju juga untuk Vivi," Bu Mirna mengalihkan pembicaraan pada Uma. "Baik, Bu. Nanti saya akan menidurkan Vivi lebih cepat agar tidak rewel." Uma menyetujuinya. Ia percaya kalau Tini bisa menjaga Vivi dengan baik. Selama ini, Tini sangat telaten apabila dimintai tolong untuk menjaga Vivi. Uma percaya padanya. "Kamu tidak apa-apa, kan, tidak ikut? Ibu ingat kamu sudah punya gaun mahal, pemberian orang di butik si Gunawan itu," ucap Bu Mirna santai. "Sumbangan, tepatnya, Bu," cibir Arya sinis. Diingatkan pada pasangan muda yang menyindirnya waktu itu membuatnya kembali emosi. "Iya, Bu. Tidak apa-apa. Malah kebetulan. Saya ingin keluar rumah, bertemu dengan teman-teman sekolah saya dulu. Mereka mengajak bertemu. Boleh, kan, Mas?" Uma meminta izin Arya. Ia menyabar-nyabarkan hatinya agar tidak terpancing oleh hinaan-hinaan Arya. Arya tidak langsung menjawab. Ia memandang sang ibu untuk meminta jawaban. Saat ia melihat anggukan samar ibunya, barulah ia bersuara. "Boleh saja. Bagus juga sesekali kamu refreshing bersama teman-temanmu agar pikiranmu lebih terbuka. Oh ya, teman-temanmu itu semuanya perempuan, atau ada laki-laki juga?" tanya Arya penasaran. "Ada laki-laki juga. Namanya juga teman sekolah, ya ada perempuan dan laki-laki," jawab Uma. Arya mengangguk. Tiba-tiba saja muncul satu ide cemerlang di benaknya. "Baiklah. Begini saja, untuk selanjutnya aku memperbolehkanmu keluar bersama teman-temanmu seminggu sekali. Dengan catatan, kamu tidak boleh membawa Vivi." Uma tersenyum masygul. Arya mulai mencari cara agar ia melakukan "kesalahan", sehingga ia bisa menceraikannya namun tetap mendapat warisan. Arya pasti ingin membuatnya berselingkuh. "Saya senang sekali mendengarnya, Mas. Sayangnya, saya tidak punya uang untuk bisa sering-sering pergi bersama mereka." Uma membuat ekspresi kecewa dan tidak berdaya. "Nanti aku akan memberimu uang ekstra khusus untukmu keluar rumah. Aku juga akan mentransfer sejumlah uang agar kamu bisa bergaya layaknya teman-temanmu lainnya. Dandanlah secantik mungkin. Jangan membuatku malu, seolah-olah aku tidak mampu membiayaimu," imbuh Arya lagi. "Baik, Mas." Uma tersenyum kecut. Lihatlah betapa tidak sabarnya Arya mengenyahkannya dari rumah ini. Sampai-sampai ia bersedia memodalinya agar bisa memikat laki-laki di luar sana. "Tidak usah nanti-nanti, deh. Sekarang saja." Arya meraih ponselnya di meja makan, membuka aplikasi perbankan, dan mentransfer sejumlah uang pada Uma. "Aku mengirim uang lima juta. Pakailah untuk berdandan dan bersenang-senang. Buat orang-orang di sana tidak percaya kalau kamu itu sudah menikah dan mempunyai anak." Uma menggeleng-gelengkan kepalanya. Suaminya sudah tidak sabar menunggunya berselingkuh, rupanya. Baiklah, ia juga akan mulai mengatur strategi. Ia akan memastikan bahwa Arya tidak akan mendapat warisan dari ayahnya sepeser pun karena menggunakan cara selicik ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN