01. Unit 222 Deasung Flats
Suara benda pecah menghantam lantai, membangunkan Kang Min Jae sebelum alarm di ponselnya sempat berbunyi.
Brak!
"Sudah kubilang jangan terlalu cepat menghabiskan uang! Jangan terlalu boros. Kita ini bukan orang kaya." Teriak seorang pria dari unit sebelah.
"Aku sudah berusaha sehemat mungkin. Lagipula selama ini, aku yang selalu memutar otak agar uang yang sedikit itu bisa cukup. Kau juga sering pulang malam sekarang." Sahut suara wanita, istrinya.
"Aku terpaksa harus kerja lembur. Aku melakukannya, agar kebutuhan kita tercukupi. Lagian, kalau aku nggak lembur, kita mau makan apa nanti? Makan tanah!"
Min Jae membuka matanya, menatap langit-langit kamar yang dipenuhi retakan tipis dan bekas air hujan yang merembes. Selama beberapa detik, ia hanya berbaring diam. Mendengarkan pertengkaran seperti itu dari unit sebelah yang sudah menjadi rutinitas sehari-harinya.
Daesung Flat selalu penuh dengan kebisingan. Tempat ini adalah bangunan apartemen tua berlantai tiga dengan harga sewa yang relatif murah.
Jika bukan suara pasangan suami istri di unit 224 yang tadi sering bertengkar, telinganya akan dipaksa mendengar suara televisi tetangga lain yang volumenya terdengar begitu keras. Atau... suara langkah-langkah kaki dari arah tangga.
Min Jae tinggal di lantai dua di unit 222. Semua aktivitas dari tangga dan lantai dua, selalu bisa terdengar jelas olehnya.
Min Jae mengusap wajahnya, lalu meraih ponselnya di dekat bantal.
07:13 AM.
Layar ponselnya penuh dengan sampah digital. Promo makanan yang tak mampu ia beli, iklan pinjaman online yang menggiurkan tapi mematikan, dan satu baris kalimat dari sebuah email yang sudah ia hafal.
We regret to inform you...
Min Jae menghapusnya tanpa perlu membaca baris kedua. Sudah cukup banyak penolakan kerja yang ia dapatkan setiap harinya. Bahkan, di hari ini. Padahal matahari pun belum benar-benar naik dengan sempurna.
Ia duduk di tepi kasur, kakinya menyentuh lantai yang dingin. Kamar itu terasa pengap. Bungkus mi instan kosong tergeletak di meja kecil, bersanding dengan kaleng kopi yang masih menyisakan isinya setengah.
Tumpukan pakaian-pakaian kotor yang belum dicuci, memenuhi sudut ruangan apartemennya. Menambah kesan suram di ruangan yang hanya punya satu jendela kecil tersebut.
Min Jae menatap pantulannya di jendela yang berdebu, lalu tertawa getir. "Benar-benar menyedihkan sekali hidupku ini."
Setelah memaksakan diri untuk mandi, Min Jae duduk di depan laptopnya dengan rambut yang masih sedikit basah. Situs lowongan kerja terbuka, tapi kursornya hanya bergerak tanpa arah di layar.
Customer Service. Sales Assistant. Office Staff.
Semuanya menuntut hal yang tidak ia miliki—pengalaman bertahun-tahun atau ijazah dari universitas ternama.
"Kalau semua pekerjaan butuh pengalaman. Lalu, orang sepertiku harus mulai dari mana?" gumamnya pelan.
Hari itu berjalan lambat seperti biasanya.
Min Jae menghabiskan siangnya dengan menyusuri Haensul City. Ia mendatangi restoran, minimarket, hingga kafe kecil di dekat stasiun.
Hasilnya selalu sama—senyum sopan yang dipaksakan, tatapan menilai dari atas ke bawah, dan kalimat klise yang menjadi penutup setiap pertemuan.
"Kami akan menghubungi Anda nanti."
---
Menjelang malam, Min Jae berdiri di depan kaca sebuah toko, menatap bayangannya sendiri yang tampak kusam.
Di sekitarnya orang-orang berlalu lalang dengan tujuan masing-masing. Min Jae hanya berdiri diam—satu-satunya orang yang tidak tahu harus ke mana.
Perutnya berbunyi. Menuntut sesuatu untuk dimakan. Ia masuk ke minimarket, mengambil satu roti murah. Hanya itu yang sanggup ia bayar dari sisa uang di dompetnya.
Setelah membayar, ia berdiri sejenak di depan pintu minimarket. Menghitung koin yang masih tersisa. Besok, ia harus segera menemukan cara lain untuk mendapatkan uang. Jika tidak, ia tidak akan sanggup membayar sewa apartemennya bulan depan.
Min Jae mengembuskan napas panjang, lalu berjalan pulang. Daesung Flat terletak beberapa blok dari jalan utama, melewati gang-gang sempit yang cukup gelap.
Semakin jauh ia berjalan melewati gang, gerimis mulai turun. Min Jae mempercepat langkahnya, memasukkan tangan ke saku jaketnya. Gang menuju apartemennya terlihat lebih gelap dari biasanya. Lampu jalan di ujung gang sudah lama padam, tanpa pernah ada yang memperbaikinya.
Langkahnya melambat ketika ia melihat seorang nenek yang duduk bersandar di pagar besi tua yang berkarat.
Tubuhnya cukup kecil, terbungkus mantel lusuh berwarna gelap. Rambut putih panjangnya tampak begitu lepek terkena air hujan. Kepalanya tertunduk, menyembunyikan separuh wajahnya.
Min Jae memperhatikannya. Nenek itu perlahan mengangkat wajahnya. Tatapan mereka saling bertemu untuk beberapa saat. Bulu kuduk Min Jae sedikit meremang.
"Nak... aku lapar. Apa kau punya makanan?" suara nenek itu terdengar serak.
Min Jae terdiam. Ia meremas plastik roti di tangannya. Roti itu adalah satu-satunya miliknya untuk bertahan hingga besok pagi.
Nenek itu terus meringis memegangi perutnya. Min Jae mengusap wajahnya yang basah karena gerimis, lalu mendesah pendek.
"Sepertinya, aku memang sedang sial hari ini."
Ia melangkah mendekati sang nenek, lalu menyerahkan roti itu tanpa banyak bicara.
"Ambil ini. Makanlah."
Nenek itu menerima roti tersebut dengan tangannya yang keriput dan dingin. Ia terus menatap Min Jae dengan tatapan yang penuh arti.
"Kenapa?" tanya Min Jae, mulai merasa tidak nyaman ditatap seperti itu.
Senyum nenek itu melebar, menampakkan deretan giginya yang cukup rapi. "Kamu orang baik. Aku akan memberikan sesuatu yang mahal untukmu."
"Hah? Apa maksud..."
Belum sempat Min Jae menyelesaikan kalimatnya, tangan sang nenek mencengkeram kerah jaket Min Jae, menariknya dengan kekuatan yang tidak masuk akal untuk orang seusianya.
"T-Tunggu... apa yang..."
Cup.
Bibir dingin sang nenek menyentuh bibir Min Jae selama beberapa detik.
Min Jae terdiam. Otaknya mati rasa. Lalu secara refleks mendorong tubuh sang nenek hingga terlepas.
Min Jae mundur beberapa langkah. Punggungnya menabrak dinding. Ia mengusap bibirnya berulang kali—mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
"Apa... apa yang baru saja kau perbuat?" Ekspresi jijik dan marah terpancar jelas di wajahnya. "Nenek benar-benar tidak waras!"
Nenek itu tertawa kecil. Suara tawanya bergema di antara dinding-dinding gang yang sempit.
Min Jae mulai merasakan panas yang menyengat, menjalar dari bibirnya.
"Arghh!" ia refleks memegangi mulutnya.
Rasanya seperti ada cairan mendidih yang dipaksakan masuk ke tenggorokannya, lalu merayap menuju pita suaranya.
Min Jae terbatuk-batuk, tubuhnya limbung hingga ia harus bersandar pada dinding gang.
"Sialan. Apa yang sebenarnya nenek lakukan denganku?!"
Rasa terbakar itu semakin menguat selama beberapa detik-membuatnya sesak napas. Sebelum akhirnya, menghilang secara mendadak, meninggalkan sensasi dingin yang aneh di lidahnya.
Min Jae mengangkat kepalanya dengan napas tersengal.
"Nek..." Kalimatnya terputus.
Gang itu sudah kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana. Min Jae melirik ke seluruh sudut gang, mencoba mencari sosok si nenek. Nenek itu benar-benar menghilang begitu saja tanpa jejak.
Min Jae berdiri, jantungnya berdetak kencang. Dadanya masih terasa sesak. Ia ingin melangkah pergi dari sana.
Sebuah suara berbisik tepat di telinganya.
"Pergunakanlah dengan bijak."
Min Jae berlari sekuat tenaga.