bc

GADIS NAKAL MILIK PAK USTADZ

book_age18+
83
IKUTI
1K
BACA
family
opposites attract
drama
tragedy
sweet
city
secrets
surrender
addiction
like
intro-logo
Uraian

"Aku sudah tidak perawan."

Kalimat Juleha tidak hanya membuat gelas di tangan ibunya pecah, tapi juga menghancurkan hidup mereka selamanya. Tragedi kematian Umi Salamah memaksa Juleha masuk ke dalam rumah tangga yang tak pernah ia inginkan bersama Zayn Malik, pria religius yang ia anggap terlalu suci untuknya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
PROLOG: "Zayn," panggil Juleha. Suaranya rendah dan serius. Zayn berhenti mengunyah, ia merasakan perubahan atmosfer di antara mereka. "Ya?" "Kamu sungguh ingin saya menjadi istrimu? Setelah semua yang kamu tahu tentang saya?" tanya Juleha, menatap lurus ke mata Zayn. Zayn tersenyum, sebuah senyuman yang sangat tenang dan meyakinkan. "Yah.. saya yakin. Hati saya sudah mantap." Juleha menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk menghancurkan momen indah ini sebelum semuanya terlambat. "Tapi saya.. saya sudah tidak perawan, Zayn." *** BAB 1: Dua Dunia yang Berbeda Senja yang jatuh di atas Pesantren Hidayatullah selalu membawa aroma ketenangan yang pekat, perpaduan wangi tanah basah sehabis aliran air wudu, embun dari dahan-dahan pepohonan mangga tua, dan kepulan asap kayu dari dapur santri. Di tengah ketenangan yang memeluk itu, berdiri tegak Zayn Malik. Usianya dua puluh lima tahun. Putra tunggal Kyai Abdul Aziz, sang pendiri pesantren. Tubuhnya tinggi tegap, dengan sorot mata yang teduh namun tegas—pandangan seorang pemimpin yang terbiasa menyelami batin, bukan sekadar melihat tampilan luar. Ia baru saja menyelesaikan pengajian kitab kuning saat salah satu santri menyerahkan secarik kertas terlipat. Itu adalah pesan singkat dari seorang wali santri yang sudah ia anggap kerabat dekat, Umi Salamah. “Zayn, Nak. Umi ingin membicarakan infak bulan ini. Sekalian juga rencana pengajian malam Jumat. Tolong mampir sebentar ya ke rumah. Umi sudah siapkan kue bikang kesukaanmu.” Zayn tersenyum tipis. Umi Salamah. Wanita paruh baya yang elegan, selalu bersemangat dalam beribadah, dan penyumbang tetap pesantren. Sejak ibunya tiada belasan tahun lalu, Umi Salamah sering mengisi kekosongan itu. Perhatiannya, kue bikangnya yang legit, nasihat-nasihat lembutnya—semuanya membangkitkan kerinduan pada sosok ibu yang hilang. Sebelum bertolak, Zayn menemui ayahnya. "Ayah, Zayn izin ke rumah Umi Salamah. Ada urusan infak." Ustadz Abdul Aziz meletakkan kitab tafsir yang dibacanya. Zayn menangkap sedikit kelelahan di mata Ayahnya yang semakin cekung. “Bukankah beliau baru saja menyalurkan dana besar untuk renovasi kemarin?” tanya Ustadz Aziz. “Benar, Ayah. Tapi Umi Salamah ini luar biasa baik. Beliau juga memperlakukan Zayn seperti anak kandungnya sendiri. Apakah Ayah tidak pernah terpikir untuk…” Zayn menelan kata 'menikah' di tenggorokannya. Ayahnya, Ustadz Abdul Aziz, tersenyum maklum, senyum yang tak menjangkau matanya. “Zayn, Nak. Hati saya sudah mati rasa sejak ibumu pergi. Tidak ada keinginan untuk menikah lagi. Tapi, jika kamu memang ingin Umi Salamah jadi ibumu…” Ustadz Aziz menjeda, menarik napas sejenak. Suaranya parau. “Nikahi saja anaknya.” Zayn terperanjat, tubuhnya menegang. Ia menggeleng cepat. “Ah, tidak, Ayah. Anak Umi Salamah itu… terlalu jauh dari dunia kita. Dia terlalu modern. Jelas saya bukan tipenya.” "Terlalu modern bagaimana? Bukannya dulu dia terlihat santun saat ikut Umi Salamah ke sini waktu kecil?" tanya Ayahnya. Zayn mendengus halus, ingatan samar dari beberapa bulan lalu menyeruak. "Santun dari mana, Yah? Pakaiannya saja ketat, celana robek-robek. Auratnya diumbar. Saya pernah lihat sekilas saat di supermarket. Rasanya... dia." Ustadz Aziz mengerutkan dahi. "Jangan-jangan kamu salah orang, Zayn. Bukankah kalian belum pernah jumpa lagi semenjak kamu sekolah di luar negeri?" "Entahlah, Ayah. Mungkin memang Zayn salah lihat." Zayn buru-buru mengalihkan pembicaraan, tersipu malu karena ketahuan mengamati putri orang, apalagi membicarakan penampilannya. "Hus, kenapa jadi bahas dia? Tadi Zayn sedang membahas Ayah dan Umi Salamah." Ayahnya hanya tertawa pelan, tawa yang kemudian diselingi batuk-batuk kecil yang kering. Batuk itu—tawa dan kelelahan yang berpadu—terdengar seperti janji sekaligus peringatan yang menggantung di benak Zayn. Di kediaman Umi Salamah, suasana terasa jauh berbeda. Rumah itu besar, modern, dan penuh dengan warna-warna berani yang mencolok. Di ruang keluarga yang mewah, duduklah Juleha. Juleha. Gadis yang menjadi objek penolakan Zayn. Ia mewarisi wajah cantik ibunya, namun Juleha tampak bertekad keras untuk menyembunyikan sisi keanggunan itu di balik sikap urakan dan keras kepala. Jari-jarinya dengan cepat memencet tombol remote televisi, menunjukkan kebosanan yang akut, tanda ia merasa terperangkap dalam sangkar emas. "Juleha! Matikan TV itu! Sudah Umi bilang, jangan gonta-ganti saluran seperti itu! Umi pusing melihatnya!" tegur Umi Salamah dari ambang pintu dapur, tangannya memegang sepiring kue bikang. Juleha memutar mata, tetapi ekspresinya berubah dalam sekejap mata begitu melihat ibunya mendekat—manis, penurut, dan sedikit manja. Ini adalah permainan peran yang harus ia mainkan setiap hari. "Maaf, Umi. Jule hanya sedang mencari channel yang bagus. Umi tahu, tontonan di sini membosankan sekali," rengeknya, bangkit dan memeluk pinggang Umi Salamah dengan mesra. "Kue bikangnya buat siapa, Mi? Juleha mau sedikit!" "Bukan, Nak. Ini untuk Zayn. Dia mau datang sebentar, mengurus infak pesantren," kata Umi Salamah, tersenyum bangga. Juleha seketika melepaskan pelukan. Nama itu terasa asing dan kolot di telinganya. "Zayn... Eum oh, anak Ustadz Aziz ya, Umi? Yang kurus dan ingusan dulu itu? Hahaha," tanyanya, diselipi tawa mengejek. "Hush, Juleha! Jangan berkata begitu! Zayn itu anak baik, alim. Dia sudah Umi anggap seperti anak sendiri," Umi Salamah membelai rambut putrinya. "Lagipula, sekarang dia sangat tampan. Sudah dewasa." "Bukannya dia sekolah di luar, Mi? Sudah balik?" tanya Juleha, tidak tahu. Hatinya mencibir. Tampan? Apalah arti tampan jika hidupnya hanya berkisar di antara kitab kuning dan kaku tanpa kebebasan. "Iya, sudah lama balik. Katanya, ia yang akan menggantikan ayahnya mengurus pesantren," jelas Umi Salamah. ... Beberapa saat kemudian. Sebuah pesan masuk di ponselnya. "Ready, Leah? Club malam ini temanya Neon." Pesan itu membuatnya sumringah. Inilah waktu yang tepat untuk pertunjukannya. Ia segera mengenakan jilbab modern yang longgar dan tetap stylish saat akan keluar rumah. Penampilannya seketika berubah menjadi gadis yang santun. "Juleha pergi dulu, Umi. Ada tugas kuliah kelompok di kafe dekat kampus," pamit Juleha dengan nada paling sopan, mencium punggung tangan ibunya dengan khidmat. "Hati-hati, Nak. Jangan lupa shalat magrib di sana," pesan Umi Salamah. "Iya, Umi." Begitu mobilnya meninggalkan gerbang kompleks, senyum manis Juleha lenyap, digantikan seringai lega.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
219.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
191.5K
bc

TERNODA

read
200.3K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
18.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
78.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook