1. Mulai Tidak Beres
"Maaf, Raya. Tadi aku tidak bisa mengangkat teleponmu karena sedang rapat dengan kolega. Soal nanti malam, aku belum tahu bisa datang atau tidak karena pekerjaanku sedang padat sekali."
Raya menatap layar ponselnya dengan da-da yang mulai terasa sesak. Ini bukan pertama kalinya. Sudah tak terhitung berapa kali Bayu mengabaikan panggilannya dan membalas dengan alasan klise yang sama. Perubahan sikap ini terasa begitu janggal dan mendadak. Padahal, selama ini Bayu selalu menempatkan Raya sebagai prioritas utamanya, menjadikannya ratu yang selalu didahulukan di atas urusan apa pun. Namun kini, status tunangan seolah tidak lagi memiliki arti di mata pria itu.
Tidak ada lagi panggilan 'Sayang' yang biasa ia dengar, melainkan langsung menyebut namanya dengan kaku: 'Raya'. Logikanya mencoba menepis dengan berasumsi bahwa dirinya mungkin hanya sedang berlebihan dan terlalu sensitif. Namun, intuisi perempuannya tidak bisa berbohong—ini terlalu aneh untuk diabaikan.
Menahan gejolak di dadanya, Raya mengetikkan balasan di ruang obrolan dengan kontak bernama 'Mas Bayu' itu. Jarinya bergerak cepat, mencoba mencairkan suasana yang membeku.
"Mas, nanti sore telepon aku, ya? Aku kangen banget," tulisnya, lengkap dengan selipan emotikon pipi merona yang manja.
Belum sempat ia menanti balasan, sebuah ketukan di pintu kubikal membuyarkan lamunannya. Inge, rekan kerjanya, menyembulkan kepala. "Raya, lo sudah ditunggu sama Bu Clara di ruang rapat."
Raya tersentak kecil, lalu buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. "Oh, oke, Nge. Gue menyusul sebentar lagi."
Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengesampingkan kecemasannya sebelum melangkah keluar. Pekerjaannya sebagai desainer interior menuntut fokus penuh, meski pikirannya saat ini tertinggal pada satu nama yang kian hari kian terasa asing.
Malam berikutnya, yang dinanti Raya akhirnya tiba. Bayu mengirimkan pesan singkat, mengajaknya bertemu di sebuah restoran kasual di pusat kota. Tidak menjemput Raya ke rumah seperti adatnya selama ini, Bayu langsung membagikan lokasi tempat mereka bertemu dengan alasan efisiensi waktu karena ia berangkat dari kantor.
Bagi Raya yang sudah kepalang rindu, hal itu sama sekali bukan masalah. Ia bahkan menghabiskan waktu dua jam untuk bersiap, memilih OOTD terbaik, dan memulas riasan wajah dengan maksimal agar tampil sempurna di depan tunangannya.
Namun, suasana hangat langsung menguap begitu ia tiba di meja restoran. Bayu duduk dengan tegap, tatapannya kosong dan datar, dan tidak ada binar bahagia sedikit pun saat melihat penampilan luar biasa Raya.
"Ada apa, Mas? Tiba-tiba ajak ketemu di sini, nggak jemput dulu lagi," tanyanya sembari memberikan pelukan hangat seperti biasa namun Bayu hanya bersikap datar, tak ada tepukan atau usapan lembut di punggungnya sebagai balasan Bayu. Raya meletakkan tasnya dengan hati bertanya-tanya.
Bayu menghela nafas membuat perasaan Raya semakin ganjil, menatap lurus ke netra Raya tanpa senyuman. "Raya, kita tidak bisa melanjutkan rencana kita. Hubungan kita sampai di sini aja. Kita batal nikah."
Raya tertawa hambar, mengira itu hanya lelucon buruk. "Mas, jangan bercanda. Baju pengantinku hampir jadi."
"Aku serius. Bulan depan, aku akan menikah dengan Fika," potong Bayu cepat, tanpa keraguan.
Nama itu seketika menghantam ingatan Raya. Fika. Rekan kerja junior Bayu di kantor. Otak Raya langsung memutar kembali memori beberapa bulan lalu saat mereka tidak sengaja berpapasan dengan wanita itu. Saat itu, sikap Bayu mendadak canggung dan serba salah, seolah sedang menjaga mati-matian perasaan Fika yang menatapnya dengan cemberut.
Da-da Raya bergemuruh liar, jadi teka-teki tentang sikap dingin, aksi ghosting, dan seribu alasan sibuk yang diterimanya selama tiga-empat minggu terakhir akhirnya terjawab dengan gamblang. Alasan pria itu berubah bukan karena tumpukan pekerjaan, melainkan karena ada wanita lain yang sedang mengalihkan dunianya.
"Fika?" suaranya bergetar, menahan kombinasi rasa syok dan terhina yang luar biasa. "Jadi ini alasan kamu menghilang dan anggap aku nggak ada selama berminggu-minggu, Mas? Kamu selingkuh di belakangku?"
"Maafkan aku, Raya. Aku tidak bisa meneruskan hubungan ini, kamu bisa mendapatkan yang lebih baik dariku."
"Lalu, apa kata Tante Astrid dan Om Pras tentang gagalnya rencana kita, Mas? Mereka setuju kamu menikah dengan Fika?"
"Papa dan Mama sudah tahu. Mereka setuju karena Fika sekarang sedang hamil anakku, Raya. Aku harus bertanggung jawab."
Bayu mengalihkan pandangan, enggan menatap hancurnya netra Raya. Di antara rasa bersalah dan hatinya yang terlanjur tertambat sepenuhnya pada Fika, ia bangkit berdiri lalu melangkah pergi meninggalkan luka.
Sadar Bayu pergi, Raya langsung mengejar pria itu yang hendak masuk ke dalam lift.
"Mas, jangan begini. Kamu bercanda, kan? Kita sudah bersama hampir tiga tahun dan saling mengenal keluarga masing-masing," isak Raya sambil mencengkeram lengan Bayu, tidak memedulikan lagi tatapan orang-orang di sekitar mereka.
"Lepaskan, Raya. Ini kenyataan. Hubungan kita sudah selesai, jadi tolong jangan buat keributan di sini dan biarkan aku pergi," sahut Bayu sambil menghentak pelan lengannya.
Raya menarik kasar lengan Bayu menuju sudut yang sepi untuk menuntut kejelasan.
"Tunggu, ini belum selesai! Sekarang aku tanya, apa yang membuatmu selingkuh di belakangku? Apa karena aku tidak mau ditiduri sebelum sah? Apa karena rangsangan gesekan tanpa pe-ne-tra-si masih kamu rasa kurang?" geramnya tertahan, menepis segala urat malu demi meluapkan tanya di da-da. "Jawab aku, Bayu!!"
Wajah Bayu merah padam mendengar ucapan blak-blakan Raya. "Jaga bicaramu, Raya! Fika memberikan apa yang tidak bisa kamu berikan, dia seutuhnya milikku. Jadi berhenti bersikap menyedihkan seperti ini!"
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Bayu hingga wajah pria itu ke samping. Napas Raya memburu, menatap jijik sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi dengan kepala tegak, meninggalkan Bayu yang terpaku memegangi pipinya yang memanas.
Raya bergegas naik ke lift sebelahnya dan menuju parkiran basement di mana mobilnya berada, dengan langkah terseok-seok dan pandangan mata yang mengabur oleh air mata yang membanjiri. Tangisnya tertahan oleh isakan yang sesak, Raya langsung masuk ke mobilnya. Tempat yang paling aman dari tatapan mata orang lalu lalang.
Raya meraih ponselnya dengan tangan bergetar untuk men-dial calon ibu mertuamya 'Tante Astrid'
"Halo, Tante. Ini Raya. Maaf mengganggu malam-malam. Raya baru saja bertemu Mas Bayu, dan dia bilang... rencana pernikahan kami batal karena dia mau menikah dengan Fika. Apa Tante dan Om benar-benar sudah tahu dan menyetujuinya?"
"Raya... Tante minta maaf yang sebesar-besarnya. Tante tahu ini tidak adil untuk kamu, tapi posisi Tante serba salah. Perempuan itu mendatangi rumah kami sambil menangis dan membawa bukti kehamilannya. Tante tidak punya pilihan selain meminta Bayu bertanggung jawab demi janin yang tidak berdosa itu. Tolong ikhlaskan Bayu ya, Nak..."
Raya tak menjawab hanya terdengar isakan dan hembusan nafas yang bisa didengar dari seberang dan lalu mematikan panggilan dengan mantan mertuanya.