14. Bias Asa.

1600 Kata

Pagi belum sepenuhnya datang. Langit masih berwarna abu pucat, dan udara dini hari menyelinap lewat jendela. Udara dingin terasa menggigit kulit. Uma belum memejamkan mata sedetik pun. Alih-alih tidur, benaknya terus dipenuhi oleh segala kemungkinan. Mungkinkah Arya mengetahui persekongkolannya dengan Tini? Atau bahkan tahu bahwa dirinya bersembunyi di sini. Uma melirik ke samping. Terdengar suara dengkur halus dari mulut Arumi. Berbeda dengan dirinya, Arumi telah tertidur dengan lelapnya. Sahabatnya ia pasti kelelahan setelah mengurus t***k bengek di kantor polisi dan rumah sakit. Tidak bisa tidur, Uma memutuskan untuk ke dapur saja. Secangkir teh hangat mungkin akan membantunya mencari kantuk. Di dapur, Bik Iyah dan Bik Sumi sedang sibuk membersihkan dapur dan menyiapkan sarapan. Ar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN